JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Memasuki tahun terakhir pelaksanaannya, program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) tidak sekadar menutup rangkaian kegiatan, tetapi memperkuat arah dampak jangka panjang. Eco Bhinneka Muhammadiyah mengajak para penggerak muda lintas iman untuk merefleksikan capaian, menguji kembali teori perubahan, serta merumuskan strategi keberlanjutan yang lebih tajam dan berdampak.
Upaya tersebut mengemuka dalam Workshop Perencanaan Strategis Program: Pembelajaran, Theory of Change, dan Strategi Keberlanjutan yang diselenggarakan pada Kamis, 30 April 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 1 Asrama Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) ini dihadiri oleh tim pengampu program tingkat nasional dan sembilan regional. Workshop ini menjadi ruang refleksi bersama untuk mengidentifikasi capaian, tantangan, sekaligus merumuskan arah keberlanjutan program.
Fasilitator kegiatan, Ahsan Jamet Hamidi, yang juga merupakan konsultan Monitoring dan Evaluasi Eco Bhinneka Muhammadiyah, menjelaskan bahwa workshop ini dirancang sebagai proses yang saling terhubung.
“Pada pertemuan ini kita bersama-sama mendiskusikan refleksi pembelajaran, teori perubahan, strategi keberlanjutan, dan cerita perubahan, yang kesemuanya merupakan tahapan yang saling berkaitan,” ujarnya.
Dalam sesi refleksi pembelajaran, peserta diminta mengidentifikasi capaian paling bermakna selama mendampingi program, tantangan utama dalam implementasi, praktik baik yang dapat direplikasi, serta pembelajaran kunci dari proses yang telah dijalankan.
Ahsan menekankan pentingnya melihat capaian dari sisi hasil, bukan sekadar aktivitas. “Saat menyampaikan capaian, kita tidak menceritakan kegiatan, tetapi hasil. Apa dampak dari kegiatan yang telah dilaksanakan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa capaian perlu disertai ukuran yang jelas. “Capaian harus disertai kuantifikasi—sebutkan angkanya, misalnya berapa orang yang melakukan inisiasi setelah mengikuti pelatihan,” tambahnya.
Selain itu, peserta diajak menyusun cerita perubahan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Menurut Ahsan, cerita perubahan tidak selalu harus berakhir sukses.
“Cerita perubahan menggambarkan proses dari kondisi awal menuju perubahan—baik dari negatif menjadi positif, dari tidak berfungsi menjadi berfungsi, atau dari tidak ada menjadi ada. Jika perubahan belum berhasil, hal itu tetap penting untuk diceritakan, termasuk alasan di baliknya,” paparnya.
Memasuki sesi strategi keberlanjutan, peserta diajak menghubungkan capaian yang telah diraih dengan harapan yang belum terwujud. “Setelah refleksi, pertanyaannya adalah: apa yang ingin dilanjutkan? Harapan apa yang masih ingin diwujudkan ke depan, dan bagaimana itu terhubung dengan capaian yang sudah ada?” ujar Ahsan memantik diskusi.
Peserta kemudian merumuskan harapan, strategi, serta rencana kegiatan yang berpijak pada keberhasilan program sebelumnya sekaligus menjawab kebutuhan ke depan.
Program Manager SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah, Dzikrina Farah Adiba, menyampaikan harapannya agar workshop ini memperkuat arah program ke depan.
“Melalui workshop ini, kami berharap peserta dapat memantapkan kembali capaian program, merefleksikan pembelajaran secara lebih mendalam, serta merumuskan strategi dan ide kegiatan yang berpijak pada keberhasilan dan harapan yang ingin diwujudkan,” ujarnya.
Upaya ini diharapkan dapat memastikan dampak program SMILE terus berlanjut melalui inisiatif para pemimpin muda lintas iman.

