Bukan Mengkultuskan, Launching Buku 70 Tahun Prof Syamsul Anwar Upaya Menghormati Keilmuan dan Kemuliaan

Suara Muhammadiyah

31 August 2026

426
Launching Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran, 70 Tahun Prof Syamsul Anwar di Prime UMY Hotel, Senin, 31 Agustus 2026.

Launching Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran, 70 Tahun Prof Syamsul Anwar di Prime UMY Hotel, Senin, 31 Agustus 2026.

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bukan untuk mengkultuskan, melainkan upaya menghargai dan menghormati keilmuan seseorang yang menjadi ruh dari Tarjih dan Tajdid di Muhammadiyah. Melalui keilmuannya yang melampaui di bidang ketarjihan, hal yang secara langsung meneguhkan posisi beliau sebagai ulama besar Muhammadiyah. Ia adalah Prof Dr Syamsul Anwar yang pada tahun ini, saat diadakan acara Launching dan Talk Show Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran pada Senin, 31 Agustus 2026 telah genap berusia 70 tahun. 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir M.Si menegaskan bahwa acara ini bukan untuk kultus mengkultuskan seseorang, tapi ungkapan dari rasa takzim kepada seseorang atas ilmu dan kepakaran yang dikuasai oleh Prof Syamsul Anwar. 

Menurutnya, Prof Syamsul Anwar merupakan sosok yang mewakili seorang fakih yang zuhud di Muhammadiyah. Dari kefakihannya itulah beliau mampu membaca dan menjelaskan berbagai fenomena yang tampak maupun tersembunyi. Dan melalui kezuhudannya, beliau banyak memberikan masukan dan solusi terhadap kebijakan Muhammadiyah agar tetap sesuai dengan koridor yang tetapkan organisasi. "Kita banyak sekali diberi solusi terhadap hal-hal yang pelik," ujarnya. 

Sebagai seorang ulama besar yang bernaung di bawah organisasi Islam modern, tak jarang pemikiran beliau menjadi lampu penerang bagi berbagai permasalahan yang dihadapi umat. Ijtihadnya menjadi sesuatu yang selalu ditunggu-tunggu sebagai jalan pemecah kebuntuan. "Ijtihad memerlukan proses yang panjang. Dan beliau telah membuktikannya melalui peluncuran buku fakih yang zahid," paparnya. 

Haedar kembali menegaskan bahwa Prof Syamsul Anwar adalah sedikit dari orang-orang yang dikaruniai ilmu dan hikmah. Kezuhudannya sebagai tokoh Muhammadiyah menempatkannya di posisi yang proporsional dalam lingkaran kehidupannya yang dinamis.

"Maka tidak heran jika Buya Syafii yang saat itu bersekongkol dengan saya mencoba mengajak Prof Syamsul untuk masuk di struktur Pimpinan Pusat Muhammadiyah," ujarnya. 

Hal ini menurut Haedar tidak bisa dilepaskan dari kepribadian beliau sebagai sosok tokoh Muhammadiyah yang memiliki kepemimpinan dan keteladanan yang kuat. Sehingga Haedar merasa khawatir jika orang sebaik Prof Syamsul Anwar tidak menduduki kursi kepemimpinan di Muhammadiyah. "Kita khawatir kalau banyak orang-orang baik tidak mau memimpin, maka jangan salahkan jika prediksi Ibnu Khaldun dapat terjadi," paparnya. (diko)

 

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Setelah diterjunkan pada Rabu, (13/3) lalu, Majelis Dikdasmen PNF P....

Suara Muhammadiyah

21 March 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pasal 22E ayat 1 UUD 1945 menegaskan bahwa pemilihan umum (Pemilu) ....

Suara Muhammadiyah

29 January 2024

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah Percut Sei Tuan menggelar Kegiatan DIALOG I....

Suara Muhammadiyah

4 March 2024

Berita

GOWA, Suara Muhammadiyah - Malam yang kelam, 28 Oktober 2023, warga Dusun Langkowa, Desa Tonasa, Kec....

Suara Muhammadiyah

29 October 2023

Berita

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP ....

Suara Muhammadiyah

14 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah