PADANG, Suara Muhammadiyah — Suasana haru dan semangat membuncah menyelimuti Pusat Perkaderan Ulama Muhammadiyah (PPUM) Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat ketika seorang tamu istimewa menginjakkan kaki di halaman lembaga yang pernah ia dirikan. Buya Dasril Ilyas, ketua pertama PPUM, hadir di tengah para kader muda untuk bersilaturahmi sekaligus menyapa langsung denyut nadi perkaderan yang sedang tumbuh.
Langkah beliau memasuki ruang utama PPUM disambut sorot mata penuh hormat dari puluhan santri kader. Hari itu, lembaga yang ia rintis sejak awal berdiri kembali merasakan kehangatan sentuhan sang pendiri. Bukan sekadar kunjungan formal, kehadiran Buya Dasril Ilyas menjadi oase yang menyirami semangat para penuntut ilmu di tengah rutinitas pengajian.
Dengan suara berat namun penuh kelembutan, Buya yang juga dikenal sebagai ulama kharismatik itu menyampaikan pesan yang membekap dada. Ia mengingatkan bahwa kaderisasi ulama bukan sekadar program, melainkan jantung dari gerakan Muhammadiyah itu sendiri.
"Jangan biarkan jantung ini berhenti berdetak," ucapnya di hadapan para pengelola dan kader yang duduk melingkar. "Perkaderan ulama harus terus hidup, berdenyut, dan melahirkan kader-kader yang berilmu, berakhlak, serta siap memimpin umat di masa depan."
Para peserta pengajian pun makin takjim ketika Buya kemudian menekankan tiga hal penting: menjaga kesinambungan program, memperkuat disiplin ilmiah, dan menanamkan ruh keikhlasan. Menurutnya, tiga unsur itulah yang akan melahirkan dai dan ulama tangguh dari bumi Minang.
Momen kian mengharu biru saat sesi dialog dibuka. Satu per satu kader muda melontarkan pertanyaan, dan Buya menjawab dengan bijaksana, diselingi canda tawa yang mencairkan suasana. Para peserta tampak enggan beranjak, seolah ingin memuaskan dahaga akan ilmu dan motivasi dari sang sesepuh.
Di sela kunjungan, para pengelola PPUM juga memperkenalkan program unggulan yang tengah berjalan. Kepada Buya, mereka memaparkan kegiatan harian seperti pengajian tarjih, pembelajaran bahasa Arab, ngaji kitab turats, hingga persiapan kader dai atau i'dad muballighin.
Ketua PPUM Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar, Aya Syofya Miza menyampaikan rasa terima kasih tak terhingga atas kunjungan yang menjadi sejarah ini. "Kehadiran Buya bukan hanya suntikan semangat, tapi juga penguat komitmen kami untuk terus mengembangkan pusat perkaderan ini sebagai ladang lahirnya generasi ulama," ujarnya penuh haru.
Yang membuat kunjungan ini makin istimewa, para pengelola mengungkapkan bahwa di Bulan Ramadhan ini, seluruh kegiatan pendidikan kader ulama tidak hanya berjalan setiap hari, tetapi juga dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Program Ramadhan yang terbuka lebar bagi masyarakat umum itu diharapkan dapat menjaring lebih banyak lagi calon-calon penerus dakwah Muhammadiyah.
Kabar ini sontak menyebar dari mulut ke mulut di kalangan jamaah. Antusiasme warga pun meningkat, ingin merasakan langsung pembinaan di tempat yang baru saja disentuh langsung oleh sang pendiri.
Sebelum mengakhiri kunjungan, Buya Dasril Ilyas sempat berkeliling melihat fasilitas perkaderan, memberikan senyum bangga kepada setiap wajah muda yang ditemuinya. Baginya, masa depan Muhammadiyah Sumatera Barat tengah bertumbuh di tempat itu—di ruang-ruang sederhana yang dipenuhi tekad membara untuk menjadi ulama.

