SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Syahdan, tahun 1919, Gunung Kelud mengalami gejolak dahsyat. Peristiwa getir-pahit ini menjadi nestapa bangsa Indonesia.
"Dan itu ternyata bencana besar sampai korban 5.156 meninggal. Saat itu jumlah yang sangat besar," beber Haedar Nashir.
Jauh sebelum itu, tahun 1334, erupsi superdahsyat juga terjadi. Bersambung itu, setelah Indonesia merdeka, juga terjadi erupsi dan terakhir tahun 2014.
"Kalau dihitung itu sampai 24 kali meletus," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, Jumat (11/9) saat membuka Rapat Kerja Nasional Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) PP Muhammadiyah di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya, Ngaglik, Klidon, Sukoharjo, Sleman.
Selain itu, erupsi Gunung Merapi turut menghiasi panggung kehidupan. Terjadi tahun 2006, dan 2010, menjadi yang terbesar. Ditambah lagi dengan, gempa bumi tektonik kuat menggoyang Yogyakarta tahun 2006.
Atas pembeberan seperti itu, menjadi radiks Muhammadiyah lewat Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) terpanggil untuk bergerak merespons kebencanaan secara niscaya.
"Muhammadiyah melakukan gerak penanggulangan bencana, Gunung Kelud sebagai embrio dari lahirnya lembaga seperti ini," terangnya.
Setelah itu, tahun 1923, Muhammadiyah mendirikan RS PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) sebagai pantulan dari gerak kesehatan sosial dan kemanusiaan.
"Jadi ada erak sosial, kemanusiaan, tapi juga dilekatkan dengan gerak kesehatan," imbuhnya.
Bukti empirik di permukaan ini, menunjukkan, Indonesia tidak bisa terlepas dari ragam potensi kebencanaan. Satu sisi, panorama keindahan alam nan mempesona, sungguh tak terelakkan. Di sinilah peran Muhammadiyah lewat LRB menjadi niscaya dan sangat relevan.
"Banyak peristiwa itu bisa kita angkat sebagai sebuah data, fakta, lalu menjadi teori. Teori yang berguna nanti bagi masa depan bangsa (pengkajian kebencanaan, red)," kata Haedar, menggarisbawahi lebih lanjut.
Diakuinya, bunga rampai fenomena alam (kebencanaan) menjadi sifatnya sunnatullah. "Kadang kita belum siap secara ilmu atau pengetahuan," bebernya. Dan kesiapan itu sekonyong-konyong muncul ketika bencana datang mendera.
"Saya yakin kita bisa sepakat. Baru kita sadar bahwa kita ini banyak potensi kebencanaan yang melekat dengan alam Indonesia," tuturnya.
Yang selama ini terninabobokan dengan bentang alam nan molek sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh Eduard Douwes Dekker (Multatuli), seorang penulis Belanda abad ke-19, sebagai bagian dari merepresentasikan keindahan alam negeri ini.
"Kita tahu bahwa ada banyak titik potensi peristiwa-peristiwa alam yang kemudian kita konstruksi sebagai bencana dan musibah," terangnya.
Dari situlah kemudian, Muhammadiyah berupaya membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
"Namun, lebih dari itu, juga tangguh untuk membangun ekosistem kehidupan yang terus mengarah pada kemajuan," bebernya. (Cris)

