YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Belakangan ini, cuaca di Yogyakarta dan sekitarnya terasa sangat panas. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli–September 2026.
“Secara umum, kita sudah mengerti kita mulai masuk di musim kemarau. Dan musim kemarau diprediksi cukup panjang dan lebih kering karena faktor El Nino,” kata Budi Setiawan.
Menurut Budi, kondisi tersebut menuntut kesiapan dan antisipasi dari masyarakat. Namun, Ketua Lembaga Resiliensi Bencana Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menilai upaya kesiapsiagaan masyarakat masih perlu ditingkatkan.
Di situlah Budi menyebut, ia telah melakukan koordinasi dengan berbagai kelompok relawan, khususnya di lingkungan Muhammadiyah, untuk mengedukasi masyarakat terkait dampak musim kemarau.
“Kami merasa ada satu hal yang perlu kami lakukan, khususnya melalui Muhammadiyah, melalui para mubaligh untuk mengingatkan masyarakat tentang ancaman bahaya,” ujarnya.
Ancaman bahaya itu mencakup kekeringan, kesehatan, kualitas udara, dan sebagainya. “Memang itu akan sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat,” demikian disebut Budi, Selasa (23/6) saat Dialog Tanggap Bencana di RRI Yogyakarta.
Budi juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang kurang baik turut yang turut mempengaruhi kondisi lingkungan. Seperti membuang putung rokok serampangan, misalnya, yang sering dianggap sepele, tetapi sebenarnya berdampak sangat besar terhadap lingkungan.
“Kita harus betul-betul mengingatkan masyarakat, khususnya para perokok, untuk tidak membuang putung rokok dalam keadaan menyala,” terangnya.
Dalam konteks musim kemarau, terutama di area lahan terbuka yang kering, Budi meminta masyarakat lebih berhati-hati terhadap potensi munculnya titik api.
“Kalau kita melihat titik api, harus segera dipadamkan. Kalau tidak mampu, harus segera ke damkar. Kalau titik api kecil yang tidak terpantau ini sangat berbahaya,” bebernya.
Budi mengakui bahwa wilayah DIY relatif jarang mengalami kemunculan titik api tinimbang wilayah Sumatera dan Kalimantan yang kerap mencatat kemunculan banyaknya titik api.
“Tetapi, kita tidak boleh abai,” tekan Budi, seraya mengingatkan peristiwa kebakaran hutan dan lahan tahun 2016, perlu menjadi kaca benggala bagi seluruh masyarakat atas bencana ekologis itu yang berulang hampir setiap musim kemarau.
Karena itu, di tengah musim kemarau ini, Budi mengajak masyarakat untuk saksama dalam menjaga lingkungan serta menghindari tindakan yang berpotensi menimbulkan kebakaran dan kerusakan alam.
Pada saat yang sama, Budi juga berkolaborasi dengan Majelis Tabligh dalam menyosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan. Melalui implementasi nilai-nilai dakwah, mereka mengajak masyarakat untuk senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.
“Inilah yang dilakukan oleh kita penguatan kapasitas masyarakat melalui sosialisasi yang tidak boleh lelah,” tegas Budi. (Cris)

