Hijrah dalam Jebakan Bahasa dan Simbol

Publish

16 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
129
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Hijrah dalam Jebakan Bahasa dan Simbol

Oleh: Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute, Wakil Ketua LHKP PP Muhammadiyah

Setiap Muharram datang, kita kembali mendengar satu kata yang begitu akrab di telinga, yaitu hijrah. Kata itu hadir di mimbar-mimbar masjid, menghiasi spanduk-spanduk ucapan tahun baru, memenuhi status media sosial, dan menjadi tema berbagai pengajian. Hijrah seolah menjadi kata kunci yang menandai pergantian tahun dalam kalender Islam.

Namun di tengah riuhnya pembicaraan tentang hijrah, saya sering bertanya pada diri sendiri: apakah kita sungguh sedang berhijrah, atau hanya sedang ramai membicarakan hijrah?

Pertanyaan itu muncul ketika membaca kembali pemikiran filsuf Prancis, Paul Ricoeur, dalam bukunya Oneself as Another (1990). Ricoeur menjelaskan bahwa manusia memahami dirinya melalui narasi yang ia bangun tentang dirinya sendiri. Kita tidak hanya menjalani hidup, tetapi juga terus-menerus menceritakan hidup itu. Dari cerita itulah lahir identitas.

Masalahnya, tidak jarang manusia akhirnya lebih percaya pada cerita yang ia bangun daripada kenyataan yang sebenarnya. Kita menciptakan gambaran tentang diri kita, lalu perlahan menganggap gambaran itu sebagai realitas. Kita lebih banyak berimajinasi ksecara subjektif etimbang menghadirkan realitas yang objektif.

Bukankah gejala seperti ini mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari?

Kita menganggap diri toleran karena sering berbicara tentang toleransi. Kita merasa peduli karena sesekali mengunggah pesan kemanusiaan. Kita merasa religius karena akrab dengan simbol-simbol keagamaan. Dan mungkin, tanpa sadar, kita merasa telah berhijrah karena begitu sering mengucapkan kata hijrah.

Padahal perubahan yang sesungguhnya tidak pernah terjadi di tingkat bahasa. Ia terjadi dalam tindakan.

Di sinilah pemikiran Ludwig Wittgenstein menarik untuk disimak. Dalam Philosophical Investigations (1953), filsuf Austria-Inggris itu mengingatkan bahwa manusia kerap terjebak oleh bahasa yang diciptakannya sendiri. Kata-kata dapat menciptakan ilusi pemahaman. Sesuatu terasa telah selesai hanya karena telah dibicarakan berkali-kali.

Barangkali itulah yang sesekali terjadi pada kita. Hijrah menjadi begitu sering dibicarakan sehingga kita merasa telah melakukannya. Perubahan menjadi begitu sering diserukan sehingga kita mengira perubahan itu telah terjadi.

Padahal hijrah Nabi Muhammad saw. bukanlah peristiwa bahasa. Ia adalah peristiwa tindakan.

Hijrah adalah keberanian meninggalkan zona nyaman. Ia menuntut pengorbanan, kesabaran, dan risiko. Tidak ada jalan pintas dalam hijrah. Karena itu, sejarah mengenang hijrah bukan karena keindahan retorikanya, melainkan karena perubahan besar yang lahir darinya.

Yang menarik, ironi semacam ini justru semakin terasa dalam kehidupan modern. Kita hidup pada zaman yang sangat kaya simbol. Teknologi digital memungkinkan setiap orang membangun citra tentang dirinya. Apa yang tampak sering kali lebih penting daripada apa yang nyata.

Di titik inilah pemikiran Jean Baudrillard menjadi relevan. Dalam Simulacra and Simulation (1981), filsuf Prancis tersebut menjelaskan bagaimana masyarakat modern semakin dikuasai oleh simulasi—dunia citra, tanda, dan simbol yang kadang lebih dipercaya daripada kenyataan itu sendiri. 

Ah…betul, bahkan kita sering take foto berkali-kali hanya karena ingin mendapatkan gambar diri yang pas dan menawan –meskipun faktanya tidak. Ayo ngaku, siapa yang sering begitu.

Itulah. Kadang kita tidak harus menjadi baik untuk dianggap baik. Hanya cukup terlihat baik. Orang tidak harus benar-benar berubah. Cukup menampilkan kesan telah berubah.

Kita dapat melihat gejala ini di sekitar kita. Ruang publik semakin dipenuhi simbol-simbol religius. Kajian keagamaan berkembang pesat. Perjalanan umrah dan haji meningkat. Semangat beragama tampak semakin kuat. Tapi penjara over capacity. Korupsi kian menjadi-jadi.

Ujaran kebencian masih mudah ditemukan di media sosial. Politik identitas sesekali kembali digunakan untuk memecah belah masyarakat. Ketidakjujuran masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi dalam kehidupan publik.

Tentu, fakta-fakta itu tidak dimaksudkan untuk mengecilkan arti perkembangan kehidupan keagamaan. Namun fakta tersebut mengingatkan kita bahwa simbol dan substansi tidak selalu berjalan beriringan.

Seseorang dapat tampak religius tanpa sungguh-sungguh menjadikan nilai agama sebagai pedoman hidupnya. Sebuah masyarakat dapat ramai membicarakan moralitas tanpa berhasil membangun budaya yang bermoral.

Jauh sebelum para filsuf modern membahas persoalan ini, Imam Al-Ghazali telah mengingatkannya dalam Ihya' Ulum al-Din pada awal abad ke-12. Al-Ghazali menggunakan istilah ghurur, yaitu keadaan ketika seseorang tertipu oleh dirinya sendiri. Ia merasa telah berada di jalan yang benar, padahal belum tentu demikian.

Mungkin di situlah letak ironi hijrah yang kita hadapi hari ini.

Bukan karena kita tidak memahami makna hijrah. Justru sebaliknya, kita terlalu sering mendengarnya. Kita hafal kisahnya. Kita mengenal simbolnya. Kita akrab dengan bahasanya.

Tetapi hijrah tidak pernah diukur dari seberapa sering ia dibicarakan.

Hijrah diukur dari keberanian meninggalkan kebiasaan yang salah. Dari kesediaan mengoreksi diri. Dari kemauan untuk berubah meskipun perubahan itu tidak mudah dan tidak nyaman.

Karena itu, Muharram sesungguhnya bukan sekadar penanda pergantian tahun. Ia adalah momen untuk bercermin. Untuk bertanya dengan jujur apa yang benar-benar berubah dalam diri kita sejak Muharram tahun lalu?

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa kali kita mengucapkan kata hijrah. Yang akan dikenang adalah sejauh mana kita berani menjadikan hijrah sebagai kenyataan dalam hidup kita.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

80 Tahun Kemerdekaan dan Ilusi Keberhasilan Pembangunan Manusia Oleh: Abdul Halim, Ph.D., Wakil Rek....

Suara Muhammadiyah

17 August 2025

Wawasan

Zakat dan Wakaf: Pilar Ekonomi Umat yang Melampaui Kewajiban Ritual Mendorong Pertumbuhan Inklusif ....

Suara Muhammadiyah

7 March 2026

Wawasan

Untuk Sang Presiden Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso, Wakil Sek....

Suara Muhammadiyah

22 October 2024

Wawasan

Menggagas Koperasi Merah Putih Syariah: Jalan Tengah Keadilan di Tengah Ketimpangan Oleh: Rafiq Azz....

Suara Muhammadiyah

26 July 2025

Wawasan

Catatan Awal Tahun 2025: BPR Sedang Tidak Baik-baik Saja Oleh: Khafid Sirotudin, Ketua LPUMKM PWM J....

Suara Muhammadiyah

6 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah