LANGKAT, Suara Muhammadiyah – Selama tiga hari, 23–25 Juni 2026 (8–10 Muharram 1447 H), Pondok Pesantren Muhammadiyah Kwala Madu menjadi saksi lahirnya semangat baru gerakan dakwah Muhammadiyah di Kabupaten Langkat dan Kota Binjai. Sebanyak 100 kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dari berbagai cabang mengikuti Pelatihan Kader Mubaligh Muhammadiyah (PKMM) Tingkat Daerah Langkat dan Binjai, sebuah ikhtiar strategis yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh PDM Langkat bekerja sama dengan Majelis Tabligh PDM Binjai.
Mengusung tema “Mewujudkan Kader Mubaligh Muhammadiyah yang Berilmu, Berakhlak, dan Berkemajuan”, pelatihan ini bukan sekadar forum transfer ilmu, melainkan momentum membangun kembali ekosistem dakwah Muhammadiyah yang lebih terstruktur, profesional, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan berorientasi pada kebermanfaatan umat.
Selama tiga hari, peserta memperoleh pembekalan yang komprehensif dari para akademisi, ulama, praktisi dakwah, serta pimpinan Muhammadiyah Sumatera Utara. Berbagai materi strategis disampaikan, mulai dari Dakwah Kultural, Strategi Dakwah dan Tabligh, Kepribadian Mubaligh, Public Speaking, Aktualisasi Ideologi Muhammadiyah, Kaifiyatul Ibad, Dakwah Digital, hingga penyusunan Peta Dakwah berbasis analisis SWOTH. Setiap sesi tidak hanya memperkaya wawasan peserta, tetapi juga diarahkan untuk melahirkan solusi nyata terhadap tantangan dakwah di masing-masing cabang.
Salah satu penekanan penting disampaikan oleh Ketua Majelis Tabligh PWM Sumatera Utara, Prof. Dr. Ali Imran Sinaga, M.Ag., saat membuka kegiatan. Ia mengingatkan bahwa dalam tradisi Muhammadiyah, istilah yang digunakan bukan sekadar “ceramah”, melainkan tabligh sebagai sebuah konsep dakwah yang menghadirkan perubahan.
Menurutnya, mubaligh Muhammadiyah tidak cukup hanya pandai berbicara di atas mimbar, tetapi harus mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Dakwah bukan sekadar menyampaikan informasi keagamaan, melainkan proses transformasi yang melahirkan pencerahan, pemberdayaan, dan perbaikan kehidupan umat.
PKMM tahun ini juga menandai babak baru penguatan organisasi dakwah Muhammadiyah. Salah satu capaian paling strategis adalah terbentuknya 13 Kepengurusan Kader Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Tingkat Cabang, terdiri atas delapan cabang di Kabupaten Langkat dan lima cabang di Kota Binjai. Kepengurusan tersebut dikukuhkan secara resmi oleh Ketua KMM PWM Sumatera Utara sebagai fondasi pengembangan dakwah Muhammadiyah hingga ke tingkat cabang.
Dengan terbentuknya KMM di setiap cabang, Muhammadiyah kini memiliki wadah yang lebih sistematis dalam mengelola pembinaan mubaligh, menyusun agenda dakwah, mengembangkan kader baru, serta memperkuat sinergi antara Majelis Tabligh daerah dengan cabang.
Capaian strategis lainnya adalah semakin menguatnya pendataan mubaligh melalui Sistem Informasi Tabligh Muhammadiyah (SITAMA). Hingga akhir pelatihan, tercatat 421 mubaligh dan mubalighat di Sumatera Utara telah terdaftar dalam sistem tersebut, dengan kontribusi 47 mubaligh dari Kabupaten Langkat dan 22 mubaligh dari Kota Binjai. Kehadiran SITAMA menjadi langkah penting menuju tata kelola dakwah Muhammadiyah yang berbasis data, terukur, dan mudah dikembangkan.
Pada akhir penutupan, suasana penuh kekeluargaan terasa ketika peserta menyampaikan kesan dan pesan. Mereka mengakui bahwa PKMM bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga membangkitkan semangat baru untuk berdakwah dan mengabdi kepada Persyarikatan. Harapan pun mengemuka agar kegiatan serupa terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga lahir semakin banyak mubaligh Muhammadiyah yang berkualitas.
Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi peserta, panitia menetapkan 17 peserta terbaik dalam kategori keteladanan, keterampilan, kedisiplinan, dan keaktifan selama pelatihan. Penghargaan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh kader untuk terus meningkatkan kapasitas diri dalam menjalankan amanah dakwah.
Panitia mengumumkan peserta terbaik tersebut dalam kategori teladan, terampil, dan aktif. Apresiasi tinggi diberikan kepada Rusli Ali, Salman Alfarisy Lubis, Sukardi, dan Muhammad Ramli. Penghargaan ini juga diraih oleh Irfan, M.A., Anwar Rifki, Edi Kurniawan, S.Sos.I., Revanca Karsita, Amru Akbar Perangin-angin, S.Pd, serta Fahmi Fahrezi.
Kader-kader terbaik dari unsur mubalighat juga turut menorehkan prestasi luar biasa, yaitu Ibu Wahyuni, S.Pd., Ibu Nurhidayah, Ibu Neni Triani, Intan Fitriani, Misra Nova Dayantri, Nur Cahaya Bulan, dan Salsabila Amelia. Ke-17 peserta ini bersama 109 peserta lainnya diharapkan menjadi motor penggerak utama dalam mensukseskan rencana tindak lanjut dakwah Muhammadiyah di wilayah Langkat dan Binjai.
Pelatihan ini juga menghasilkan sejumlah Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan menjadi agenda bersama alumni PKMM, antara lain penyempurnaan kepengurusan KMM cabang, optimalisasi penggunaan SITAMA, pengajian rutin alumni, forum silaturahmi mubaligh, Rihlah Dakwah antar cabang, hingga pelaksanaan Training of Trainer Mubaligh Muhammadiyah Tingkat Daerah (TOT/PIMMDA) sebagai jenjang kaderisasi lanjutan.
Berikut adalah para Ketua KMM Cabang yang resmi dikukuhkan —Kabupaten Langkat: Arti, S.Pd (Besitang), Revanca Karsita (P. Brandan), Muhammad Ramli (Tanjungpura), Suwito (Padang Tualang), Drs. Pungut Suroto (Stabat), Sudiro, AMD (Secanggang), Zulkifli (Selesai), dan Solihin Arifsyah (Bahorok). Adapun Kota Binjai: M. Rafai (Binjai Utara), Zulfi Anshor Izhar (Binjai Selatan), Ismail, S.H (Binjai Timur), Iqbal Irfan Nanda, S.Pd (Binjai Kota), dan Anwar Rifki, S.Pt (Sambirejo).
Dalam sambutannya, Wakil Ketua PDM Langkat, Suyarno, M.Si, bersama PDM Binjai, Juriadi, M.A., serta perwakilan MUI Langkat, Al Ustadz H. Zulkifli Ahmad Dian, Lc., M.A., memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi apik lintas daerah ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan pengembalian berkas peserta dari Master of Training (MOT), Faisal Amri Al-Azhari, kepada PDM Langkat dan Binjai.
Dengan berakhirnya PKMM 2026, Muhammadiyah Langkat dan Binjai tidak hanya berhasil menyelenggarakan sebuah pelatihan, tetapi juga berhasil meletakkan fondasi baru bagi penguatan gerakan tabligh. Lahirnya kepengurusan KMM di tingkat cabang, tersusunnya basis data mubaligh melalui SITAMA, serta terbentuknya jejaring kader dakwah menjadi modal penting untuk memperluas syiar Islam yang mencerahkan dan memajukan kehidupan umat.
PKMM 2026 menjadi bukti bahwa kaderisasi bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan dakwah Muhammadiyah. Dari Kwala Madu, semangat tabligh itu kembali diteguhkan: membangun mubaligh yang berilmu, berakhlak, berintegritas, serta mampu menghadirkan Islam yang mencerahkan bagi masyarakat.
Nashrun Minallahi wa Fathun Qariib.

