MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) mendampingi Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Ngadipuro, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang dalam implementasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) berbasis social responsibility. Kegiatan dilaksanakan pada Jumat (24/7) dan diikuti seluruh guru, perwakilan komite madrasah, serta tokoh masyarakat di lingkungan MIM Ngadipuro.
Tim diketuai oleh Dr. Kanthi Pamungkas Sari, M.Pd dengan anggota Dr. Ahwy Oktradiksa, M.Pd.I dan Ns. Nurul Hidayah, MS. Program tersebut didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026 melalui skema pengabdian dengan tema “Pemberdayaan bagi Civitas Akademika MIM Ngadipuro, Dukun Kabupaten Magelang melalui Pendidikan Kebencanaan Berbasis Social Responsibility untuk Membangun Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Alam Multihazard”.
Dalam pelaksanaannya, implementasi SPAB difokuskan pada tiga pilar utama, yaitu fasilitas belajar yang lebih aman, keamanan madrasah dan manajemen kesinambungan pendidikan, serta pendidikan pengurangan risiko bencana dan resiliensi. Peserta juga melakukan self-assessment terhadap penerapan ketiga pilar tersebut sesuai kondisi madrasah, menyusun peta risiko dan jalur evakuasi, serta membentuk Tim Siaga Bencana Madrasah.
Hasil Focus Group Discussion (FGD) menunjukkan bahwa MIM Ngadipuro memiliki sejumlah potensi ancaman bencana yang perlu diantisipasi. Mengingat lokasinya berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) II Gunung Merapi, madrasah berpotensi terdampak erupsi gunung api, risiko angin kencang, tanah longsor, serta gempa tektonik akibat aktivitas sesar aktif regional maupun lokal.
Ketua Tim PkM, Dr. Kanthi Pamungkas Sari, menekankan pentingnya pemahaman guru terhadap peta risiko bencana sebagai dasar dalam mengambil keputusan saat kondisi darurat. “Setiap guru harus memahami peta risiko bencana di lingkungan madrasah atau sekolahnya. Bencana dapat datang sewaktu-waktu tanpa menunggu kesiapan siapa pun. Guru yang tidak memahami peta risiko akan kesulitan mengenali titik-titik berbahaya di lingkungan madrasah atau sekolahnya, menentukan arah evakuasi serta menentukan lokasi aman bagi peserta didik. Memahami peta risiko bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral bagi setiap guru,” tegasnya.
Menurutnya, kesiapan menghadapi bencana juga harus didukung dengan jalur evakuasi yang telah direncanakan dan dipahami oleh seluruh warga sekolah. “Ketika lantai tiba-tiba bergetar atau terjadi angin kencang, tidak ada waktu untuk bertanya harus lari ke mana. Jalur evakuasi yang jelas adalah selisih tipis antara kepanikan dan penyelamatan yang tepat waktu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kanthi menjelaskan, budaya keselamatan harus menjadi bagian yang melekat dalam penyelenggaraan pendidikan, bukan hanya diterapkan ketika pelatihan berlangsung. “Anak berhak belajar dengan rasa aman, bukan sesekali, tetapi setiap hari. Manajemen keselamatan yang berkelanjutan adalah wujud nyata dari hak tersebut, bukan pilihan yang bisa ditunda atau dilupakan setelah krisis berlalu,” pungkasnya.
Melalui kegiatan tersebut, UNIMMA berharap MIM Ngadipuro mampu membangun sistem kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan serta mewujudkan lingkungan belajar yang aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana di wilayah Kabupaten Magelang. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen UNIMMA dalam mengembangkan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan kapasitas dan ketahanan komunitas.

