YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir melepas kepergian Siti Chamamah Soeratno, Rabu (8/7) di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.
Haedar merasa kehilangan tokoh besar Muhammadiyah-'Aisyiyah tersebut. Yang juga merupakan sosok cendekiawan muslimah yang mumpuni.
"Innalilahi wa Innailaihi Raji'un. Sungguh merasakan kehilangan yang terdalam. Saya yakin keluarga lebih dari itu, para saudara semua dan seluruh kita keluarga," katanya.
Semua itu, kata Haedar, merupakan bagian dari otoritas Allah yang telah menetapkan garis ajal. Bahwa segenap umat manusia tidak bisa menghindari ajal tersebut.
"Setiap umat ada berbatas waktu, berbatas akhir kehidupan kita yang disebut ajal. Dan siapa pun tidak bisa menunda maupun menyegerakan kapan batas ajal tiba, hanya Allah lah yang memiliki dan mampu segalanya," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Haedar menceritakan kisah hidup Chamamah. Singkapnya, tokoh tersebut merupakan akademisi dan cendikiawan sejati. "Yang ilmunya sudah ar-rosyidun fil ilmu," ucapnya.
Menariknya, diceritakan Haedar, Syamsul Anwar, Ketua PP Muhammadiyah, merupakan orang Melayu. Ketika merantau ke Yogyakarta, ia belajar bahasa sastra kepada almarhumah.
"Jadi, betapa orang Melayu saya saja. Belajar sastra Melayu pada sosok yang asli Kauman Yogyakarta. Intinya betapa ilmunya mendalam pada apa yang beliau menjadi saksi beliau ini," tuturnya.
Sebagai notabene seorang akademisi di Universitas Gajah Mada, Chamamah merupakan sosok yang sangat selektif. "Sampai kata dan dikata kita selalu dikoreksi. Cinta ilmunya luar biasa," bongkarnya. Demikian ia juga sebagai pendidik, "dan menjadi bagian dari imam," tambahnya.
Karena itu, Haedar berpesan kepada kawula muda agar meresapi cuilan teladan dari sosok Chamamah. "Kita yang hadir lebih dari dan muda-muda contohlah beliau, yang sangat cinta ilmu," ajaknya.
Selain seorang akademisi, pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP 'Aisyiyah periode 2000-2005 dan 2005-2010. Kesaksian Haedar, ia seorang yang gigih dan memiliki militansi yang begitu rupa.
"Selalu mendorong kita untuk tidak kenal lelah, tidak patah semangat, dan spirit tinggi," ucapnya.
Kegigihan itu yang terpotret sejak awal Haedar mengenal Chamamah sampai akhir hayatnya. "Kegigihannya luar biasa. Bahkan tidak mengenal waktu, tidak mengenal keadaan," ulasnya.
Satu hal yang menjadi kenangan Haedar kata-kata dari Chamamah yang amat menghunjam: "Muhammadiyah itu hebat, 'Aisyiyah itu hebat."
"Pemikirannya banyak melampaui zamannya. Dan amaliahnya dirasakan langsung tanpa banyak retorika," sebut Haedar.
Lebih-lebih, selalu berpikiran maju dan ingin membuat nyata yang terbaik untuk umat untuk bangsa.
"Dan karena itulah perjuangan dan juga bangsa di nasional sampai internasional," tambah Haedar lagi.
Pada saat yang sama, Haedar mendoakan Chamamah mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Dan diterima seluruh amal kebajikan selama hidup di muka bumi.
"Kita lepas beliau dengan keikhlasan yang penuh. Serta di doa semoga beliau Husnul khatimah ini, di lapangkan nanti di kuburnya, diterima amal ibadahnya. Dan ditempatkan di jannatun na'im," tandasnya. (Cris)

