Dakwah Kultural Muhammadiyah Perlu Dipandang Secara Seimbang

Suara Muhammadiyah

14 March 2024

1928
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr KH Haedar Nashir, MSi memberikan pidato iftitah Pengajian Ramadan di UMY

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr KH Haedar Nashir, MSi memberikan pidato iftitah Pengajian Ramadan di UMY

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam Pengajian Ramadan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Gedung Ar Fakhruddin B Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (14/3), Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir, MSi mengatakan dakwah kultural di Muhammadiyah berupaya untuk memperkaya wawasan kepada para anggota, kader, dan pimpinan. Bukan malah sebaliknya, membias dari manhaj pemikiran keagamaan dalam Muhammadiyah.

"Pemikiran yang terkandung dalam Dakwah Kultural Muhammadiyah sesungguhnya sudah sangat lengkap pemikiran, pendekatan, metode, dan hal-hal lainnya seputar pemikiran dakwah dalam Muhammadiyah,” katanya.

Dakwah Kultural menjadi keputusan di Tanwir Denpasar tahun 2002. Kelahiran pemikiran Dakwah Kultural ini sebagai langkah penajaman dakwah Muhammadiyah di akar rumput. Lewat strategi Dakwah Kultural, Muhammadiyah sesungguhnya tengah berupaya untuk menyebarluaskan dakwahnya lewat siasat yang tidak kaku, namun bersifat cair, luwes, dan menggembirakan dengan mengombinasikan antara kebudayaan.

Sebab, bagi Haedar, budaya itu telah hidup subur di Muhammadiyah. Sehingga, tidak dapat dinafikan jika dakwah kultural berdimensikan dengan budaya itu telah menjadi kekhasan tersendiri di Muhammadiyah di dalam menjalankan roda dakwahnya. Maka, sebab itu Haedar mendorong agar lebih memperdalam pemaknaan tradisi budaya secara proporsional, bukan secara parsial.

"Penting memahami tradisi, budaya, dan kebudayaan secara benar, objektif, dan proporsional,” ujarnya.

Guru Besar Ilmu Sosiologi UMY ini menegaskan melalui dakwah kultural, Muhammadiyah memang secara serius tengah berupaya memperluas spektrum dakwahnya di akar rumput. Tetapi, memang harus diakui tidak mudah untuk mengejawantahkannya ke dalam lapangan kehidupan sehari-hari. Maka, Ia mendorong agar perlu ada pendekatan secara komprehensif dengan mempertajam pada aspek bayani, burhani, dan irfani supaya  tidak mengalami pemahaman yang serampangan, kering, dan bias dalam melihat kebudayaan sebagai reaktualisasi dari implementasi dakwah kultural di akar rumput.

"Karenanya sangat penting untuk menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani secara utuh, mendalam, kaya, dan interkoneksi sehingga tidak melahirkan bias  pemahaman Islam. Karena Islam itu agama yang membawa kemajuan. Artinya, Islam melahirkan kebudayaan maju sesuai dengan nilai-nilai Islam," tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah - Magister Administrasi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)....

Suara Muhammadiyah

17 January 2024

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) kembali menegaskan perann....

Suara Muhammadiyah

4 February 2026

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah sukses menyelenggarak....

Suara Muhammadiyah

12 July 2025

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Lazismu Kabupaten Magelang mentasyarufkan dana zakat program pendidik....

Suara Muhammadiyah

5 August 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Fenomena "Brain Rot" yang baru-baru ini terpilih sebagai Oxfor....

Suara Muhammadiyah

2 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah