Keluar dari Zona Nyaman, Kunci Kepala Madrasah Muhammadiyah Lahirkan Perubahan

Suara Muhammadiyah

23 July 2026

365
Prof Dr Irwan Akib, MPd. Foto: Cris

Prof Dr Irwan Akib, MPd. Foto: Cris

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah - Keberadaan madrasah tidak bisa dipisahkan dan bahkan terpinggirkan. Sebab, posisinya sangat strategis dan sejajar.

"Tidak ada perbedaan. Seharusnya sekolah dan madrasah punya posisi yang sejajar," tegas Irwan Akib.

Disigi dari mata pelajarannya, serupa, yakni belajar agama dan pengetahuan umum. "Jadi kurang lebih hampir sama saja secara substansi. Hanya pengelolaannya," tutur Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Dalam tesmak orang tua, madrasah ekuivalen dengan penempaan pendidikan agama dengan wilayah ekosistem yang religius. 

"Dialah (orang tua) yang memilih madrasah di banding sekolah," bebernya, Kamis (23/7) saat membuka Rapat Kerja (Raker) Duta Madrasah Muhammadiyah di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Dadapan, Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Tapi, yang menjadi problematik, opsi yang dituju bukan di Muhammadiyah, tapi madrasah negeri. Di sinilah pentingnya pencandraan langkah-langkah penting untuk menarik minat masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya ke madrasah Muhammadiyah.

"Teman-teman merumuskan kira-kira seperti apa motivasi yang diberikan kepada kepala madrasah, sehingga memang berani untuk melakukan perubahan," ujarnya.

Kepala madrasah jangan terjebak dalam pusaran zona nyaman. Mengapa begitu? Bongkar Irwan, zona nyaman membuat pergerakan menjadi stagnan. Tidak ada pacuan untuk melangkah ke depan.

"Bekerja jadi kepala sekolah itu memang untuk perjuangan dan bersedia untuk mengorbankan waktunya, mengorbankan tenaganya, pikirannya untuk membesarkan sekolah itu," tegasnya.

Yang pasti, semua berawal dari bawah. Dari susah payah, baru setelah itu, beranjak ke jalan yang mudah.

"Tidak akan ada perubahan itu, kalau kesulitannya ditunggu untuk selesai. Akhirnya tidak akan ada perubahan," tuturnya.

Perubahan akan terjadi bilamana dibarengi dengan usaha bertungkus lumus sedemikian rupa. Dari sinilah kemudian dapat keluar dari kesulitan yang melilit itu.

"Harus bersedia menerima konsekuensi sebagai seorang orang kepala sekolah," tekannya.

Lebih-lebih, dalam menghadapi aneka tantangan yang makin kompleks. "Ke depan itu tidak begitu gampang," tuturnya, menyoroti perubahan yang datang dengan begitu cepat dan masif.

"Maka sekolah madrasah kita juga harus berbenah," ajak Irwan. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Pelaksanaa Kuliah Umum kembali di gelar Universitas Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ekspansi kuota penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri....

Suara Muhammadiyah

12 June 2026

Berita

Deepfake dan Krisis Kebenaran Publik Penulis: Amalia Irfani, Sekretaris LPP PWM Kalbar/Kaprodi Stud....

Suara Muhammadiyah

19 May 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) serta Pendidikan Non....

Suara Muhammadiyah

26 August 2024

Berita

Menyemai Inspirasi, Memetik Inovasi YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah Sapen Yogyakar....

Suara Muhammadiyah

7 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah