YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Salmah Orbayyinah menyampaikan dengan menukil hadis Nabi Muhammad Saw, Baiti Jannati, "Rumahku Surgaku." Bagi Salmah, ini menunjukkan bahwa keluarga yang bermanifestasi keluarga yang tenang, damai, penuh kasih sayang, menghormati dan menghargai, akan mendatangkan surga di dunia, terutama surga di dalam keluarga.
"Tentunya kita semua wajib untuk berusaha menjaga agar keluarga kita harus selalu dalam keadaan taat kepada Allah dan menjauhkan semuanya dari segala perbuatan-perbuatan yang tentunya dilarang oleh agama," tegasnya saat memberikan pengarahan Pengajian Ramadhan 1446 PP Aisyiyah, Sabtu (15/3) di Kantor PP Aisyiyah Yogyakarta.
Dalam realita kehidupan, berdasarkan data BPS tahun 2024 menunjukkan, jumlah pernikahan mengalami penurunan. Tetapi ironisnya diikuti oleh jumlah perceraian mengalami peningkatan.
"Ini berdampak besar terhadap anak, terutama, di mana keluarganya mengalami hal yang tidak diinginkan. Salah satu penyebabnya dari perceraian ini adalah karena menurunnya penanaman nilai-nilai agama dalam keluarga," bebernya.
Berdasarkan informasi tersebut di Qs at-Tahrim [66] ayat 6, Allah mengingatkan agar menjaga diri dan keluarga dari bara api neraka. Jika dikontekstualisikan dengan keluarga masa kini yang dihadapkan perkembangan era digital yang semakin masif, menjadi penting untuk diperhatikan secara seksama.
"Ayat ini tentunya menjadi peringatan bagi kita semuanya, terlebih saat ini di mana perkembangan digital sangatlah pesat. Dan tentunya perkembangan digital ini bisa membawa dampak baik positif maupun negatif," terangnya.
Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), keluarga dikategorisasikan sebagai tiyang utama kehidupan umat dan bangsa. Karena itu maka, dalam keluarga itu semestinya dikonstruksikan menjadi keluarga berkualitas dan bermutu.
"Sehingga benar-benar nanti dari keluarga ini lahir keluarga berkualitas sebagaimana dicanangkan oleh negara kita bahwa tahun 2045 akan mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ini akan dimulai dari munculnya generasi-generasi emas dan bermula dari keluarga kecil," tuturnya.
Salmah menambahkan, keluarga emas sebagaimana diharapkan oleh Aisyiyah mewujud pada keluarga sakinah. Dan dari situlah kemudian akan melahirkan keluarga berkemajuan.
"Keluarga berkemajuan adalah sebuah keluarga seluruh anggota keluarga itu memiliki prestasi-prestasi yang tentunya bisa dibanggakan. Dan juga menanamkan akhlak yang mulia di dalam keluarga itu," urainya.
Keluarga berkemajuan, disambung oleh Salmah, juga mendorong keluarga untuk hidup bersahaja. Dan saling bertanggung jawab satu sama lain, saling menghormati, dan mendorong anggota keluarga hidup maju dan menorehkan prestasi yang membanggakan.
"Tentunya (itu semua) akan mewujudkan ketahanan keluarga yang kuat. Di mana keluarga itu akan mampu menghadapi terhadap kondisi-kondisi krisis yang ada," tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Salmah mengungkapkan bahwa Aisyiyah dengan konsep Keluarga Sakinah telah menjadi perhatian sejak tahun 1985. "Setelah Muktamar Ke-41 Aisyiah. Jadi Aisyiyah menyusun buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah. Pada Muktamar ke-47 Aisyiyah di Makassar diputuskanlah pokok-pokok pikiran Aisyiyah abad kedua tentang strategi Aisyiyah, yaitu Keluarga Sakinah," sebutnya.
Buku tersebut sudah mengalami revisi beberapa kali. Dan juga telah menjadi putusan Munas Tarjih tahun 2014. "Ini menandakan (buku itu) menjadi pedoman untuk mengokohkan keluarga sakinah, khususnya keluarga Muhammadiyah dan Aisyiyah," katanya.
Dan dalam keputusan Muktamar ke-48 Aisyiyah, juga terdapat penguatan keluarga sakinah dan memberdayakan di masyarakat. "Penguatan ini tentunya bukan sesuatu yang baru, tetapi harus selalu kita gelorakan terus-menerus. Karena tantangan keluarga sakinah akan berubah-ubah dari masa ke masa dan harus kita perhatikan bersama," tandasnya. (Cris)