Halal bihalal Bahas Orang Tua yang Dimuliakan

Publish

20 April 2024

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
497
Foto Istimewa

Foto Istimewa

SOLO, Suara Muhammadiyah –  Halal bihalal pasca Ramadan tradisi khas masyarakat muslim Indonesia dan tidak ditemukan dalam budaya muslim di Arab. 

Hal itu disampaikan oleh Da’i Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Jatmiko MPd Gr CPS, saat mengawali tausyiah Halal bihalal Rukun Tetangga (RT) 02 RW IV di Kelurahan Gajahan, Pasar Kliwon, Solo, Jumat Malam (19/4/2024).

”Tiga orang tua yang harus dimuliakan. Orang tua yang melahirkan, orang tua yang menikahkan atau mertua dan orang tua yang mengajarkan bisa guru bisa juga atasan atau pimpinan kita. Karena dalam tradisi jawa orang tua disebut sepuh, asepnya lebih ampuh,” ucap Jatmiko.

Guru al Islam dan bahasa Arab SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo itu juga mengingatkan, era modern ini, sesungguhnya bisa saja saling berucap maaf dilakukan lewat ponsel, bahkan juga lewat facebook, twitter dan sebagainya. Akan tetapi kerinduan akan saling bertemu fisik tatap muka jauh lebih penting dari apa saja.

“Halal bihalal siapa saja boleh hadir. Tidak ada larangan. Halal merupakan lawan kata dari haram, menyelesaikan masalah, meluruskan benang kusut, mencairkan yang membeku, melepaskan ikatan yang membelenggu,” terang Jatmiko.

Lantas mengutip al-Quran Surat Ali Imran 133 yang artinya: “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

“Insya Allah Ramadhan kemarin kita sudah menyambut dengan penuh kegembiraan nan suka cita, sekarang menuju pada ampunan Tuhan. Saling memberi maaf dengan symbol saling bersalaman,” ujarnya, Alumnus Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta.

Halal bihalal mula-mula dirintis Pangeran Sambernyawa. Lalu, dipopulerkan zaman presiden Soekarno. Kegiatan Halal bihalal bertempat di  TK Aisyiyah Gajahan yang beralamat di Jl. Patang Puluhan Gg. Ii/ 126 dan dihadiri Ketua RT Santosa Subroto dan Lurah Gajahan Suyono MHum.

Dalam sambutannya Lurah Gajahan Suyono MHum mengatakan semua makhluk tempatnya salah apalagi manusia. Lupa dan khilaf.  “Kami mewakili pemerintah kelurahan Gajahan. Kami mohon maaf lahir batin sekaligus sebagai keakraban kami. Demikian saya sebagai makhluk banyak kekurangannya,” ujarnya.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Asosiasi Pengelola Asrama Mahasiswa (ASLAMA) terdiri dari 56 asra....

Suara Muhammadiyah

5 March 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah men....

Suara Muhammadiyah

24 March 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - New Religious Movements (NRMs), sebuah gelombang baru gerakan keaga....

Suara Muhammadiyah

15 March 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Ibadah kurban merupakan ibadah yang multidimensi. Selain ibadah berdime....

Suara Muhammadiyah

20 June 2024

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) Universitas Muhammad....

Suara Muhammadiyah

22 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah