SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Harus diakui bersama, Muhammadiyah benar-benar organisasi gigantik. Bidang yang digarapnya mencakup seluruh lini kehidupan. Pendidikan, salah satunya.
"Kita boleh berbangga, pendidikan di Muhammadiyah, termasuk perguruan tinggi--bukan hanya kekayaan--ormas Islam di dunia yang paling banyak memiliki perguruan tinggi," beber Agung Danarto.
Kebanggaan itu sungguh sangat laik diekspresikan. Lebih-lebih, perguruan tinggi Muhammadiyah telah memiliki fakultas kedokteran.
"Sekarang sudah 23 fakultas kedokteran yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Luar biasa pendidikannya," ungkap Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Demikian juga pada bidang kesehatan, tak pelak menunjukkan hal mengagumkan dan membanggakan. Rumah sakit dan klinik, jumlahnya berceceran di pelbagai wilayah.
"Rumah sakit kita sudah memiliki 130 rumah sakit. Nah, kalau tambah klinik, ada 350-an lebih," ujarnya.
Tetapi, yang paling ironi, bidang ekonomi nyaris tidak tersentuh. Dakwahnya tampak remang-remang dan temaram.
"Kalau dalam aspek ekonomi, baru membangkitkan kesadaran kembali," katanya saat membuka Tanwir ke-3 Nasyiatul Aisyiyah di Puri Nalendra Ballroom Hotel Lor In Syariah, Adi Sucipto, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (6/8).
Dalam pada itu, Agung meminta agar Nasyiatul Aisyiyah harus mengambil peran nyata untuk mengimplementasikannya. Sebab, itu merupakan embrio dakwah Muhammadiyah pada awal-awal berdirinya.
"Dulu kesadaran itu sudah ada, bahkan Muhammadiyah itu lahir di kalangan para saudagar, para juragan baik itu yang di Kauman, Kotagede atau mungkin di Pekajangan, Solo, Laweyan, Surabaya dan lain-lain sebagainya," singkap Agung.
Tapi, realita saat ini menampakkan hal yang jauh panggang dari api. "Saat ini jumlah pengusaha di Muhammadiyah semakin lama semakin sedikit," bongkarnya.
Sementara, kala itu, "Semuanya adalah sentra-sentra saudagar. begal. Sentra-sentra pengusaha," ucapnya.
Fakta timpang dengan keadaan masa lampau itulah kemudian mendorong agar kader-kader Nasyiatul Aisyiyah untuk bergumul menggarap bidang dakwah ekonomi.
"Saya kira Nasyatul Aisyah harus betul-betul mempersiapkan dalam hal ini yaitu menjadikan pilar ekonomi sebagai pilar utama, Ini sesuatu hal yang luar biasa tidak mudah," ulasnya.
Jelaslah hal itu tidak bisa tidak. Musababnya apa? Tuntutan dan panggilan zaman hari ini menghendaki demikian.
"Kesadaran ini harus kemudian dibangkitkan lagi, dibangun kembali," pinta Agung. (Cris)

