PURBALINGGA, Suara Muhammadiyah – Penguatan ekonomi Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan membangun lembaga keuangan dan memperbesar aset. Diperlukan literasi yang kuat agar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu membaca peluang, memahami data, serta mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Semangat inilah yang mendorong Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) se-Jawa Tengah menjadikan literasi UMKM sebagai salah satu agenda pengembangan gerakan ekonomi persyarikatan.
BTM se-Jawa Tengah tercatat memiliki aset mencapai Rp1,2 triliun. Jaringan kelembagaan ini tersebar di 90 kantor cabang yang berada di 16 kabupaten/kota, dengan dukungan sekitar 900 karyawan.
Khafid Sirojudin mengatakan besarnya capaian tersebut menunjukkan skala gerakan ekonomi Muhammadiyah yang terus berkembang. Namun, keberlanjutan gerakan tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset dan luasnya jaringan, tetapi juga oleh kemampuan lembaga dalam meningkatkan pengetahuan, memperkuat tata kelola, dan mendampingi UMKM agar semakin mandiri.
Dalam konteks tersebut, literasi UMKM dipandang sebagai bagian penting dari upaya memperkuat peran UMKM. Literasi tidak sekadar dimaknai sebagai kemampuan membaca, tetapi juga kecakapan memahami dan menggunakan data serta fakta sebagai dasar untuk mengembangkan usaha.
Melalui pendekatan ini, pelaku UMKM diharapkan mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat, mengenali potensi usaha, membaca perubahan pasar, serta menyusun langkah pengembangan yang lebih terukur.
Sumber literasi, sebagaimana dipaparkan Khafid, dapat diperoleh melalui dua jalur. Pertama, melalui manuskrip, kitab, dan berbagai sumber tertulis yang menyediakan pengetahuan. Kedua, melalui pengamatan dan pengalaman langsung yang membantu seseorang memahami kenyataan di lapangan.
Kedua sumber tersebut penting untuk membangun pemahaman yang utuh. Pengetahuan tertulis memberikan landasan konseptual, sedangkan pengamatan dan pengalaman membantu menguji serta menerapkan pengetahuan sesuai dengan kebutuhan nyata pelaku usaha.
Syafruddin Anhar, Wakil Ketua LP UMKM PP Muhammadiyah mengatakan, agenda literasi UMKM ini juga diarahkan untuk mendorong 19 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) di Jawa Tengah memperkuat gerakan ekonomi melalui pendirian BTM. Dengan demikian, BTM tidak hanya menjadi lembaga layanan keuangan, tetapi juga instrumen pemberdayaan ekonomi umat di tingkat daerah melalui UMKM.
Setelah 31 tahun perjalanan BTM, penguatan literasi menjadi salah satu kebutuhan untuk menghadapi tantangan ke depan. Perubahan lingkungan usaha, perkembangan teknologi, dan dinamika kebutuhan masyarakat menuntut lembaga ekonomi Muhammadiyah terus belajar dan beradaptasi.
Dengan ini BTM diharapkan mampu memperluas manfaat bagi UMKM sekaligus meneguhkan peran Muhammadiyah dalam membangun kemandirian ekonomi di akar rumput. Semangat tajdid pun tidak berhenti pada pembaruan pemikiran dan dakwah, tetapi juga diwujudkan melalui inovasi serta penguatan praktik ekonomi yang berkelanjutan. (diko)

