Haedar Nashir Raih Penghargaan Prestisius HB IX dari UGM

Publish

19 December 2024

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1739
Doc. Istimewa

Doc. Istimewa

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir meraih penghargaan Hamengku Buwono IX dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Penghargaan ini diterima saat Dies Natalis ke-75 dan Lustrum ke-15 UGM, Kamis (19/12) di Grha Sabha Pramana UGM Bulaksumur, Sleman, DIY.

Kategori penghargaan yang diterima Haedar yaitu dibidang pendidikan, sosial, politik, dan kemanusiaan. Rektor UGM Ova Emilia menyerahkan penghargaan tersebut. Lulusan Sosiologi UGM ini merasa terhormat menerima penghargaan ini. Ia menyampaikan terima kasih atas kesempatan untuk menerima penghargaan prestisius ini.

“Terima kasih kepada Bu Rektor UGM dan seluruh jajaran, juga terima kasih kepada Kraton dan semua pihak yang telah membuat saya diberikan kesempatan untuk memperoleh anugerah penghargaan HB IX ini dari UGM tercinta,” ujarnya.

Haedar menceritakan pengalamannya mengenyam pendidikan di UGM. Ia mengungkapkan selema 6 tahun menyelesaikan magister dan doktor. Disitulah Haedar memperoleh banyak pengajaran yang kemudian dikerucutkan ke dalam lima nilai-nilai utama.

Pertama, nilai kebenaran berbasis ilmu yang terkoneksi dengan Pancasila, agama, dan kebudayaan luhur bangsa. Bagi Haedar, nilai pertama ini diperolehnya lewat para dosen yang sangat tinggi menggembleng para mahasiswanya. “Agar kita menjadi ilmuwan yang berpijak pada kebenaran di mana pun berada,” ulasnya.

Kedua, tradisi keilmuan. Haedar menyebut UGM bukan sekedar kampus akademik, tapi juga school of thought (sekolah pemikiran). “Jujur, saya sendiri memperoleh banyak alat metodologi yang teori yang interkoneksi dari kampus tercinta ini,” ungkapnya.

Ketiga, persatuan dalam keragaman. Haedar menyebut jika UGM lahir dengan latar belakang yang sangat heterogen. “Itu hidup tumbuh di kampus ini,” katanya. Keempat, kampus kerakyatan yang memberi kecintaan terhadap rakyat.

“Mencintai rakyat dengan kerja-kerja praksis keilmuan lewat KKN dan peran-peran para alumninya dan institusi ini untuk selalu membebaskan, memberdayakan, dan memajukan. Jadi cinta rakyat harus diterjemahkan ke situ. Tidak cukup simbolik, tapi membuat kebijakan dan langkah yang memberdayakan rakyat itu yang perlu,” tegasnya.

Kelima, orientasi global. Menurut Haedar UGM, juga kampus Muhammadiyah harus lebih kuat melebarkan gerakan ke arah global. Salah satunya SDG’s perlu menjadi perhatian akademisi di perguruan tinggi. “Itu sebenarnya kerja-kerja proyektif ke depan yang bisa menyelamatkan Indonesia dan dunia," tandasnya. (Cris/Jan)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah - Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) kembali menorehkan prestasi gemila....

Suara Muhammadiyah

22 October 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dorongan pembangunan ekonomi yang kerap mengabaikan keberlanj....

Suara Muhammadiyah

29 November 2025

Berita

BANYUWANGI, Suara Muhammadiyah – Setelah enam hari melaksanakan Forum Ta’aruf Dan Orient....

Suara Muhammadiyah

21 July 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Maraknya kasus kekerasan di lingkungan pelayanan kesehatan menjadi ....

Suara Muhammadiyah

21 April 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Gerakan Subuh Mengaji (GSM) ke-160 kembali hadir untuk memperluas syia....

Suara Muhammadiyah

31 August 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah