Antusiasme Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY Belajar via Diskusi Film

Suara Muhammadiyah

8 November 2024

1337
Doc. Istimewa

Doc. Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah- Mengulik film selalu menjadi sebuah hal yang menarik. Selain dimaknai sebagai karya seni, film juga selalu menyimpan cerita menarik dibalik prosesnya. Hal ini yang dibahas pada acara screening dan diskusi film Banyak Ayam Banyak Rejeki (BABR) yang bertempat di Gedung Ibrahim Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (7/11). BABR merupakan film berjenis dokumenter etnofiksi karya Dr Dag Yngvesson dan Dr Koes Yuliadi, dengan pemeran utama yakni Dr KRT Akhir Lusono, S Sn, MM. 

Kegiatan yang diadakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UMY ini disambut antusias oleh mahasiswa, khususnya yang mengikuti mata kuliah sinematografi.

Kepala Prodi Ilmu Komunikasi UMY, Dr Fajar Junaedi, S Sos, MSi, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk mendukung pembelajaran mahasiswa. "Prodi ilmu komunikasi menjembatani teman-teman mahasiswa untuk belajar dari berbagai hal. Semoga dari kegiatan hari ini, teman-teman bisa belajar lebih banyak untuk menunjang tugas akhir di kuliah sinematografi," ujarnya. 

Screening dan Diskusi Film Banyak Ayam Banyak Rejeki. (Doc. Istimewa)

Secara garis besar, Banyak Ayam Banyak Rejeki (BABR) merupakan film dokumenter yang menceritakan kisah hidup Arjun, seorang laki-laki yang memiliki empat orang istri. Film yang digarap sejak 2009 ini rampung dan dirilis secara resmi di Festival Film Dokumenter (FFD) pada tahun 2021 lalu. Meski membutuhkan waktu produksi sekitar 11 tahun, namun film BABR tetap memerhatikan perkembangan isu yang ada di setiap tahunnya. 

BABR dengan apik mengemas karya dokumenter dengan tambahan bumbu-bumbu komedi satir. Film ini juga menjelaskan kenyataan hidup seseorang dengan membaginya menjadi beberapa bab, mulai dari latar belakang karakter Arjun, hingga proses dirinya 'menemukan' setiap istrinya. 

Melalui kegiatan ini, mahasiswa mengetahui sebuah genre baru dalam film yakni dokumenter etnofiksi. Genre ini merupakan gabungan dari kata etnografi dan fiksi yang dalam film dijelaskan sebagai perpaduan antara dokumenter dengan cerita yang terstruktur sehingga membangun realitas yang lebih nyata.

Berkaca dari antusiasme tersebut, Dr Koes optimis para mahasiswa mampu membuat karya serupa, bahkan lebih bagus lagi. "Saya yakin teman-teman UMY bisa membuat film dengan gayanya sendiri," yakinnya.

Di akhir kegiatan, Dr Dag juga memberikan semangat untuk mahasiwa Ilmu Komunikasi UMY yang akan melaksanakan produksi film dari mata kuliah pengantar sinematografi. "Alat-alat sekarang lebih murah, accessible, dan kualitasnya lebih bagus daripada waktu kami produksi. Jadi, kalian tidak punya alasan untuk tidak membuat film yang bagus," tutupnya. (Lil/Kiky)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

GRESIK, Suara Muhammadiyah - Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur meng....

Suara Muhammadiyah

16 February 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpi....

Suara Muhammadiyah

23 October 2025

Berita

REMBANG, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr H Haedar Nashir, MSi me....

Suara Muhammadiyah

12 August 2024

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jatinom resmi menunjuk dr. Afi....

Suara Muhammadiyah

23 July 2026

Berita

TEMANGGUNG, Suara Muhammadiyah - Majunya sebuah madrasah atau sekolah, menjadi sebuah harapan bagi s....

Suara Muhammadiyah

22 November 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah