Jangan Marah Saat Berpuasa, Turunkan Sistem Kekebalan Tubuh

Suara Muhammadiyah

27 February 2026

735
dr Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes

dr Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Implementasi ibadah puasa (ash-shiyam), sesungguhnya tidak stagnan pada ritus menahan lapar dan dahaga semata. Tapi, seluruh rangkaiannya mesti dijalankan dengan baik.

Terkait hal itu, Agus Taufiqurrahman mencontohkan, tidak boleh berkata dusta (az zuur), jorok (rafats), dan menyakitkan. Demikian juga, tidak boleh bertengkar, juga tidak boleh marah.

“Ketika orang berpuasa tapi masih melakukan hal itu, Allah tidak sudi memandang puasa orang itu,” katanya, Kamis (26/2) saat ceramah tarawih di Masjid Syuhada Yogyakarta.

Pada saat yang sama, juga tidak mempengaruhi sampai pada perubahan akhlak seseorang. Demikian penekanan hadis lain dengan kentaranya menyingung banyak orang berpuasa, tapi puasanya jauh panggang dari api.

“Puasa penuh tidak mendapatkan pahala kebaikan puasa itu,” ujar Agus, yang hal itu, harus dihindari bersama selama bulan puasa.

Sebagai sampel, perilaku marah. Salah satu karakteristik lulusan Ramadhan, sebagaimana disebut di Qs ali-Imran ayat 134, mampu menahan amarah.

“Orang yang puasa itu mengendalikan dirinya bagaimana agar tidak marah,” sebut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Bahkan, ketika tersulut marah, tuntunan Nabi menyerukan membaca Inni Shoimun, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR Muslim). 

“Orang berpuasa semakin sabar, karena tidak mudah marah,” tegasnya, menekankan pesan Nabi berikutnya, “Jangan engkau marah.” (HR at-Thabrani).

Secara tinjauan kesehatan, ketika sedang meletup amarah, maka berimplikasi pada penurunan sistem kekebalan tubuh.

“Akan menurunkan kadar imunoglobulin A (antibody),” jelas Agus.

Imunoglobulin itu, lanjutnya, sebagai komponen kekebalan tubuh yang berperan sangat penting.

“Penurunan sistem kekebalan tubuh itu berlanjut sampai kurang lebih 6 jam setelah orang itu marah,” imbuhnya.

Juga marah, pun dapat menaikkan kortisol darah. Termasuk, penyakit stroke.

“Marah terbukti mengakibatkan penurunan sistem kekebalan tubuh kita,” beber Agus.

Penelitian di John Hopkins School of Medicine yang meneliti 1000 laki-laki dan dikorelasikan dengan kebiasaan gaya hidup sehari-hari.

Dari penelitian itu, membuktikan kebiasaan marah menyebabkan tingginya kadar protein interlukin (IL) dan proses kekauan pembuluh darah lebih cepat terjadi.

“Orang yang punya kebiasaan marah, punya potensi mengalami serangan jantung 3 kali lebih besar,” tegasnya.

Di sinilah titik urgensi puasa. Yang menekankan agar bisa menahan diri, salah satunya menahan amarah.

“Kita jalani terus puasa ini. Kita yakin kalau hidup seperti kehendak Allah, isinya hikmah dan kebaikan. Semoga kita bisa menjalani puasa dengan baik,” tukasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Lembaga Resiliensi Bencana Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Ist....

Suara Muhammadiyah

18 September 2023

Berita

BANDAR LAMPUNG, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Provinsi Lamp....

Suara Muhammadiyah

10 May 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar resmi melantik empa....

Suara Muhammadiyah

8 April 2025

Berita

JAKARTA TIMUR, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Jakarta Timur be....

Suara Muhammadiyah

28 October 2025

Berita

PURBALINGGA, Suara Muhammadiyah – Menjadi seorang pemimpin bukan soal jabatan yang mentereng, ....

Suara Muhammadiyah

29 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah