Berkebun dan Upaya Penyelamatan Lingkungan

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
796
Peserta kegiatan pelatihan Green Youth Quake Training yang diadakan Greenfaith Indonesia, Enter Nusantara, dan Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar di Bogor pada 25-29 Juli 2025.

Peserta kegiatan pelatihan Green Youth Quake Training yang diadakan Greenfaith Indonesia, Enter Nusantara, dan Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar di Bogor pada 25-29 Juli 2025.

BOGOR, Suara Muhammadiyah – Sebuah pelatihan diikuti 25 peserta bertemakan ekologi digelar di Pesantren Ekologis Misykat Al-Anwar Bogor, Jawa Barat. Berbeda dengan pesantren pada umumnya. Pesantren ini cukup unik. Dalam setiap kegiatannya, seluruh pihak sepakat untuk menjunjung sistem demokrasi. Yang artinya, antara guru dan santri memiliki kedudukan yang setara. Tidak ada hukuman. Tidak ada yang terlambat. Semuanya digerakkan oleh kesadaran. Datang terlambat berarti menunjukkan ketidaksopanan kepada guru, kiai atau pengasuh. 

Di tempat ini, para santri diajarkan berbagai keterampilan hidup yang sangat mendasar. Terkait bagaimana mereka memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Tanpa perlu bergantung pada sistem bernama pasar yang semakin tak menunjukkan keberpihakannya kepada lingkungan. 

Alih-alih menyelamatkan lingkungan, para elit kapitalis, melalui sistem pasar yang mereka ciptakan, berlomba-lomba melakukan penjarahan besar-besaran terhadap alam. Hal ini demi satu tujuan, melipatgandakan kapita secara sistemik dan masif. 

Roy Murtadho, Pengasuh Pondok Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar mengatakan, cerita tentang manusia adalah cerita tentang penghancuran dan penaklukkan. Manusia modern adalah cerita kelam bagi keberlangsungan alam. Manusia memiliki kecenderungan melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam tanpa mempertimbangkan dampaknya di masa depan. 

Meski begitu, manusia juga memiliki kecenderungan untuk memperbaiki sesuatu yang dirusak. Berkaca pada salah satu ayat di dalam QS. Al-Fatihah. Kata ‘robbal alamin’ memiliki implikasi makna yang sangat luas, mencakup ranah ontologis hingga kosmologis. Mulai dari konsep keberadaan dan eksistensi Tuhan hingga masuk kepada ruang dan waktu penciptaan manusia. 

“Walau memiliki watak merusak, manusia juga memiliki potensi untuk memperbaiki.  Rahmatan lil alamin adalah implikasi dari penciptaan manusia di bumi. karena hanya makhluk bernama manusia yang bisa merefleksikan Tuhan,” ujarnya dalam sebuah sesi diskusi di Green Youth Quake Training (25/7). 

Pria yang akrab disapa Gus Roy itu menegaskan, dalam sistem kosmos, manusia, alam dan Tuhan, berada dalam satu tarikan nafas. Ketiganya menjadi sebuah kesatuan yang saling mengikat. Tak dapat dipisahkan. 

Selaras dengan pendapat Gus Roy, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah Hening Parlan mengatakan, komitmen terhadap lingkungan harus memiliki nafas panjang. Perjuangan dalam aksi-aksi lingkungan tidak lagi dapat dilakukan dengan kemarahan. Luapan emosi yang disalurkan melalui aksi demo baginya akan cepat dilupakan. 

Sehingga diperlukan cara-cara baru yang lebih relevan, jitu, dan terukur. Merangkul berbagai macam pihak untuk bersuara. Dari berbagai latar belakang profesi dan keilmuan diharapkan usaha-usaha dalam penyelamatan lingkungan dapat segera dilakukan. 

“Komitmen itu panjang,” tegasnya. 

Ide ini rasanya sangat relevan dengan Misykat Al-Anwar. Dalam kesehariannya, setiap santri dibiasakan berkebun. Kegiatan seperti mencangkul, menanam, menyiram tanaman, dan memanen dianggap sebagai amal sholeh. Sebuah ibadah yang nilainya sama dengan kebaikan lainnya. Aktivitas ini pun digadang-gadang menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi perusakan terhadap alam serta lingkungan yang belakangan kian masif. Setiap pagi, selepas pukul 6, para santri berjalan kaki menyibak embun. Berbekal cangkul dan sabit, mereka bercengkrama.

Dengan aktivitas berkebun, secara langsung para santri telah membatasi dirinya untuk bergantung pada bahan pangan yang ditawarkan korporasi dan industri besar. Mereka menolak tunduk.  

Di tempat ini kebiasaan kecil dipupuk. Hidup dengan cara komunal dipertahankan. Untuk memotong mata rantai penjajahan. Bahwa dari kebun sendiri, manusia bisa menyelamatkan alam dari kehancuran. (diko)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PALANGKA RAYA, Suara Muhammadiyah - Pendidikan Kader Ulama Muhammadiyah (PKUM) Universitas Muhammadi....

Suara Muhammadiyah

30 March 2024

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - RSU PKU Muhammadiyah Aghisna Kroya Cilacap bersama Komunitas Kroy....

Suara Muhammadiyah

14 April 2025

Berita

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - ”Ketika produk kita tidak bisa dipamerkan secara offline, ma....

Suara Muhammadiyah

25 January 2025

Berita

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Tengah menggelar a....

Suara Muhammadiyah

10 June 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar....

Suara Muhammadiyah

3 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah