KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah – Mengurus pendidikan itu tidak segampang membalikkan kedua telapak tangan. Lebih-lebih menyangkut pengelolaan data, menjadi krusial.
“Karena data itu memang luar biasa. Hanya Allah yang tahu atau tidaknya,” seloroh Didik Surhadi, yang turut membeberkan jumlah madrasah Muhammadiyah di Indonesia sekira 1.725.
Didik mengakui, melakukan pendataan itu tidak mudah. “Mendata sekolah itu masih beda-beda terus,” ungkap Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Problem yang muncul dipermukaan, dari jumlah itu, bongkar Didik, hanya ada sekira 50-60 madrasah yang memiliki murid di atas 500 atau kalkulasinya sebesar 4,30 persen.
“Saya hitung-hitung tidak sampai 50 atau 60-an. Kalau melihat data itu terus terang kami prihatin,” singkapnya.
Realitas empirik itu menjadi perhatian khusus bagi Muhammadiyah untuk berupaya sedemikian rupa membantu madrasah Muhammadiyah yang menghadapi problema tersebut.
“Kami selalu berusaha untuk bagaimana membantu madrasah kita dengan kondisi tersebut,” ujar Didik.
Di sinilah relevansi Rapat Kerja (Raker) Duta Madrasah Muhammadiyah menjadi titik awal bagi madrasah Muhammadiyah bangkit menjadi lebih maju dengan madrasah yang lain.
“Sekolah-sekolah kita masih banyak yang menunggu hasil limpahan dari sekolah negeri. Itu yang yang saya kira mindset itu harus kita ubah,” tekan Didik saat membuka di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Dadapan, Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (23/7).
Proyeksi Didik, madrasah Muhammadiyah dapat berkembang menjadi lembaga pendidikan yang unggul, berkualitas, dan dipercaya masyarakat. Karena itu, ia mengajak kepala madrasah Muhammadiyah untuk bergerak sejak dini mengkampanyekan madrasahnya masing-masing.
“Mulai berani saja membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di awal-awal. Ini yang harus kita tekankan betul kepada sekolah-madrasah kita,” tekannya.
Atas dasar ini, pembenahan manajemen madrasah Muhammadiyah menjadi keniscayaan. Bahwa sebagai kepala madrasah Muhammadiyah, harus memiliki keberanian melakukan perubahan tata kelola, termasuk meningkatkan kualitas manajemen madrasah.
“Ini saya kira penting untuk apa mulai merubah apa manajemen kita sehingga sekolah dasar kita bisa menjadi lebih baik,” pungkas Didik, yang juga Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Manajemen dan Kelembagaan. (Cris)

