BANDAR LAMPUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buya Anwar Abbas, mengajak masyarakat untuk tidak meremehkan setiap ikhtiar menjaga lingkungan, meskipun terlihat kecil. Menurutnya, kepedulian terhadap kelestarian bumi merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan dan investasi bagi masa depan generasi mendatang.
Pesan tersebut disampaikan Anwar Abbas saat menutup Pelatihan Kader Lingkungan dan Sosialisasi Haji Ramah Lingkungan yang diselenggarakan oleh Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung dan Badan Pengelola Keuangan Haji, di Bandar Lampung, Ahad (5/7).
Dalam pidatonya, Anwar mengibaratkan gerakan pelestarian lingkungan yang dilakukan Muhammadiyah seperti kisah burung pipit dalam peristiwa Nabi Ibrahim AS ketika dibakar oleh Raja Namrud.
"Apa yang dilakukan MLH Muhammadiyah mungkin dianggap kecil, bahkan barangkali ada yang menganggap tidak berguna. Tetapi kita melakukan ini karena kita peduli terhadap masa depan anak cucu kita dan kita peduli terhadap masa depan bumi ini," katanya.
Ia kemudian mengisahkan bagaimana seekor burung pipit terbang membawa setetes air untuk membantu memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Upaya itu ditertawakan oleh binatang lain karena dinilai tidak akan mampu memadamkan kobaran api yang sangat besar.
Namun, lanjut Anwar, burung pipit tetap melakukannya karena ingin berbuat sesuatu demi menolong Nabi Ibrahim dan memperoleh nilai kebaikan di hadapan Allah SwT.
"Burung pipit itu sadar air yang dibawanya tidak akan mampu memadamkan api. Tetapi ia ingin menunjukkan bahwa dirinya berpihak kepada kebenaran dan ingin memperoleh nilai kebaikan di hadapan Allah," ujarnya.
Menurut Anwar, filosofi tersebut relevan dengan berbagai upaya pelestarian lingkungan saat ini. Meskipun dampaknya mungkin belum terlihat besar, setiap tindakan baik memiliki makna moral dan spiritual.
Ia menegaskan bahwa Allah SwT telah menciptakan bumi dengan keseimbangan yang sempurna. Kerusakan lingkungan, menurutnya, sebagian besar terjadi akibat perilaku manusia yang mengabaikan prinsip-prinsip menjaga alam.
"Allah telah menciptakan bumi ini dengan keseimbangan. Kalau tidak diusik oleh manusia, tidak akan ada masalah. Tetapi karena keseimbangan itu diusik, maka terjadilah berbagai bencana," tuturnya.
Anwar menyinggung berbagai bencana banjir bandang yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh sebagai peringatan bahwa kerusakan lingkungan memiliki kaitan erat dengan perilaku manusia.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam membangun hubungan antara manusia dan alam.
"Tindakan dan perilaku kita harus dituntun oleh agama, oleh nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Jangan sampai kita menjalani kehidupan ini tanpa memperhatikan nilai-nilai tersebut. Dengan itulah kita dapat mengantarkan bumi kembali kepada keseimbangannya," ujarnya.
Ia juga mengingatkan peserta agar menjadikan Al-Qur'an sebagai landasan dalam memandang alam semesta. Anwar mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ali 'Imran ayat 190, "Inna fī khalqis-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfil-laili wan-nahāri laāyātin li ulil albāb" yang berarti, "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal."
"Ayat tersebut mengajarkan bahwa alam semesta diciptakan dengan keteraturan dan keseimbangan sehingga manusia berkewajiban menjaga, bukan merusaknya," tandasnya.

