Bukan Sekadar Satu Atap: Esensi Hidup Bersama dalam Naungan Sakinah

Publish

7 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
91
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Bukan Sekadar Satu Atap: Esensi Hidup Bersama dalam Naungan Sakinah

Oleh: Ahmad Afwan Yazid, M.Pd, Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga

Pernikahan sering kali digambarkan sebagai "garis finis" dari sebuah pencarian cinta. Namun, bagi pasangan yang sudah menjalaninya bertahun-tahun, mereka menyadari bahwa pernikahan justru merupakan "garis start" dari sebuah perjalanan panjang yang penuh liku. Dalam perjalanan ini, muncul sebuah fenomena yang sering tidak disadari namun berdampak fatal: pasangan yang hanya tinggal bersama, tetapi tidak hidup bersama.

Meskipun terdengar mirip, kedua istilah ini memiliki jurang perbedaan yang sangat dalam. Mari kita bedah mengapa esensi "hidup bersama" jauh lebih penting daripada sekadar berbagi alamat yang sama.

Perbedaan "Tinggal Bersama" vs "Hidup Bersama"

Tinggal Bersama adalah sebuah kondisi logistik. Ini terjadi ketika dua orang berada di bawah satu atap, berbagi beban cicilan rumah, membagi tugas membayar tagihan listrik, dan bertemu di meja makan yang sama, namun jiwa mereka berada di dunia yang berbeda. Dalam kondisi ini, suami dan istri berfungsi layaknya rekan satu kamar (roommates) atau mitra bisnis dalam "perusahaan" bernama rumah tangga. Komunikasi hanya bersifat administratif, seperti: "Siapa yang menjemput anak?", "Sudah bayar uang sekolah?", atau "Mau makan apa nanti malam?".

Sebaliknya, Hidup Bersama adalah sebuah ikatan emosional, spiritual, dan intelektual. Hidup bersama berarti adanya keterlibatan aktif dalam dunia pasangan. Ada pertukaran rasa, ada empati saat salah satu sedang lelah, dan ada visi yang diperjuangkan bersama. Dalam "hidup bersama", kehadiran fisik dibarengi dengan kehadiran hati.

Islam memandang pernikahan bukan sekadar akad perdata untuk menghalalkan hubungan biologis, melainkan sebuah ikatan suci (mitsaqan ghalizha). Al-Qur'an menggambarkan tujuan pernikahan dengan sangat indah dalam Surah Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (Sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (Mawaddah) dan sayang (Rahmah)..."

Ayat ini menggunakan kata "litaskunu ilaiha" yang berarti "agar kamu merasa tenang/tenteram kepadanya". Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan "tenteram di rumahnya", melainkan "tenteram kepadanya" (kepada pasangan). Ini menunjukkan bahwa sumber ketenangan bukanlah pada bangunan fisik tempat mereka tinggal, melainkan pada sosok manusia yang menemani hidupnya. Menjadi "Sakinah" adalah indikator bahwa pasangan tersebut telah "hidup bersama", bukan sekadar "tinggal bersama".

Selain itu, Al-Qur'an menggambarkan kedekatan suami istri dalam Surah Al-Baqarah ayat 187:

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

"...Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka..."

Pakaian (Libas) memiliki fungsi melindungi, menutupi aib, menghangatkan, dan sangat dekat menempel dengan kulit. Hubungan yang hanya sebatas "tinggal bersama" tidak akan mencapai derajat "pakaian". Hanya pasangan yang benar-benar "hidup bersama" yang saling mengenal lekuk emosi dan kerapuhan pasangannya, mampu menjadi pelindung sejati bagi satu sama lain.

Mengapa Pasangan Terjebak dalam "Tinggal Bersama"?

Di era modern, jebakan "sekadar satu atap" ini semakin nyata. Ada beberapa faktor yang menyebabkannya:

  • Dinding Digital: Pasangan duduk berdampingan di sofa, namun masing-masing asyik dengan ponselnya. Mereka berada di ruang fisik yang sama, tetapi pikiran mereka berada di media sosial atau grup WhatsApp.
  • Rutinitas yang Membunuh: Fokus yang terlalu besar pada urusan domestik (anak, cicilan, pekerjaan) membuat pasangan lupa untuk merawat hubungan sebagai suami-istri. Mereka menjadi orang tua yang baik, tapi lupa menjadi kekasih yang baik.
  • Hilangnya Mu’asyarah bil Ma’ruf: Dalam kehidupan sehari-hari, Islam memerintahkan kita untuk bergaul dengan cara yang baik (ma'ruf). Berbuat baik dalam rumah tangga bukan hanya tidak memukul atau memberi nafkah, tetapi juga memberikan perhatian dan kegembiraan. Sesuai dengan ajaran akhlak mahmudah (akhlak terpuji), menjaga perasaan pasangan adalah bagian dari ibadah.

Sebagaimana disebutkan dalam Islam tentang ukhuwah (persaudaraan), inti dari hubungan yang baik adalah adanya cinta dan kasih sayang. Jika kepada sesama muslim saja kita diminta ibarat "satu tubuh" yang ikut merasakan sakit jika anggota tubuh lain sakit, maka suami dan istri memiliki kewajiban yang jauh lebih besar untuk mencapai derajat "satu tubuh" tersebut.

Untuk meningkatkan kualitas hubungan dari sekadar tinggal bersama menjadi benar-benar hidup bersama, diperlukan upaya sadar serta kerja keras dari suami maupun istri secara beriringan. Langkah ini dapat dimulai dengan berkomitmen untuk hadir secara utuh bagi pasangan, yakni menyisihkan waktu setidaknya 15 hingga 30 menit setiap hari tanpa gangguan gawai untuk saling bertukar cerita mengenai perasaan masing-masing, bukan sekadar membahas urusan logistik rumah tangga.

Selain itu, membangun visi spiritual bersama melalui penguatan iman dan kebiasaan rajin beramal saleh secara berjamaah, seperti melaksanakan shalat atau belajar agama bersama, menjadi kunci utama dalam mempererat ikatan hati. Penting pula untuk senantiasa menunjukkan apresiasi melalui hal-hal kecil, seperti tidak meremehkan bantuan pasangan dan membiasakan diri mengucapkan terima kasih, karena dalam ajaran Islam, upaya menyenangkan hati pasangan merupakan bagian dari akhlak mahmudah atau perilaku terpuji yang bernilai sedekah.

Sebagai teladan terbaik, pasangan hendaknya meniru Rasulullah saw yang tidak hanya berdiam di rumah, tetapi juga aktif membangun kedekatan dengan istri-istrinya melalui canda tawa, membantu pekerjaan rumah tangga, hingga menjadi pendengar yang baik bagi segala keluh kesah mereka.

Rumah bisa dibangun dengan batu bata dan semen, tapi rumah tangga dibangun dengan cinta, pengertian, dan kehadiran hati. Jangan biarkan pernikahan Anda berubah menjadi "asrama" bagi dua orang asing yang kebetulan memiliki nama keluarga yang sama.

Ingatlah bahwa setiap detik yang kita habiskan untuk menyenangkan hati pasangan adalah bagian dari investasi akhirat. Pernikahan yang sukses bukan tentang menemukan orang yang tepat untuk tinggal bersama, tetapi tentang menjadi orang yang tepat untuk hidup bersama hingga ke surga-Nya nanti.

Pada akhirnya, rumah sejati bukanlah gedung megah dengan perabotan mewah, melainkan pelukan hangat yang saling menguatkan di kala badai tiba. Jangan biarkan pasangan Anda merasa kesepian di tengah keramaian rumah sendiri. Mari kita ubah setiap sapaan menjadi doa dan setiap tatapan menjadi bukti cinta. Sebab pernikahan yang indah bukan tentang seberapa lama kita mampu berbagi atap yang sama, melainkan tentang seberapa dalam kita mampu berbagi hati hingga kelak Allah menyatukan kita kembali di pelataran surga-Nya.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Salam Hormat untuk Bapak Ibu Guru Prof. Dr. Imam Sutomo, Ketua PDM Salatiga 2010-2022, Rektor IAIN ....

Suara Muhammadiyah

17 July 2025

Wawasan

Misquoting Muhammad: Menavigasi Warisan Nabi di Era Modern Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu....

Suara Muhammadiyah

24 January 2025

Wawasan

Demokrasi, Kebebasan, dan Hukum: Menjaga Ruang Publik dari Kekacauan Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Lit....

Suara Muhammadiyah

2 October 2025

Wawasan

Surah At-Taubah Ayat 12: Membedah Makna di Balik "Mencela Agama" demi Keadilan dan Perdamaian Oleh:....

Suara Muhammadiyah

4 August 2025

Wawasan

Oleh Bahrus Surur-IyunkKetua Pimda 225 Tapak Suci Sumenep Madura  Hari itu, datang surat berbe....

Suara Muhammadiyah

21 August 2024