BANJARNEGARA, Suara Muhammadiyah – Ratusan santri Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanayasa tampak antusias mengikuti kajian motivasi yang disampaikan oleh Ustadz Rifky Ja'far Thalib pada Senin (21/7). Dalam kesempatan tersebut, beliau mengajak para santri meneladani perjalanan hidup Imam Asy-Syafi'i, seorang ulama besar yang membuktikan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh harta, melainkan oleh semangat belajar, keteguhan hati, dan bakti kepada orang tua.
Kisah itu dimulai dari masa kecil Imam Asy-Syafi'i yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Karena tidak mampu bersekolah seperti anak-anak lainnya, sang ibu mencari cara agar putranya tetap bisa memperoleh ilmu. Setiap hari, Imam Asy-Syafi'i membawa bangku kecil dan duduk di luar kelas untuk mendengarkan pelajaran yang disampaikan guru.
Meski sering menjadi bahan ejekan teman-temannya, Imam Asy-Syafi'i tidak pernah menyerah. Justru dari tempat sederhana itulah ia mampu menghafal pelajaran dengan sangat baik. Ketika suatu hari guru berhalangan hadir, ia memberanikan diri mengajar teman-temannya. Cara penyampaiannya yang mudah dipahami membuat banyak murid terkesan, bahkan para orang tua mereka mengakui kecerdasannya.
Sejak usia yang masih sangat muda, Imam Asy-Syafi'i telah menghafal Al-Qur'an dan mampu mengajar untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup ibunya. Kisah ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti belajar.
Dalam ceramahnya, Ustadz Ja'far menekankan bahwa setiap kesuksesan selalu diawali dengan perjuangan. Tidak ada jalan pintas menuju keberhasilan.
"Kesuksesan tidak diraih dengan kemudahan. Orang yang ingin berhasil harus siap berjuang, bersabar, dan terus belajar," pesannya kepada para santri.
Dua Wasiat Sang Ibu
Bagian yang paling menyentuh dari kisah tersebut adalah ketika Imam Asy-Syafi'i meminta izin kepada ibunya untuk menuntut ilmu kepada Imam Malik di Madinah. Sang ibu mengizinkan putranya pergi dengan dua pesan yang menjadi bekal hidupnya.
Pesan pertama adalah agar tidak terlalu memikirkan perpisahan. Jika mereka tidak sempat bertemu lagi di dunia, semoga Allah mempertemukan mereka di surga.
Pesan kedua jauh lebih mendalam:
"Jika engkau pulang, janganlah pulang membawa apa pun selain ilmu."
Nasihat inilah yang terus dipegang Imam Asy-Syafi'i sepanjang hidupnya.
Bahkan ketika beliau telah menjadi ulama besar dan kembali ke Makkah dengan membawa harta, unta, kuda, dan berbagai hadiah dari murid-muridnya, sang ibu justru menolak menerimanya. Beliau mengingatkan kembali pesan lamanya: pulanglah hanya dengan membawa ilmu.
Mendengar hal itu, Imam Asy-Syafi'i membagikan seluruh hartanya kepada orang lain hingga tidak tersisa sedikit pun. Setelah itu barulah ia pulang menemui ibunya.
Mencari Ilmu Bukan Demi Kekayaan
Ustadz Ja'far juga mengingatkan bahwa tujuan utama belajar bukanlah mengejar kekayaan atau popularitas, melainkan mencari ridha Allah SWT. Harta hanyalah sarana yang akan menjadi kebaikan apabila berada di tangan orang-orang saleh dan digunakan untuk kemaslahatan umat.
Karena itu, para santri diminta untuk fokus memperbaiki ibadah, memperbanyak doa, serta bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Prestasi dan kesuksesan akan mengikuti mereka yang tekun dalam prosesnya.
Orang Tua Adalah Kunci Kesuksesan
Di akhir penyampaiannya, Ustadz Ja'far menggarisbawahi pentingnya berbakti kepada orang tua dan menghormati guru. Menurutnya, keberkahan ilmu sangat erat kaitannya dengan adab.
Beliau membagikan pengalaman pribadinya ketika masih menjadi santri. Nasihat seorang guru yang mengingatkan agar tidak berbohong membuatnya menyadari bahwa ilmu yang berkah lahir dari kejujuran dan penghormatan kepada guru.
Ia pun mengajak para santri untuk menjadikan para ustaz, ustazah, musyrif, dan musyrifah sebagai orang tua selama berada di pesantren. Menghormati mereka berarti menjaga keberkahan ilmu yang sedang dipelajari.
Pada kesempatan yang sama, Ustadz Ja'far juga menyampaikan apresiasi terhadap sistem pendidikan di MBS Wanayasa. Menurutnya, pesantren menjadi salah satu solusi bagi orang tua yang menginginkan pendidikan agama, pembinaan karakter, dan pengawasan yang lebih baik bagi putra-putrinya.
Selain pembelajaran agama dan fikih, MBS Wanayasa juga membekali para santri dengan pendidikan kewirausahaan sehingga mereka diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Melalui kisah Imam Asy-Syafi'i, para santri diajak memahami bahwa keberhasilan tidak lahir dari kemewahan ataupun kemudahan. Kesuksesan dibangun melalui perjuangan, kesabaran, ketekunan menuntut ilmu, serta doa dan ridha orang tua.
Sebab, harta dapat habis, jabatan dapat hilang, tetapi ilmu yang bermanfaat akan terus hidup dan menjadi amal yang tidak pernah terputus. (BT)

