BALIKPAPAN, Suara Muhammadiyah – Pertanyaan tentang bagaimana membangun gerakan yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat menjadi salah satu isu utama dalam Diskusi Panel “Menyembelih Nafsu Kekuasaan di Hari Raya Kurban” yang digelar PC IMM Kota Balikpapan pada Sabtu (30/5).
Diskusi yang menghadirkan Faisal Maulana dan Muallim Has tersebut tidak hanya membahas makna filosofis kurban, tetapi juga menyoroti peran generasi muda dalam merespons berbagai persoalan sosial dan kebijakan publik yang berkembang saat ini.
Suasana diskusi semakin hidup ketika salah satu peserta, Dicky, menyampaikan otokritik terhadap gerakan mahasiswa yang dinilai terlalu sering berada pada posisi pengkritik tanpa membangun kekuatan perubahan yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
“Bagaimana kita bisa membangun sebuah gerakan kolektif yang relevan dan benar-benar berdampak untuk menyadarkan rezim saat ini?” tanya Dicky dalam sesi diskusi.
Menanggapi hal tersebut, Muallim Has menegaskan bahwa gerakan kolektif tidak dapat dibangun secara instan. Menurutnya, pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk kesadaran masyarakat sekaligus menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan.
“Jika ingin mengubah keadaan, maka yang harus dibangun pertama kali adalah kesadaran masyarakat. Pendidikan menjadi instrumen paling efektif untuk menciptakan perubahan yang bertahan lama,” jelasnya.
Senada dengan itu, Faisal Maulana menilai bahwa semangat kurban mengajarkan pentingnya pengorbanan dalam membangun gerakan. Ia menegaskan bahwa perjuangan sosial membutuhkan konsistensi, keteladanan, dan keberanian untuk melepaskan kepentingan pribadi demi kepentingan yang lebih besar.
Menurutnya, penyembelihan nafsu kekuasaan harus dimulai dari diri sendiri sebelum diarahkan kepada kritik terhadap sistem yang ada.
Ketua Umum PC IMM Balikpapan, Zufa Nadhif, menyambut baik antusiasme peserta yang aktif menyampaikan gagasan dan kritik konstruktif selama forum berlangsung.
“Harapan saya, diskusi ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran ide, tetapi juga menjadi alat untuk membangun kesadaran kritis masyarakat dan menyuarakan keadilan secara lebih terorganisir,” tandasnya.
Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar PC IMM Balikpapan dalam membangun tradisi intelektual di kalangan kader, sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak hanya kritis terhadap keadaan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi bagi persoalan bangsa. (Najih)

