Getah dari Amarah, Penyakit yang Melimpah Ruah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
294
dr Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes

dr Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Manusia mesti bijak dalam memilih teman. Lebih-lebih, di tengah dekadensi moral yang mewabah di peradaban manusia abad modern.

“Bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik,” demikian Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah menekankan.

Parameter akhlak yang baik, tersebut di Qs ali-Imran ayat 134—memuat pula representasi orang bertakwa—orang yang menahan amarahnya hatta memancing kemarahan dan perseteruan.

Menggarisbawahi konteks ini, Agus menyebut, implikasinya begitu rupa. “Marah ini ternyata dampaknya luar biasa,” bebernya, Selasa (31/3) saat Halal Bi Halal dan Pelepasan Calon Jamaah Haji Keluarga Besar Universitas Islam Indonesia 1447 H di Auditorium KH Ahmad Kahar Muzakir.

Dari sudut pandang kesehatan, misalnya, tak pelak marah menjadi pangkal dari turunnya sistem imun dalam tubuh. “Ini terpengaruh pada orang marah,” kata Agus, menyebut derivasi penyakitnya antara lain berhubungan dengan penyakit jantung koroner.

“Kalau ingin sakit jantung, sering-sering saja marah,” ucapnya, seloroh dengan partikel penyakit lainnya yang muncul, stroke. “Ini penyakit terberat,” imbuhnya lagi.

Kenapa begitu? “Karena stroke ini menjadi penyebab kematian,” sambung Agus. Yang ini telah menyeruak di banyak rumah sakit.

Bahkan, di sejumlah negara, banyak negara, ditemukan kalau penduduknya mengalami kematian mendadak. “Dan penyakit dengan sequelae (kondisi, gejala) kelemahan tertinggi,” urainya.

Fakta penelitian membuktikan, kalau penyakit stroke sangat berkorelasi dengan konteks kemarahan. Temuan di lapangan pun benar-benar kredibel, dan tak terbantahkan lagi.

“Ada yang menyebut 2/3 dari pasien yang dirawat di rumah sakit karena stroke sebelumnya mengalami emosi negatif,” terang Agus.

Secara spesifik, stroke bentuknya ada dua tipe. Pertama, stroke iskemik; ketika pembuluh darah arteri yang membawa darah dan oksigen ke otak mengalami penyempitan atau tersumbat, seringkali oleh bekuan darah.

“Biasanya orangnya tidak nyeri kepala, tetap sadar, tidak mengancam kehidupan, tidak prognosis kematiannya rendah, tapi tingkat kesembuhannya lebih lambat,” jelasnya.

Kedua, stroke hemoragik; ketika pembuluh darah di otak pecah atau bocor, menyebabkan darah menumpuk dan menekan jaringan otak di sekitarnya.

“Biasanya nyeri kepala hebat sampai penurunan kesadaran. Mengancam kematian karena prognosis kematiannya tinggi,” urainya.

Sedemikian rupa bunga rampai dampak yang ditimbulkan dari perangai marah. Dan umat Islam, pasca-puasa, niscaya telah terkendali jiwanya dari letupan amarah.

“Mari berusaha tidak mudah marah agar hikmah pergaulan silaturahminya dapat dan juga kita tidak yang lain (penyakit yang ditimbulkan akibat marah),” pungkas Agus. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Kesinambungan nilai dan budaya organisasi kampus menjadi fondasi utama ....

Suara Muhammadiyah

13 January 2026

Berita

PALEMBANG, Suara Muhammadiyah - Menutup CRM (Cabang Ranting dan Masjid) Award 2024, Agung Danarto, K....

Suara Muhammadiyah

3 November 2024

Berita

Sekolah Menengan Kejuruan (SMK) Islam Ruhama Lab School of Uhamka meresmikan gedung dan fasilitas ba....

Suara Muhammadiyah

23 July 2025

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PWM DIY bersama Forum Pen....

Suara Muhammadiyah

10 February 2025

Berita

PADANGPANJANG, Suara Muhammadiyah -- Bertempat di Gedung Pertunjukkan Hoeriyah Adam, ISI Padang Panj....

Suara Muhammadiyah

27 April 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah