Impitan Ekonomi dan Stunting

Publish

14 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
89
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Kemendukbangga/BKKBN Gandeng Lazismu Bergerak Selamatkan Generasi

SUKABUMI, Suara Muhammadiyah – Rumah bilik di desa Kabandungan, kecamatan Kabandungan, kabupaten Sukabumi itu milik pasangan Heri Irawan dan Leni Lespinawati. Tata letak rumah terdiri dari ruang tamu, dua kamar tidur sebelah kiri, dan di bagian belakang terdiri dari dapur dan kamar mandi.   

Tidak ada perabotan mewah. Di sudut kanan ruang belakang ditemukan kompor hitam dua tungku sudah berkarat. Di sudut kirinya, terdapat kamar mandi dengan kloset jongkok permanen buatan sendiri. Satu bak plastik hitam melengkapi kamar mandi berdinding kayu itu, diterangi sinar matahari yang menyelinap masuk di dinding kayunya yang renggang.

Beberapa gelas dan piring tertata di rak kayu yang kusam. Sebuah panci dan penggorengan yang hitam berkerak tergantung di dinding kayu dapur itu. Leni semringah, ketika rombongan Kemendukbangga/BKKBN yang dipimpin Wihaji mengunjungi rumahnya. Hari itu, Senin (12/1/2025), menjadi istimewa bagi Leni yang didapuk sebagai calon penerima manfaat bantuan program Genting yang bermitra dengan Lazismu.

Masing-masing kamar tidur tanpa dipan menjadi perhatian Wihaji setelah membuka tirainya. Heri, suaminya hanya buruh harian lepas, kata Leni menjawab pertanyaan Pak Menteri. Ia mengaku hanya menerima uang seminggu sekali untuk memenuhi kebutuhan ketiga anaknya. Heri sehari-hari buruh lepas yang setiap minggu membawa pulang Rp 400.000, untuk isteri dan ketiga anaknya.  

Leni mengaku untuk makan sehari-hari masih jauh dari bergizi. Kendati ada tanaman sayuran di sekitar rumahnya, kebutuhan untuk protein hewani belum tercukupi. Jika tidak ada uang, Ia dan ketiga anaknya makan seadanya. Sesekali memohon bantuan tetangganya yang berjualan sembako untuk berhutang dan akan dibayarnya saat suami pulang bekerja.   

“Leni menyeritakan anak-anaknya bersekolah cukup jauh dengan berjalan kaki. Tanpa uang jajan disaku. Kalau pun ada uang dibekali hanya Rp 3000 dengan senang hati, itu pun tidak setiap hari”, pungkasnya. Tidak ada kendaraan atau pun sepeda untuk mengantar anaknya ke sekolah.

Kondisi itu tak membuatnya patah arang. Bagi Wihaji, yang bertemu dan berdialog langsung dengan Leni sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana keluarga berisiko stunting (KRS) menghadapi kesulitan ekonomi. Wihaji berharap tim pendamping keluarga stunting bisa mendampingi dengan penyuluhan dan edukasi.

“Keluarga berisiko stunting disebabkan oleh banyak faktor di antaranya pernikahan dini, pemenuhan asupan gizi yang tak memadai, serta keterbatasan akses air bersih dan sanitasi’, jelas Wihaji menyebutkan faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya risiko stunting.    

Demikian juga dengan kondisi keluarga Hermawan dan Karyati. Kemiskinan menyelimuti kehidupannya yang tinggal di desa Tugubandung. Hermawan seorang buruh lepas dengan penghasilan Rp 50.000 per hari. Ia harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari isteri dan ketiga anaknya.   

Sulit baginya memberikan asupan gizi yang cukup untuk buah hatinya. Kondisi rumah yang sama masih menyisakan kendala dalam kebersihan sanitasi. Karyati banyak menyeritakan bagaimana kondisi ekonominya selama ini kepada Pak Menteri. Membeli gas untuk memasak saja tak mampu. Ia mengandalkan kayu bakar untuk memasak di dapur yang persis ada di samping kiri rumahnya.

Anak terakhirnya pun didapati dalam keadaan sakit kulit. Kedua kakinya, dari betis hingga paha penuh ruam dan bintik-bintik hitam. “Kadang suka menangis karena merasa gatal dan demam,kata Karyati.

Impitan Ekonomi

Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, Gunawan Hidayat, yang turut berkunjung bersama Wihaji, mengatakan, keluarga rawan stunting dicirikan dengan ketidakmampuannya hidup yang sehat di lingkungannya, khususnya rumah tinggal.

“Kondisi MCK (mandi, cuci, kakus) yang tidak memenuhi fasilitas standar sehat, termasuk kondisi dalam rumah turut menjadi perhatian g’”, ungkapnya. Kemendukbangga/BKKBN berencana merenovasi rumahnya yang akan menggandeng mitra kolaborasinya. Salah satunya Lazismu yang akan mendukung proses renovasinya yang membutuhkan waktu untuk bedah dua unit rumah itu.

Langkah ini, bagian dari kontribusi untuk memanusiakan manusia agar menjadi generasi yang sehat dan cerdas, paparnya. Selanjutnya, Lazismu segera menindaklanjuti dengan melakukan perencanaan pra pembangunan yang melibatkan para pihak di kedua lingkungan bedah rumah tersebut. Setelah mendapat persetujuan kelayakan segera membangun untuk direnovasi secepatnya.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KAMBAR, Suara Muhammadiyah - Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) melakukan kunjungan hormat dan ....

Suara Muhammadiyah

21 December 2024

Berita

WONOGIRI, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Wonogiri menyelenggarakan Kons....

Suara Muhammadiyah

23 January 2024

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Empat mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Purwokerto ....

Suara Muhammadiyah

19 September 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Banyumas (PDA) menyelenggarakan kegiatan ....

Suara Muhammadiyah

12 December 2024

Berita

BANDAR LAMPUNG, Suara Muhammadiyah - Pengukuhan Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

20 November 2024