SURABAYA, Suara Muhammadiyah — Suasana di Kebun Bibit Wonorejo, Kamis (09/04/2026), tampak berbeda. Tawa riang dan semangat siswa SD Muhammadiyah 24 Surabaya menyatu dengan udara segar, menandai dimulainya English Camp bertema “The Little Explorers: Discover, Play, Speak.” Bukan sekadar belajar, kegiatan ini mengajak siswa menjelajah bahasa Inggris lewat pengalaman nyata yang menyenangkan.
Mengusung konsep pembelajaran di alam terbuka, siswa dibagi dalam kelompok kecil dan ditantang menyelesaikan berbagai permainan edukatif. Salah satu yang paling menarik adalah Activity Card, di mana siswa harus menyusun potongan kalimat acak menjadi kalimat utuh dalam waktu terbatas. Potongan kertas berisi kosakata menjadi “puzzle bahasa” yang menguji kecepatan sekaligus ketepatan berpikir mereka.
Koordinator kelas bilingual, Ella Mafruchani, menjelaskan bahwa metode ini dirancang untuk melatih kemampuan komunikasi tertulis secara cepat dan efektif. “Siswa tidak hanya mengingat kosakata, tetapi juga belajar menyusunnya menjadi kalimat yang tepat dalam tekanan waktu,” ujarnya.
Tak kalah seru, permainan Time Talker mengajak siswa berlatih menyebutkan waktu dalam bahasa Inggris menggunakan media jam dinding. Dalam durasi yang terbatas, setiap kelompok berlomba menjawab dengan cepat dan tepat, menjadikan pembelajaran terasa dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Semangat kompetisi semakin terasa ketika setiap keberhasilan tim dihargai dengan stiker bintang karakter. Di akhir kegiatan, beberapa tim berhasil mencuri perhatian, di antaranya Tim Wolf sebagai The Most Disciplined Group, Tim Cheetah sebagai The Neatest and Cleanest Group, Tim Goat sebagai The Most Active Group, serta Tim Bee dengan predikat Best Chant.
Melalui pendekatan belajar berbasis permainan ini, SD Muhammadiyah 24 Surabaya menunjukkan bahwa pembelajaran tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Alam terbuka dan media sederhana justru mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih hidup dan bermakna.
Ella berharap, pengalaman ini menjadi titik awal tumbuhnya kepercayaan diri siswa dalam menggunakan bahasa Inggris. “Kami ingin mereka berani berbicara dan terbiasa menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian,” tutupnya. (Dini)
