YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam Tridharma Perguruan Tinggi yang wajib dijalankan oleh setiap institusi pendidikan tinggi. Selain sebagai kewajiban institusional, pengabdian juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa untuk memahami persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Sebagai wujud implementasi Tridharma tersebut, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara resmi menerjunkan sebanyak 700 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) melalui berbagai skema, yakni Interprofessional Education (IPE), KKN Kawasan, KKN Sahabat Sekolah, dan KKN Internasional Davao.
Penerjunan KKN Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026 ini dilaksanakan pada Selasa (13/1) di Lantai Dasar Masjid KH. Ahmad Dahlan UMY. Beragam skema KKN tersebut dirancang untuk mendorong kolaborasi lintas disiplin sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih spesifik dan kontekstual.
Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY, apt. RR. Sabtanti Harimurti, S.Si., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa KKN merupakan wadah strategis untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, serta kepedulian sosial mahasiswa.
“Pengabdian kepada masyarakat tidak dapat dilepaskan dari proses adaptasi, inovasi, serta kemampuan mahasiswa dalam membaca realitas sosial di lapangan. KKN menjadi ruang belajar yang sangat penting bagi mahasiswa,” ujarnya.
Pada periode ini, KKN UMY mengusung tema “Aksi Nyata Berdampak untuk Semua” yang menitikberatkan pada pengembangan potensi ekonomi lokal, inovasi usaha kreatif, serta peningkatan kesadaran dan layanan kesehatan masyarakat melalui pendekatan kewirausahaan yang berorientasi pada dampak sosial.
Mahasiswa KKN didorong untuk merancang dan melaksanakan program strategis, antara lain penguatan UMKM sosial, pengembangan dan branding produk lokal, wirausaha berbasis komunitas, edukasi kewirausahaan sosial, literasi kesehatan, serta penguatan kesehatan masyarakat.
Lebih lanjut, Sabtanti menekankan pentingnya program KKN yang berdampak dan terukur, khususnya di bidang kesehatan masyarakat dan pemberdayaan sosial. Sejumlah kegiatan seperti identifikasi jentik nyamuk, edukasi pencegahan demam berdarah dengue (DBD), stunting, hingga tuberkulosis dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
“Setiap program yang dijalankan harus dapat diukur hasilnya. Dari situ akan terlihat apakah kegiatan tersebut benar-benar membawa perubahan. Dengan pendekatan ini, KKN tidak hanya menjadi kewajiban akademik, tetapi juga proses pembelajaran yang bermakna dan bertanggung jawab,” imbuhnya.
Pada Semester Gasal 2025/2026, skema KKN IPE menjadi yang terbesar dengan melibatkan 603 mahasiswa yang ditempatkan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, meliputi Kabupaten Bantul, Sleman, Gunungkidul, dan Kulon Progo.
Sementara itu, KKN Kawasan diikuti oleh 23 mahasiswa yang diterjunkan ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah, yakni Kabupaten Boyolali dan Jepara. KKN Sahabat Sekolah melibatkan 54 mahasiswa yang melaksanakan pengabdian di berbagai daerah di luar Pulau Jawa, seperti Sumbawa Barat (Nusa Tenggara Barat), Kota Pontianak (Kalimantan Barat), dan Kabupaten Banggai (Sulawesi Tengah). Adapun skema KKN Internasional Davao diikuti oleh 20 mahasiswa yang akan melaksanakan pengabdian masyarakat di Davao City, Filipina. (NF)

