LONDON, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya dan Irlandia menggelar Hari Bermuhammadiyah (HBM) Gembira ke-1, Sabtu (19/9) di Indonesian Islamic Centre London, Neasden. Acara ini dirangkaikan dengan MoU antara PCIM Britania Raya dan Irlandia dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Ketua Panitia Hari Bermuhammadiyah Gembira ke-1 Syahirul Alim Ritonga sangat bersyukur dengan antusiasme warga, terutama mahasiswa baru, sangat tinggi menghadiri acara tersebut. Bahkan, ada yang baru beberapa hari tiba di Britania Raya dan datang jauh-jauh dari luar kota London untuk ikut kegiatan ini.
“Kami ingin mereka merasa punya keluarga di sini sejak awal. Semoga Hari Bermuhammadiyah Gembira bisa menjadi agenda rutin PCIM ke depan," ujar Syahirul.
Rangkaian acara ini dikemas dengan diskusi Muhammadiyah Intellectual Forum bertajuk "Muhammadiyah for All". Sebagai narasumber Sarjito, Guru Besar UMS sekaligus Ketua PCIM UK periode 2009 hingga 2011.
Dalam paparannya, Sarjito menegaskan, di Muhammadiyah, identitas yang teguh berjalan bersama pelayanan tanpa diskriminasi. "Inilah sesuatu yang indah dalam pengalaman Muhammadiyah,” bebernya.
Mencontohkan Sekolah Muhammadiyah, disebutnya tidak hanya mendidik anak Muhammadiyah, tetapi juga mendidik seluruh anak bangsa tanpa membeda-bedakan latar belakang.
“Rumah sakit Muhammadiyah tidak bertanya sebelum menolong, apakah kamu punya kartu anggota Muhammadiyah. Dokter juga tidak bertanya kepada pasiennya, Anda Muslim atau bukan. Itulah cirinya Muhammadiyah. Orang membutuhkan pertolongan kita, kita tolong karena ia manusia," lanjutnya.
Usai forum, acara dilanjutkan dengan penandatanganan MoU oleh Wakil Rektor UMS, Supriyono dan Ketua PCIM Britania Raya dan Irlandia, Ince Dian Aprilyani Azir.
Ince mengemukakan, kerja sama ini mencakup pertukaran mahasiswa untuk studi dan riset, program jangka pendek, pertukaran dosen untuk pengajaran dan penelitian, kolaborasi riset dan publikasi, seminar dan konferensi bersama, dan lain sebagainya.
“MoU berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang atas persetujuan tertulis kedua pihak,” ujarnya.
Disebut Ince, penandatanganan MoU dengan UMS di momen ini menandai langkah nyata diaspora Muhammadiyah menjadi jembatan ilmu pengetahuan antara Indonesia dan Britania Raya.
“Kami berharap kerja sama ini segera melahirkan program nyata yang bermanfaat bagi mahasiswa, dosen, dan warga," ujar bebernya.
Acara ini turut dikemas dengan pembagian bakso dan es cendol. Jumlah ada 700 bakso dan 150 cendol. Hidangan khas Indonesia tersebut tidak hanya dinikmati oleh warga Indonesia, tetapi juga oleh warga lokal yang datang berkunjung.
"Kami ingin kehadiran Muhammadiyah di Britania Raya terasa manfaatnya bagi siapa saja, tanpa membedakan latar belakang," tandasnya. (Bhisma/Cris)

