YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menegaskan bahwa menjadi bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah merupakan kewajiban yang patut disyukuri.
Menurut Hamim, ajaran Islam yang didakwahkan Muhammadiyah memiliki watak otentik karena selaras dengan ajaran Al-Qur’an, yakni Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).
“Otentik itu ajaran-ajaran dalam Muhammadiyah sesuai dengan ajaran Islam yang ditegaskan dalam Al-Qur’an,” ujarnya saat Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah di SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (3/1).
Hamim menjelaskan, konsep Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya QS Al-Anbiya (21) ayat 107. Ayat tersebut, kata dia, menggunakan pola kalimat nafyu (wa mā arsalnāka) dan istitsnā’ (illā raḥmatan lil-‘ālamīn). Secara gramatikal, frasa rahmatan lil-‘alamin berfungsi sebagai maf‘ul li ajlih, yakni keterangan yang menyatakan tujuan dan alasan.
“Allah dengan keagungan-Nya memberikan risalah kepada Nabi Muhammad Saw. Dan risalah itu mencakup tiga hal: status kerasulan Nabi sebagai rahmat, Al-Qur’an sebagai rahmat, dan agama Islam sebagai rahmat,” terangnya.
Ia menambahkan, Islam adalah agama yang diwahyukan Allah Swt dan didakwahkan Nabi Muhammad Saw untuk mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. “Kami menurunkan risalah kepadamu, wahai Muhammad, semata-mata karena rahmat dan untuk menghadirkan rahmat bagi seluruh alam,” jelasnya.
Hamim menegaskan, kualitas risalah Nabi Muhammad Saw diakui justru karena sifatnya yang membawa rahmat. “Jika Islam didakwahkan tidak sebagai rahmat, maka kualitas dakwah itu tidak diakui,” tegasnya.
Merujuk pandangan Al-Asfahani dalam Mu‘jam Mufradat Alfazh Al-Qur’an, rahmat didefinisikan sebagai riqqatun taqtadhil-ihsana ilal-marhum. Rahmat dimaknai sebagai riqqatun, yakni perasaan halus dan lembut yang berwujud cinta, kasih, dan sayang.
Perasaan tersebut kemudian taqtadhi al-ihsan, yakni mendorong lahirnya tindakan nyata berupa kebaikan (al-ihsan) kepada pihak yang dikasihi (al-marhum).
Adapun dalam konteks ketuhanan, rahmat Allah dipahami sebagai af‘al (perbuatan memberi nikmat), bukan infi‘al (gejolak perasaan), demi menjaga kemurnian tauhid.
"Kesimpulannya, Islam yang didakwahkan Muhammadiyah telah memenuhi kualitas otentik itu, yakni Islam yang rahmatan lil-‘alamin,” tandas Hamim. (Cris)

