Desa Wisata Zero Waste Jadi Role Model, UMY Dorong Edukasi Sampah Berkelanjutan

Publish

16 September 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
489
Istimewa

Istimewa

BANTUL, Suara Muhammadiyah– Tantangan sampah di kawasan wisata kini semakin mendapat perhatian serius. Tak terkecuali bagi Desa Wisata Edukasi Ikan Hias Dewi Kajii, Kadisoro, Bantul yang menjadi salah satu lokasi pemberdayaan masyarakat melalui program “Desa Wisata Zero Waste”. Sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat yang digagas oleh tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di bawah koordinasi Dr. Ratih Herningtyas, salah satu penerima program dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Sebagai bagian dari program tersebut, baru-baru ini digelar seminar bertema “Mengubah Sampah Menjadi Berkah: Edukasi, Ekonomi, dan Lingkungan”. Seminar ini menghadirkan Ananto Isworo, S.Ag., pendiri Gerakan Sedekah Sampah yang akrab disapa Ustadz Sampah, sekaligus penerima penghargaan Kalpataru dari Pemerintah DIY.

Dalam sesi edukasi, Ananto menekankan pentingnya perubahan pola pikir sejak dari rumah tangga. “Delapan puluh persen persoalan sampah selesai jika ada kesadaran bersama. Keluarga adalah titik awal,” ujarnya. 

Ia juga menggarisbawahi perbedaan antara bank sampah dan sedekah sampah. Menurutnya, sedekah sampah tidak hanya memberi nilai ekonomi, tetapi juga berdampak sosial karena hasilnya dialokasikan untuk kegiatan kemanusiaan.

Salah satu peserta, Rini Sutriasih, juga mengaku mendapat perspektif baru. “Saya sadar sekarang bahwa sampah bisa jadi sarana ibadah sekaligus pemberdayaan ekonomi. Dari rumah, saya akan mulai membiasakan anak-anak memilah sampah dan mengurangi plastik sekali pakai,” ungkapnya.

Gerakan ini diharapkan tidak berhenti pada satu kali kegiatan. Ketua tim pengabdian, Dr. Ratih Herningtyas, menargetkan agar praktik baik di Dewi Kajii bisa berkembang menjadi model pengelolaan sampah terpadu bagi desa wisata lain di DIY bahkan nasional. Melalui program BIMA (Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat), pendekatan zero waste ini dirancang tidak sekadar kampanye sesaat, melainkan budaya baru yang berkelanjutan.

“Desa wisata harus tetap menjadi sumber ekonomi tanpa menambah beban lingkungan. Inovasi pengelolaan sampah berbasis edukasi dan komunitas adalah kuncinya,” jelas Dr. Ratih.

Dengan dukungan akademisi, komunitas, dan tokoh agama, semangat Desa Wisata Zero Waste kini semakin relevan sebagai jawaban atas isu lingkungan yang terus berkembang. Dewi Kajii diharapkan menjadi contoh nyata bahwa sampah bukan lagi ancaman, melainkan berkah bagi masyarakat.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANJARNEGARA, Suara Muhammadiyah - Rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadi....

Suara Muhammadiyah

28 August 2025

Berita

MADIUN, Suara Muhammadiyah - Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) akan menj....

Suara Muhammadiyah

9 November 2023

Berita

PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah - Senyap tapi pasti, sudah lebih dari satu abad Muhammadiyah  me....

Suara Muhammadiyah

5 February 2025

Berita

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Gunungkidul, salah satu daerah di Yogyakarta yang terkenal dengan ....

Suara Muhammadiyah

27 September 2025

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah – Chyara Nayla Aretha, siswa kelas tehfidz VIA Sekolah Penggerak SD M....

Suara Muhammadiyah

4 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah