Dunia Hadapi Global Catastrophic, ‘Aisyiyah Jawab dengan Dakwah Moderat

Suara Muhammadiyah

19 May 2026

317

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Denyut nadi gerak dakwah ‘Aisyiyah selama 109 tahun mendapat apresiasi dari banyak pihak, termasuk dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.

Menurutnya, ‘Aisyiyah terus bergerak secara gradual dengan menghadirkan banyak rintisan amal usaha di akar rumput. Yang dari sinilah kemudian memberikan benih manfaat bagi masyarakat secara luas.

“Kami secara khusus juga mengapresiasi langkah gerak 'Aisyiyah yang telah berjalan dalam perjalanan panjang, dan ada banyak terus rintisan di bidang dakwah, amal usaha, dan lain sebagainya,” ujar Haedar, Selasa (19/5) saat Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah di Covention Hall Walidah Dahlan Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu, Haedar memberikan catatan penting terhadap tema milad yang diusung "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian."

Benang merah dari tema ini dengan berpangkal dari perspektif wasathiyah, menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan. “Tetapi dengan perubahan-perubahan yang tidak ekstrem,” tegasnya.

Menurut Haedar, pengalaman sejarah banyak menunjukkan bahwa ekstremitas ketika dihadapi dengan ekstremitas lain akan melahirkan ekstremitas baru.

“Pendekatan kami adalah moderasi beragama dan moderasi berbangsa,” tekannya.

Selain menggunakan perspektif wasathiyah, berikutnya perspektif moderat. Di sini, kata Haedar, tidaklah gampang dilakukan, lebih-lebih di level global. Kenapa?

Publius Flavius Vegetius Renatus, penulis Kekaisaran Romawi mengemukakan, Si vis pacem, para bellum, “Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang.” Menurut Haedar, adagium ini sebetulnya untuk mencegah perang. Tetapi, belakangan ini justru jauh panggang dari api.

“Sekarang yang terjadi justru menciptakan perang karena ada sistem dan pemimpin-pemimpin dunia yang predator untuk menciptakan perang,” terangnya.

Jelaslah kemudian, atas alas itu, kondisi kehidupan bangsa di dunia memperihatinkan. “Kita tidak berdaya ketika terjadi perang Rusia-Ukraina, serangan Amerika ke Irak, apalagi genosida zionis Israel ke Gaza,” ungkapnya.

Akibatnya, dunia dihadapkan oleh realitas “Global Catastrophic”. Yakni prahara global di mana mana pikiran-pikiran modern, bahkan yang liberal sekalipun yang lahir dari renaisans, modernisme, postmodernisme. Maujudnya, merusak relasi sosial harmoni dan damai dalam jagat kehidupan.

“Sehingga saya menyebutnya sebagai jalan buntu dan jalan gelap modernisme dan postmodernisme,” urainya, menandaskan, selalu selektif dalam menyerap pikiran-pikiran Barat, sekalipun yang lahir dari Renaisans, berkembang dalam Aufklärung, dan berakar pada humanisme. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Fakultas Studi Islam Universitas Muhammadiyah Riau (FSI UMRI) ....

Suara Muhammadiyah

25 June 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Memotret kehidupan seorang tokoh tidak hanya dipandang dari p....

Suara Muhammadiyah

26 November 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) kembali mengirim tim relawan be....

Suara Muhammadiyah

9 December 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bekerja sama dengan Lemba....

Suara Muhammadiyah

7 March 2026

Berita

TASIKMALAYA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati milad ke-9 Universitas Muhammadiyah Tasi....

Suara Muhammadiyah

11 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah