YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bukan untuk mengkultuskan, melainkan upaya menghargai dan menghormati keilmuan seseorang yang menjadi ruh dari Tarjih dan Tajdid di Muhammadiyah. Melalui keilmuannya yang melampaui di bidang ketarjihan, hal secara langsung meneguhkan posisi beliau sebagai ulama besar Muhammadiyah. Ia adalah Prof Dr Syamsul Anwar yang pada tahun ini, saat diadakan acara Launching dan Talk Show Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran pada Senin, 31 Agustus 2026 telah genap berusia 70 tahun.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir M.Si menegaskan bahwa acara ini bukan untuk kultus mengkultuskan seseorang, tapi ungkapan dari rasa takzim kepada seseorang atas ilmu dan kepakaran yang dikuasai oleh Prof Syamsul Anwar.
Menurutnya, Prof Syamsul Anwar merupakan sosok yang mewakili seorang fakih yang zuhud di Muhammadiyah. Dari kefakihannya itulah beliau mampu membaca dan menjelaskan berbagai fenomena yang tampak maupun tersembunyi. Dan melalui kezuhudannya, beliau banyak memberikan masukan dan solusi terhadap kebijakan Muhammadiyah agar tetap sesuai dengan koridor yang tetapkan organisasi. "Kita banyak sekali diberi solusi terhadap hal-hal yang pelik," ujarnya.
Sebagai seorang ulama besar yang bernaung di bawah organisasi Islam modern, tak jarang pemikiran beliau menjadi lampu penerang bagi berbagai permasalahan yang dihadapi umat. Ijtihadnya menjadi sesuatu yang selalu ditunggu-tunggu sebagai jalan pemecah kebuntuan. "Ijtihad memerlukan proses yang panjang. Dan beliau telah membuktikannya melalui peluncuran buku fakih yang zahid," paparnya.
Haedar kembali menegaskan bahwa Prof Syamsul Anwar adalah sedikit dari orang-orang yang dikaruniai ilmu dan hikmah. Kezuhudannya sebagai tokoh Muhammadiyah menempatkannya di posisi yang proporsional dalam lingkaran kehidupannya yang dinamis.
"Maka tidak heran jika Buya Syafii yang saat itu bersekongkol dengan saya mencoba mengajak Prof Syamsul untuk masuk di struktur Pimpinan Pusat Muhammadiyah," ujarnya.
Hal ini menurut Haedar tidak bisa dilepaskan dari kepribadian beliau sebagai sosok tokoh Muhammadiyah yang memiliki kepemimpinan dan keteladanan yang kuat. Sehingga Haedar merasa khawatir jika orang sebaik Prof Syamsul Anwar tidak menduduki kursi kepemimpinan di Muhammadiyah. "Kita khawatir kalau banyak orang-orang baik tidak mau memimpin, maka jangan salahkan jika prediksi Ibnu Khaldun dapat terjadi," paparnya. (diko)

