Islam Rahmatan Lil-‘Alamin, Watak Otentik Dakwah Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
616
Dr Hamim Ilyas, MAg. Foto: Cris

Dr Hamim Ilyas, MAg. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menegaskan bahwa menjadi bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah merupakan kewajiban yang patut disyukuri.

Menurut Hamim, ajaran Islam yang didakwahkan Muhammadiyah memiliki watak otentik karena selaras dengan ajaran Al-Qur’an, yakni Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

“Otentik itu ajaran-ajaran dalam Muhammadiyah sesuai dengan ajaran Islam yang ditegaskan dalam Al-Qur’an,” ujarnya saat Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah di SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (3/1).

Hamim menjelaskan, konsep Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya QS Al-Anbiya (21) ayat 107. Ayat tersebut, kata dia, menggunakan pola kalimat nafyu (wa mā arsalnāka) dan istitsnā’ (illā raḥmatan lil-‘ālamīn). Secara gramatikal, frasa rahmatan lil-‘alamin berfungsi sebagai maf‘ul li ajlih, yakni keterangan yang menyatakan tujuan dan alasan.

“Allah dengan keagungan-Nya memberikan risalah kepada Nabi Muhammad Saw. Dan risalah itu mencakup tiga hal: status kerasulan Nabi sebagai rahmat, Al-Qur’an sebagai rahmat, dan agama Islam sebagai rahmat,” terangnya.

Ia menambahkan, Islam adalah agama yang diwahyukan Allah Swt dan didakwahkan Nabi Muhammad Saw untuk mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. “Kami menurunkan risalah kepadamu, wahai Muhammad, semata-mata karena rahmat dan untuk menghadirkan rahmat bagi seluruh alam,” jelasnya.

Hamim menegaskan, kualitas risalah Nabi Muhammad Saw diakui justru karena sifatnya yang membawa rahmat. “Jika Islam didakwahkan tidak sebagai rahmat, maka kualitas dakwah itu tidak diakui,” tegasnya.

Merujuk pandangan Al-Asfahani dalam Mu‘jam Mufradat Alfazh Al-Qur’an, rahmat didefinisikan sebagai riqqatun taqtadhil-ihsana ilal-marhum. Rahmat dimaknai sebagai riqqatun, yakni perasaan halus dan lembut yang berwujud cinta, kasih, dan sayang.

Perasaan tersebut kemudian taqtadhi al-ihsan, yakni mendorong lahirnya tindakan nyata berupa kebaikan (al-ihsan) kepada pihak yang dikasihi (al-marhum).

Adapun dalam konteks ketuhanan, rahmat Allah dipahami sebagai af‘al (perbuatan memberi nikmat), bukan infi‘al (gejolak perasaan), demi menjaga kemurnian tauhid.

"Kesimpulannya, Islam yang didakwahkan Muhammadiyah telah memenuhi kualitas otentik itu, yakni Islam yang rahmatan lil-‘alamin,” tandas Hamim. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

DEMAK, Suara Muhammadiyah – Kali kedua tanggul jebol akibat derasnya aliran Sungai Wulan pada ....

Suara Muhammadiyah

23 March 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar memasuki tahapan krusial ....

Suara Muhammadiyah

28 November 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - BPH PKU Kota Yogyakarta dan PKU Gamping Sleman Yogyakarta bekerja s....

Suara Muhammadiyah

28 September 2023

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah — Suasana penuh keakraban dan semangat ukhuwah mewarnai kegiatan....

Suara Muhammadiyah

8 May 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Komunitas penggemar motor Muhammadiyah yang tergabung dalam B....

Suara Muhammadiyah

11 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah