Ashabul Kahfi (4-Habis): Melampaui Batas Sejarah, Menuju Kedalaman Eksistensial

Publish

9 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
54
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ashabul Kahfi (4-Habis): Melampaui Batas Sejarah, Menuju Kedalaman Eksistensial

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Kisah Ashabul Kahfi atau para Penghuni Gua bukan sekadar dongeng pengantar tidur dalam tradisi Islam. Ia adalah sebuah narasi besar yang menuntut kita untuk bertanya lebih dalam: Apakah tujuan utama Tuhan menyampaikan kisah ini adalah untuk memvalidasi setiap detail kronologis sejarahnya? Ataukah, sebenarnya ada pesan moral dan nilai-nilai eksistensial yang jauh lebih besar yang ingin dipatrikan Tuhan ke dalam sanubari manusia? Pertanyaan ini menjadi pintu masuk yang krusial untuk memahami bagaimana Al-Qur'an berinteraksi dengan audiensnya.

Titik tolak diskusi kita dimulai pada Surah Al-Kahfi ayat 10: "(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.'"

Penyematan kata "Ingatlah" oleh para penerjemah seperti Dr. Mustafa Khattab bukanlah tanpa alasan teknis yang mendalam. Secara linguistik, ayat ini dimulai dengan struktur yang dalam tradisi tafsir klasik—seperti yang dipaparkan oleh Jalal al-Din al-Suyuti dan Jalaluddin al-Mahalli dalam Tafsir al-Jalalayn—merupakan kependekan dari akar kata Dzikr. Maknanya bisa berarti "sebutkanlah," "ingatlah," atau yang paling menarik adalah "hadirkanlah dalam pikiran" (bring to mind).

Hal ini memicu sebuah teka-teki intelektual: Bagaimana mungkin Nabi Muhammad saw. diminta untuk "mengingat" sebuah peristiwa yang terjadi berabad-abad sebelum kelahirannya? Secara empiris, beliau tidak menyaksikan pelarian para pemuda itu ke dalam gua. Namun, jika kita memandang Al-Qur'an sebagai sebuah dialog interaktif, perintah ini menjadi sangat masuk akal. Tuhan sedang mengajak Nabi dan kita semua untuk memanggil kembali narasi yang sudah beredar di masyarakat saat itu, lalu merenungkannya kembali dengan kacamata wahyu. Ini bukan sekadar memanggil data sejarah, melainkan menghadirkan "kesadaran" akan peristiwa tersebut.

Al-Qur'an Bukanlah Buku Sejarah Konvensional

Sering kali, pembaca modern terjebak dalam ekspektasi bahwa Al-Qur'an harus berfungsi seperti buku teks sejarah yang kaku, lengkap dengan koordinat GPS gua, tanggal pasti peristiwa, dan nama-nama anggota pemuda tersebut. Namun, Al-Qur'an memiliki metodologi yang berbeda. Ia tidak bermaksud menarasikan sejarah secara kronologis-positivistik. Sebaliknya, Al-Qur'an memberikan "wawasan terpilih."

Memang ada elemen sejarah inti yang ditegaskan, terutama pada ayat ke-13 hingga 16, di mana Allah menyatakan, "Kami ceritakan kepadamu kisah mereka dengan sebenarnya." Namun, perhatikan apa yang terjadi pada ayat ke-17. Fokus pembicaraan tiba-tiba bergeser pada fenomena alam dan persepsi publik: "Engkau akan melihat matahari ketika terbit, miring dari gua mereka ke sebelah kanan..."

Di sini, Al-Qur'an tampak sedang berdialog dengan apa yang dibicarakan masyarakat pada masa itu. Orang-orang Arab dan ahli kitab saat itu sudah memiliki versi cerita mereka sendiri. Al-Qur'an tidak menghabiskan energi untuk mengonfirmasi detail teknis—seperti berapa meter kedalaman gua atau apa jenis anjing yang menjaga mereka—tetapi ia mengonfirmasi substansi spiritualnya. Substansi itu adalah: ada sekelompok pemuda yang memilih iman di tengah tirani, yang berdiri tegak dan berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi," lalu Tuhan meneguhkan hati mereka. Bagi Al-Qur'an, rincian teknis sejarah adalah "kulit," sedangkan keteguhan tauhid adalah "isi."

Sebuah kritik muncul: Mengapa Al-Qur'an tidak langsung saja to-the-point? Mengapa tidak langsung berkata, "Dengar, detail cerita ini tidak penting, yang penting adalah ambil pelajarannya"? Bukankah itu lebih efisien?

Jawabannya terletak pada keindahan retorika ilahi dan psikologi manusia. Kita tidak bisa mendikte bagaimana Tuhan—Sang Pemilik Kebijaksanaan Tertinggi—menyampaikan pesan-Nya. Bahkan jika kita melihat pada karya sastra manusia, setiap penulis memiliki gaya dan genre yang unik. Sebuah pesan moral yang disampaikan lewat instruksi kaku akan terasa kering dan mudah dilupakan. Namun, sebuah pesan yang dibungkus dalam narasi yang menggugah akan hidup selamanya.

Bayangkan jika Al-Qur'an hanya berisi daftar perintah dan larangan tanpa narasi. Ia mungkin akan menjadi kitab hukum yang dingin. Namun, karena Al-Qur'an menggunakan cerita, ia mampu menggetarkan emosi, memicu imajinasi, dan menjadi batu penjuru iman bagi seperempat populasi dunia. Cerita memiliki kekuatan untuk "mencengkeram" hati dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh diktat formal.

Perspektif Zaman: Dari Hasta ke Metafora

Kita juga harus sadar akan bias sejarah. Masyarakat modern sangat terobsesi dengan presisi: tanggal, detik, milimeter. Namun, audiens awal Al-Qur'an hidup dalam dunia di mana waktu dan ukuran bersifat relatif. Mereka mengukur jarak dengan shibr (jengkal) atau dhirae (hasta). Karena panjang lengan setiap orang berbeda, ukuran tersebut lebih merupakan pendekatan daripada kepastian absolut.

Dalam budaya pra-literasi yang kental dengan tradisi lisan, cerita adalah media komunikasi utama. Jika Al-Qur'an datang dengan mengabaikan cerita-cerita yang sudah akrab di telinga masyarakat, maka ia akan terasa asing dan sulit diterima. Al-Qur'an dengan cerdas "menjahit" wahyu-Nya ke dalam kain realitas sosial yang sudah ada.

Sarjana Jerman, Angelika Neuwirth, menawarkan kerangka kerja yang sangat brilian untuk memahami fenomena ini melalui tiga tahap. 

Pertama, staging (Pementasan): Al-Qur'an menggunakan panggung yang sudah ada. Ia mengambil cerita yang sudah populer di kalangan masyarakat—dalam hal ini kisah "The Seven Sleepers"—sebagai titik awal dialog.

Kedua, penetrating (Penetrasi): Al-Qur'an kemudian masuk lebih dalam. Ia tidak hanya mengulang cerita, tetapi memberikan wawasan baru. Ia mengoreksi motivasi para pemuda tersebut, memfokuskan kembali doa-doa mereka, dan menonjolkan aspek ketuhanan yang mungkin terdistorsi dalam versi sebelumnya.

Ketiga, eclipsing (Pelenyapan): Pada akhirnya, narasi Al-Qur'an yang sangat kuat, puitis, dan sarat makna spiritual ini "melenyapkan" atau melampaui versi-versi lama. Bagi umat Islam hari ini, versi Al-Qur'an bukan sekadar salah satu versi sejarah; ia adalah satu-satunya versi yang relevan karena ia telah berhasil mereduksi kebisingan detail yang tidak perlu dan menyisakan cahaya hikmah yang abadi.

Metode Al-Qur'an dalam mengisahkan Ashabul Kahfi adalah sebuah kecanggihan sastra dan teologis yang luar biasa. Ia tidak menolak sejarah, namun ia menolak untuk diperbudak oleh rincian sejarah yang tidak menambah keimanan. Ia menggunakan cerita untuk merengkuh audiensnya, masuk ke dalam kesadaran mereka, dan akhirnya memberikan pemurnian pada kisah tersebut.

Pada akhirnya, yang ingin Tuhan sampaikan bukanlah tentang berapa lama mereka tidur, melainkan tentang bagaimana rahmat Allah selalu menyertai mereka yang berani melangkah di jalan kebenaran. Versi Al-Qur'an bertahan bukan karena ia memberikan data paling lengkap bagi para sejarawan, melainkan karena ia memberikan harapan paling nyata bagi setiap jiwa yang sedang mencari "gua" perlindungan di tengah hiruk-pikuk dunia.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Najihus Salam Kader IMM Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Al-Qur’an sebagai Petunjuk dalam....

Suara Muhammadiyah

17 January 2024

Wawasan

Menelaah Gerakan Ilmu dalam Gerakan Islam Berkemajuan  Oleh: Sutopo Ibnoris, PC IMM AR Fakhrud....

Suara Muhammadiyah

8 May 2024

Wawasan

Fenomena Sosial Disosiatif di Indonesia Oleh: Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak/ Sekretaris LPP P....

Suara Muhammadiyah

16 January 2025

Wawasan

Refleksi Sebuah Gerakan Dakwah di Akar Rumput Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon, Pedan,....

Suara Muhammadiyah

24 January 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Tulisan ini terkait dengan baga....

Suara Muhammadiyah

5 February 2024