AS, Suara Muhammadiyah — Ustadz Dr. Shamsi Ali mengajak umat Islam di Amerika Serikat untuk tidak hanya melihat kehidupan di Amerika melalui tantangan Islamophobia, tetapi juga sebagai kesempatan dan amanah untuk berkontribusi bagi masyarakat Amerika. Pesan tersebut disampaikan dalam Baitul Arqam Muhammadiyah USA 2026, Ahad, 30 Agustus 2026.
Dalam sesi bertema “Peran Muhammadiyah dalam Menghadapi Islamofobia dan Dinamika Multikulturalisme di Amerika Serikat,” Shamsi Ali mengawali pembahasannya dengan mengingatkan kemuliaan manusia. Menurutnya, manusia dibekali akal yang memungkinkan lahirnya kreativitas dan inovasi, tetapi juga hati yang berfungsi mengoreksi bagaimana kemampuan intelektual tersebut digunakan. Tema sesi tersebut merupakan muatan lokal pada hari kedua Baitul Arqam PCIM Amerika Serikat 2026.
Bagi Shamsi Ali, kehidupan sebagai Muslim di Amerika juga perlu dilihat melalui perspektif rasa syukur. Tantangan yang dihadapi justru dapat membuat nikmat iman dan Islam semakin dirasakan. Pada saat yang sama, keberadaan Muslim di Amerika bukan sekadar keadaan yang terjadi begitu saja. Ia menyebut kesempatan menjadi bagian dari bangsa Amerika sebagai sebuah amanah besar.
Amerika, menurutnya, merupakan land of opportunities. Kesempatan tersebut tidak hanya terlihat dari kekuatan ekonomi, pendidikan, dan berbagai universitas terbaik dunia, tetapi juga dari ruang kebebasan beragama, berekspresi, dan berpartisipasi dalam kehidupan politik. Ia menilai kebebasan untuk menyampaikan kritik kepada penguasa merupakan salah satu kesempatan penting yang tersedia dalam kehidupan demokratis di Amerika.
“Kritik adalah bagian dari kesempatan politik. Harus belajar melakukan koreksi kepada penguasa, itu sesungguhnya diapresiasi,” ujarnya.
Menurut Shamsi Ali, pengalaman tersebut penting diperhatikan oleh masyarakat Muslim. Di banyak tempat, menurutnya, masih terdapat ketakutan untuk mengekspresikan kritik kepada penguasa. Sementara itu, adanya ruang untuk demonstrasi, kritik, ekspresi politik, dan keterlibatan warga merupakan tanda bahwa kehidupan demokrasi masih memiliki ruang untuk bekerja.
Dalam pembahasannya mengenai Islamophobia, Shamsi Ali menolak anggapan bahwa fenomena tersebut baru lahir setelah serangan 11 September 2001. Menurutnya, Islamophobia memang menjadi semakin terbuka setelah 9/11, tetapi akar persoalannya jauh lebih panjang.
Ia menghubungkannya dengan konstruksi historis mengenai “Barat” dan “Timur”. Pembagian tersebut, menurutnya, tidak semata-mata geografis. Di dalamnya terdapat anggapan mengenai Barat sebagai masyarakat yang berkeadaban, sementara Timur diasosiasikan dengan keterbelakangan. Islam kemudian ikut ditempatkan dalam konstruksi tersebut sebagai agama masyarakat Timur yang dianggap lemah, tidak terdidik, dan tidak berkeadaban.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa Islamophobia kemungkinan tidak akan begitu saja berakhir. Pertanyaan yang lebih penting bagi Muslim Amerika adalah bagaimana menghadapinya.
Melawan Islamophobia Dimulai dari Self-Empowerment
Shamsi Ali menekankan bahwa upaya menghadapi Islamophobia tidak seharusnya dimulai dengan menunggu perubahan dari orang lain. Muslim sendiri perlu membangun kapasitas dan kekuatannya.
“Jangan berharap dimulai dari orang lain. Demikian Rasulullah, dimulai dari diri sendiri. Perlu melakukan self-empowerment,” pesannya.
Ia kemudian menyebut beberapa arena penting bagi proses tersebut. Pertama adalah ekonomi. Komunitas Muslim membutuhkan kekuatan ekonomi agar mampu membangun dan menopang institusinya sendiri.
Kedua adalah media. Menurutnya, Muslim membutuhkan media yang mampu membangun narasi mengenai dirinya sendiri, terutama ketika persepsi mengenai Islam selama ini banyak dibentuk oleh media dominan.
Ketiga adalah politik. Partisipasi politik, menurut Shamsi Ali, merupakan bagian penting dari proses pemberdayaan komunitas. Ia menyinggung meningkatnya keterlibatan Muslim dan generasi muda Muslim dalam kehidupan politik Amerika sebagai contoh peluang yang perlu dimanfaatkan.
Keempat adalah pendidikan dan penguatan institusi Muslim, termasuk Islamic center. Pendidikan menjadi penting bukan hanya bagi perkembangan individu, tetapi juga bagi kemampuan komunitas Muslim untuk hadir secara lebih kuat di tengah masyarakat.
Muhammadiyah Perlu Memperluas Kiprah Internasional
Dalam konteks inilah Shamsi Ali melihat PCIM Amerika Serikat dapat mengambil peran yang besar. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki kekuatan sumber daya manusia, pengalaman pendidikan, dan kapasitas ekonomi yang besar. Namun, kekuatan tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kehadiran internasional yang sebanding.
Ia mempertanyakan mengapa Muhammadiyah, sebagai organisasi besar dengan kekuatan ekonomi dan sumber daya manusia yang kuat, belum memiliki kiprah global yang sama besarnya. Karena itu, keberadaan Muhammadiyah USA dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas kontribusi Persyarikatan pada tingkat internasional.
Bagi Shamsi Ali, orientasi tersebut juga berarti bahwa Muslim tidak menempatkan dirinya sebagai kelompok yang berada di luar masyarakat Amerika. Muslim adalah bagian dari masyarakat dari dalam, sehingga pemberdayaan Muslim juga harus diarahkan pada kemampuan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat tempat mereka hidup.
Bagi Muhammadiyah USA, gagasan tersebut memberikan tantangan yang lebih besar daripada sekadar bagaimana mempertahankan identitas Muhammadiyah di luar Indonesia. Kehadiran Muhammadiyah di Amerika Serikat juga membuka pertanyaan tentang bagaimana kekuatan pendidikan, ekonomi, media, dan sumber daya manusia Persyarikatan dapat diterjemahkan menjadi partisipasi sosial yang nyata dalam masyarakat Amerika sekaligus memperluas kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan Islam pada tingkat global.

