BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Masjid Muhammadiyah Al-Muhajirin Banjarmasin (M3B) menggelar kegiatan Talkshow Edukasi Keuangan Syariah 1447 H pada Senin, 2 Maret 2026 M, bertepatan dengan 13 Ramadan 1447 H, bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan talkshow ini dirangkai dengan buka puasa bersama dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.
Dalam sambutannya, Ketua Masjid Muhammadiyah Al-Muhajirin Banjarmasin, Dr. M. Arif Budiman, M.E.I., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Semarak Ramadan 1447 H yang terdiri dari 21 agenda kegiatan. Seluruh rangkaian tersebut dirancang tidak hanya untuk menguatkan dimensi ibadah ritual, tetapi juga memperluas peran masjid sebagai pusat edukasi, literasi, dan pemberdayaan umat. Menurutnya, masjid harus hadir sebagai pusat peribadatan sekaligus pusat peradaban, tempat bertumbuhnya kesadaran spiritual dan kecerdasan sosial-ekonomi masyarakat.
Kegiatan yang diikuti oleh kalangan mahasiswa dan jamaah masjid ini menghadirkan narasumber Andika Prassetia dari Otoritas Jasa Keuangan yang menyampaikan materi bertajuk “Bijak dalam Mengelola Uang dan Waspada Penipuan Transaksi Keuangan.”
Andika Prassetia menjelaskan peran OJK sebagai lembaga negara independen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011. OJK memiliki fungsi mengatur, mengawasi, dan melindungi seluruh aktivitas di sektor jasa keuangan serta menjaga kepentingan konsumen dan masyarakat. Ia juga memperkenalkan keberadaan Kantor OJK Provinsi Kalimantan Selatan beserta berbagai kanal layanan yang dapat diakses masyarakat.
Dalam paparannya, Andika menekankan bahwa pengelolaan keuangan merupakan kebutuhan mendesak di tengah tantangan ekonomi modern. Setiap individu memiliki kebutuhan, impian, dan keinginan yang harus direncanakan secara matang. Kenaikan harga barang dan jasa akibat inflasi terus terjadi dari waktu ke waktu, sehingga nilai uang yang tidak dikelola dengan baik akan tergerus. Ia juga mengingatkan bahwa krisis dapat datang sewaktu-waktu, baik dalam bentuk pandemi, bencana alam, maupun konflik global, yang semuanya berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi keluarga. Fenomena generasi sandwich pun memperlihatkan betapa pentingnya kesiapan finansial lintas generasi.
Secara praktis, peserta diajak membangun kebiasaan menyusun anggaran pendapatan secara terstruktur. Setiap pemasukan perlu dialokasikan secara proporsional, mulai dari kewajiban sosial seperti zakat, infak, dan sedekah, tabungan dan investasi, kewajiban cicilan, hingga kebutuhan konsumsi. Dengan perencanaan yang disiplin, seseorang dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan kesiapan masa depan.
Dalam pembahasan mengenai utang, Andika menjelaskan perbedaan antara utang produktif yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan utang konsumtif yang berisiko membebani keuangan. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergoda fasilitas paylater tanpa perhitungan matang, serta secara tegas mengimbau untuk menjauhi rentenir dan pinjaman online ilegal. Disiplin membayar cicilan tepat waktu menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan finansial.
Bagian yang paling menyita perhatian jamaah adalah pembahasan tentang maraknya penipuan transaksi keuangan. Andika memaparkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, laporan penipuan transaksi keuangan secara nasional mencapai ratusan ribu kasus dengan nilai kerugian hingga triliunan rupiah. Salah satu modus yang paling sering digunakan adalah social engineering, yakni manipulasi psikologis yang membuat korban panik atau tergiur sehingga tanpa sadar memberikan data pribadi atau mengikuti instruksi pelaku.
Ia menekankan pentingnya kecepatan melapor. Banyak korban kehilangan kesempatan menyelamatkan dana karena terlambat melapor, padahal uang dapat berpindah dalam hitungan menit ke berbagai instrumen digital. Jika terlanjur menjadi korban, masyarakat diminta segera mengumpulkan bukti transaksi dan percakapan, lalu melapor melalui kanal resmi seperti SIPASTI dan IASC OJK, menghubungi kontak 157, serta menyampaikan laporan kepada pihak kepolisian. Edukasi dan penyebaran informasi dinilai sebagai bentuk perlindungan kolektif masyarakat.
Suasana talkshow berlangsung interaktif. Mahasiswa dan jamaah M3B tampak antusias menyimak dan berdiskusi, menunjukkan bahwa literasi keuangan syariah menjadi kebutuhan nyata di tengah perkembangan ekonomi digital.
