SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Musim haji segera tiba. Segenap calon jamaah haji bersiap menyambut dengan penuh sukacita dan disertai kesyukuran yang terperi atas kesempatan Tuhan yang begitu rupa.
"Tentu beruntung orang yang bisa menjalankan ibadah suci ini karena ini bagian dari kewajiban untuk hamba Allah yang mampu," demikian ujar Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, berimplikasi dengan Qs ali-Imran ayat 97.
“Berhaji itu menjadi kewajiban bagi hamba Allah yang telah sampai kepada kriteria istitha'ah (mampu),” ujarnya, Jumat (17/4) saat Khutbah Jumat di Masjid Sakina Idaman Nyi Condro Loekito Blunyah Gede, Sinduadi, Mlati, Sleman.
Kriteria yang dimaksud di sini, sebut Agus, dari sisi biaya akomodasi. “Sejak dari perjalanan, selama berada di tanah suci, dan juga kepulangannya,” katanya, ditambah dari sisi kesehatan. Yang ini jelas amat sangat fundamental dalam rangkaian ibadah haji.
“Agar ketika orang itu berangkat ke tanah suci menjalankan ibadah haji yang manasiknya sebagian besar ibadah fisik, betul-betul memenuhi kriteria kesehatan bisa menjalankan ibadah itu,” imbuh Agus.
Karena itu, bagi jamaah yang berangkat pada tahun ini, diharapkan bisa menjalankan ibadah haji dengan manasik yang benar. Sebab, Rasulullah memerintahkan, Khudzu 'anni manasikakum, agar mengambil manasik haji dengan apa yang sesuai yang dilakukan Rasulullah.
“Haji adalah bagian dari ibadah mahdah, maka ibadah mahdah ketentuannya segala syarat rukun yang harus dijalani sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasul. Manakala tidak seperti yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tertolahlah amalan itu,” tegas Agus.
Ibadah haji yang ditunaikan dengan benar, sambungnya lagi, niscaya mendapat balasan setimpal berupa surga (al-jannah). Di sinilah ikhtiar mesti dilakukan oleh umat Islam, pelan tapi pasti, kelak bisa termanifes sesuai dengan harapan yang dipinta.
“Kita harus berikhtiar bagi yang belum menjalankan ibadah haji agar suatu waktu nanti kita menjadi bagian yang diberi kriteria istitha'ah bisa menjalankan ibadah haji itu dan tentu kita ingin menjadi haji yang mabrur,” jelasnya.
Di lain sisi, bagi yang telah berhaji, Agus minta tetap menjaga agar kemabruran haji Lain lagi, yang belum menunaikan ibadah haji, masih ada kesempatan di tahun ke berikutnya. “Semoga Allah memimpin kita menjadi hamba-hamba yang bisa dipanggil menjalankan ibadah di tanah suci,” katanya, penuh harap.
Manifestasi Ketakwaan dan Ketaatan
Selain ibadah haji, di saat yang sama, ada juga ibadah yang bisa ditunaikan—bagi yang belum berkesempatan menunaikan rukun Islam yang kelima itu—yakni dengan berkurban. Dasarnya terpublikasi di dalam Qs al-Kautsar ayat 2: fa shalli lirabbika wan-ḫar. “Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”
“Bagi orang yang sudah mampu menyembelih kurban tetapi ia tidak mau mengeluarkan kurban itu, Rasul menyebutkan kita begitu dibenci sehingga tidak diperkenankan mendekati tempat salatnya Rasul,” beber Agus.
Hewan kurban yang disembelih, ungkapnya, secara transendental sebagai manifestasi dari upaya melakukan ketakwaan kepada Allah. “Yang akan sampai kepada Allah bukan dagingnya, bukan pula darahnya, tetapi yang sampai kepada Allah adalah niat yang dilandasi ketakwaan,” tekannya.
Demikian pula, dengan daging kurban yang dibagikan kepada yang berhak menerimanya, niscaya menjadi bagian dari amal saleh yang berdimensi sosial luar biasa.
“Selain transendental kepada Allah, ibadah kurban itu membangun kepedulian sosial,” bongkar Agus, seraya berharap mendapat panggilan Allah untuk bisa menjalankan ibadah haji dan kurban yang sarat muatan spiritual dan transendental itu. “Ketika tuntunan itu sudah sampai kepada kita,” tukasnya. (Cris)
