KUDUS, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) kembali meneguhkan komitmennya dalam membangun karakter dan kaderisasi mahasiswa melalui Baitul Arqam Mahasiswa (BAM) Pesantren Mahasiswa (Pesma) UMKU Gelombang 7. Kegiatan yang berlangsung secara luring pada 4–5 Agustus 2026 di Ruang Serbaguna UMKU, Jalan Ganesha 1, Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, tersebut diikuti 79 mahasiswa dari tujuh program studi.
Ketujuh program studi tersebut meliputi Keperawatan, Teknik Laboratorium Medis, Farmasi, Akuntansi, Sistem Informasi, Teknik Industri, dan Gizi. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari proses pendidikan karakter sekaligus kaderisasi mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.
Wakil Rektor III UMKU Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Dr. Rizka Himawan, S.Psi., M.Psi., menegaskan bahwa BAM dirancang tidak hanya untuk memperkaya pengetahuan keislaman mahasiswa, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah.
“Proses kaderisasi yang dilakukan di UMKU melalui Baitul Arqam merupakan pendekatan pembelajaran agama yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor,” ujarnya.
Menurut Rizka Himawan, pendekatan tersebut penting agar mahasiswa tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan agama secara teoritis. Nilai-nilai Islam diharapkan hadir dalam cara berpikir, bersikap, berinteraksi, mengambil keputusan, hingga menjalankan profesi ketika kelak terjun ke tengah masyarakat.
BAM Gelombang 7 juga menjadi kelanjutan dari proses pembinaan mahasiswa melalui Pesantren Mahasiswa (Pesma) selama satu bulan. Rangkaian tersebut diarahkan untuk membangun fondasi karakter mahasiswa agar memiliki keseimbangan antara kompetensi akademik, kematangan spiritual, integritas moral, dan kepedulian sosial.
PTMA sebagai Ruang Kaderisasi
Kepala Biro Pengkajian Al Islam, Kemuhammadiyahan, dan Pengembangan Persyarikatan (BPAIK PP) UMKU, Dr. H. Supardi, S.E., M.Kes., menempatkan BAM dalam konteks yang lebih luas. Menurutnya, Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) bukan hanya institusi pendidikan tinggi, tetapi juga memiliki fungsi strategis sebagai ruang perkaderan Muhammadiyah.
“Urgensi pelaksanaan Baitul Arqam adalah implementasi posisi PTMA sebagai sarana perkaderan untuk mengukuhkan ideologi dan komitmen berkhidmat di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan Persyarikatan,” jelas Supardi.
Atas dasar itu, BAM Gelombang 7 mengusung tema “Membangun Generasi Islami, Profesional, Berakhlak, dan Berkemajuan.” Tema tersebut merefleksikan kebutuhan kader muda Muhammadiyah yang tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga memiliki orientasi nilai dan tanggung jawab sosial.
Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta tuntutan dunia kerja yang semakin dinamis, mahasiswa dituntut memiliki kapasitas yang lebih utuh. Kompetensi akademik perlu berjalan beriringan dengan integritas, kemampuan berorganisasi, kepemimpinan, serta komitmen untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, BAM diarahkan agar mahasiswa mampu memahami Islam secara kontekstual sekaligus menghidupkan nilai-nilai Muhammadiyah dalam kehidupan akademik, profesi, organisasi, dan masyarakat.
Salah satu penekanan penting BAM Gelombang 7 adalah keberlanjutan pascakegiatan. Supardi yang juga merupakan instruktur nasional BAM menegaskan bahwa pengetahuan yang diperoleh peserta tidak boleh berhenti setelah kegiatan berakhir.
Para peserta didorong menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, baik pada tingkat ranting, cabang, daerah, wilayah, pusat maupun di lingkungan UMKU. RTL tersebut disesuaikan dengan kompetensi, bidang kerja, serta ruang pengabdian masing-masing peserta.
Penekanan pada RTL menjadikan BAM lebih dari sekadar forum pembelajaran. Mahasiswa diarahkan untuk menerjemahkan nilai yang diperoleh menjadi aksi nyata. Dengan demikian, kaderisasi tidak berhenti pada pemahaman ideologi, tetapi bergerak menuju praksis pengabdian.
Mengintegrasikan Islam, Profesionalisme, dan Kepemimpinan
Materi BAM dirancang untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang relatif komprehensif. Peserta mendapatkan materi Mahasiswa Go Better, Hakikat Islam dan Makna Ibadah, Tuntunan Ibadah sesuai Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah, Ibadah Mahdhah dan Nafilah, Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ)/Dakwah Komunitas, Kepemimpinan dan Organisasi, Manajemen Organisasi dan Akhlak Ber-Muhammadiyah, Refleksi dan Fathul Qulub, serta Paham Agama dalam Muhammadiyah.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi outbound dan materi pendukung lainnya untuk memperkuat pengalaman belajar mahasiswa.
Keragaman materi tersebut menunjukkan bahwa kaderisasi mahasiswa diarahkan pada pembentukan pribadi yang utuh. Mahasiswa tidak hanya diajak memahami tata cara beribadah, tetapi juga memahami posisi dirinya sebagai bagian dari komunitas, organisasi, profesi, dan Persyarikatan.
Dalam perspektif tersebut, profesionalisme tidak diposisikan berlawanan dengan religiusitas. Sebaliknya, keduanya perlu dipadukan agar lahir lulusan yang kompeten sekaligus memiliki integritas dan orientasi kemaslahatan.
BAM Pesma UMKU Gelombang 7 pada akhirnya membawa pesan bahwa pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik. Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab membentuk manusia yang mampu menggunakan keilmuannya untuk memberikan manfaat.
Sebanyak 79 mahasiswa yang mengikuti BAM diharapkan menjadi bagian dari generasi muda Muhammadiyah yang mampu membawa nilai Islam berkemajuan ke berbagai ruang kehidupan—dari kampus, dunia profesi, organisasi, hingga masyarakat.
Dengan demikian, kaderisasi melalui Pesma dan BAM menjadi investasi jangka panjang bagi UMKU dan Persyarikatan Muhammadiyah. Mahasiswa dipersiapkan bukan hanya untuk menjadi tenaga profesional, tetapi juga menjadi insan berakhlak, pemimpin, dan penggerak kemajuan.
Bagi UMKU, proses tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan tinggi yang mengintegrasikan keunggulan akademik dengan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Sementara bagi Persyarikatan, mahasiswa merupakan salah satu kekuatan strategis untuk meneruskan gerakan dakwah, pendidikan, dan pengabdian di tengah perubahan zaman.
Kegiatan BAM Gelombang 7 menghadirkan para pembicara, yakni Dr. H. Rizka Himawan, S.Psi., M.Psi.; Drs. H. Zulfa Kurniawan, M.S.E.; Lukman Azam, S.Pd. dari Majelis Tabligh PDM Kudus; Noor Chandiq Kurniawan, S.Kep., Ns., M.Kep., Kepala Biro Akademik UMKU; serta Aminuddin Abdul Jabbar, S.Sos., dari Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Kudus. Adapun instruktur BAM terdiri atas Dr. H. Supardi, S.E., M.Kes.; Dr. M. Abdur Rozaq, S.Pd.I., M.Pd.I.; dan Toni Ardi Rafsanjani, M.Pd. (Supardi)

