MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Kader merupakan salah satu kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan gerakan Muhammadiyah. Karena itu, kaderisasi tidak cukup hanya melahirkan orang-orang yang memahami organisasi, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki keteguhan spiritual, kematangan mental, keluasan intelektual, dan kemandirian finansial.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Jumari Al Ngluwar, dalam Musyawarah Pimpinan Daerah (Musypimda) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Magelang di SMK Muhammadiyah Dukun, Sabtu (12/9/2026).
Jumari menyebut empat kekuatan tersebut sebagai bekal penting bagi kader dalam menghidupkan persyarikatan. Spiritualitas, mentalitas, intelektualitas, dan kemandirian ekonomi perlu berjalan beriringan agar kader tidak hanya kuat secara pribadi, tetapi juga mampu memikul amanah organisasi dan dakwah.
Pertama, kekuatan spiritual. Jumari mengingatkan pesan Surah Fussilat ayat 30 tentang orang-orang yang mengatakan Allah adalah Tuhan kemudian mereka beristiqamah. Istiqamah menjadi kata kunci dalam membangun keteguhan kader.
Ketakwaan, menurutnya, tidak berhenti pada ruang ibadah. Nilai-nilai ketakwaan harus dibawa ke dalam seluruh kehidupan, termasuk ketika bekerja, berdagang, bermasyarakat, maupun ketika mendapatkan amanah dalam persyarikatan.
Kedua, kekuatan mental. Seorang kader perlu memiliki kesabaran sekaligus rasa syukur. Dua sikap tersebut penting agar kader tidak mudah larut dalam kemarahan, kekecewaan, atau persoalan internal organisasi.
Kemampuan menahan diri dan tetap rendah hati merupakan bentuk kematangan mental. Dalam kehidupan persyarikatan, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi ruang untuk belajar mengelola keragaman.
Ketiga, kekuatan intelektual. Jumari mendorong kader untuk membangun tradisi berpikir yang tidak tercerabut dari nilai-nilai spiritual. Pikir dan zikir perlu berjalan bersama.
Ia mengingatkan pesan dalam Surah Ali Imran ayat 193. Kemampuan intelektual diperlukan agar kader mampu membaca realitas secara jernih, termasuk menemukan sisi kebaikan dari keadaan yang tidak selalu sesuai dengan harapan.
Sementara keempat adalah kekuatan finansial. Kemandirian ekonomi menjadi penting agar kader tidak menjadikan jabatan persyarikatan sebagai jalan memperoleh keuntungan pribadi.
Menurut Jumari, pimpinan yang telah selesai dengan kepentingan dirinya akan lebih leluasa memberikan pengabdian. Energi organisasi tidak habis untuk perebutan posisi, kepentingan pribadi, ataupun persaingan yang tidak sehat.
Menghidupkan Dakwah dari Ranting
Penguatan kader tersebut berkelindan dengan agenda PDM Kabupaten Magelang untuk memperkokoh konsolidasi organisasi hingga tingkat ranting.
Ketua PDM Kabupaten Magelang, Nasiruddin, mengatakan Musypimda menjadi ruang evaluasi perjalanan Muhammadiyah dalam dua hingga tiga tahun terakhir sekaligus menyiapkan langkah gerakan untuk periode berikutnya.
Menurutnya, ukuran kekuatan Muhammadiyah tidak hanya terletak pada aktivitas pimpinan di tingkat daerah. Persyarikatan akan benar-benar kuat apabila kehidupan organisasi dan dakwah tumbuh sampai ke tingkat ranting.
Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), karena itu, didorong untuk lebih aktif menghidupkan ranting. Ranting tidak boleh berhenti sebagai struktur organisasi, tetapi harus menjadi ruang tumbuhnya dakwah, kaderisasi, pelayanan sosial, dan kegiatan keumatan.
“Yang harus kita kuatkan adalah gerakannya sampai bawah. Ranting jangan hanya ada secara struktural, tetapi benar-benar hidup dan memiliki aktivitas dakwah,” ujar Nasiruddin.
Bagi Muhammadiyah, menghidupkan ranting berarti mendekatkan dakwah dengan kehidupan masyarakat. Di tingkat inilah nilai-nilai Islam berkemajuan dapat diterjemahkan menjadi amal nyata.
Karena itu, konsolidasi organisasi dan penguatan kader bukan sekadar agenda struktural. Keduanya merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan gerakan Muhammadiyah agar tetap relevan, mandiri, dan memberi manfaat luas bagi umat dan masyarakat.
Empat kekuatan kader yang ditekankan Jumari pada akhirnya bermuara pada satu hal: kader yang kokoh untuk menghidupkan dakwah dan memajukan persyarikatan.(*)

