Kemukjizatan Aspek Sastra dalam Al-Qur'an

Publish

9 March 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
146
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangkaian acara Ramadhan di Kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) 1446 H, Masjid Islamic Center UAD kembali menggelar kajian jelang berbuka yang kedelapan pada hari Sabtu (8/3). Pada kesempatan kali ini, Wajiran, M.A., Ph.D., Dekan Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi UAD, yang membawakan materi tentang "Kemukjizatan Aspek Sastra dalam Al-Qur'an."

Dalam kajiannya, Wajiran menjelaskan bahwa Al-Qur'an memiliki keindahan bahasa dan sastra yang tidak tertandingi oleh karya sastra buatan manusia. Ia mengungkapkan bahwa kemukjizatan aspek sastra dalam Al-Qur'an menjadi daya tarik tersendiri bagi ilmuwan, sastrawan, dan ulama untuk mengkaji keunikan bahasa yang tertuang dalam kitab suci ini.

"Bahasa dan sastra dalam Al-Qur'an mencerminkan sesuatu yang sangat kompleks dan tidak mungkin dibuat oleh manusia. Apalagi, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai nabi yang ummi, tidak bisa baca tulis. Hal ini menunjukkan bahwa keindahan bahasa Al-Qur'an adalah bukti nyata bahwa kitab ini adalah wahyu dari Allah SWT," jelasnya.

Wajiran juga menyoroti beberapa ciri khas bahasa dalam Al-Qur'an yang membuktikan kemukjizatannya. Salah satunya adalah penggunaan diksi yang sempurna sesuai dengan makna yang dimaksud, perpaduan antara prosa dan puisi, serta irama dan ritme yang khas. Ia juga menyinggung tantangan yang pernah diajukan kepada orang-orang yang meragukan Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 23-24, yang menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menandingi keindahan dan isi kandungan Al-Qur'an.

Lebih lanjut, Wajiran membandingkan Al-Qur'an dengan karya sastra manusia yang sering kehilangan relevansinya seiring waktu. Ia menjelaskan bahwa pesan dalam Al-Qur'an tetap hidup dan memiliki kedalaman makna di setiap zaman. Sebagai contoh, ia menyinggung bagaimana Al-Qur'an membahas berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan, psikologi, dan ilmu pengetahuan, yang tetap selaras dengan perkembangan sains modern.

"Ketepatan diksi dan makna dalam Al-Qur'an sangat luar biasa. Setiap kata yang dipilih memiliki makna yang luas tetapi tetap harmonis dan sesuai dengan konteksnya. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur'an bukanlah sekadar karya sastra biasa, melainkan wahyu yang diturunkan langsung oleh Allah SWT," tambahnya.

Dalam kajian ini, Wajiran juga mengajak para mahasiswa, khususnya yang memiliki latar belakang studi sastra dan linguistik, untuk lebih mendalami analisis bahasa dalam Al-Qur'an. Ia mencontohkan bagaimana pemilihan sinonim dalam kitab suci ini menunjukkan kekayaan kosakata bahasa Arab yang jauh melampaui perkembangan bahasa lain di zamannya.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa Al-Qur'an bukan hanya indah dalam tataran linguistik, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam kehidupan spiritual dan psikologis manusia. Ia menutup kajian dengan menyoroti bagaimana bacaan Al-Qur'an dapat memberikan ketenangan jiwa, bahkan digunakan sebagai sarana penyembuhan spiritual melalui terapi ruqyah.

Menurut Wajiran, puisi Arab pra-Islam yang dikenal sebagai syair jahiliah banyak bermain dengan metafora, seperti perumpamaan tentang bulan sebagai gambaran kecantikan seorang gadis. Namun, setelah lahirnya Islam, sastra mulai diperkaya dengan unsur filosofis, religius, dan spiritualitas yang mendalam. Banyak sastrawan Muslim seperti Al-Mutanabbi, Al-Jahiz, dan Jalaluddin Rumi yang menciptakan karya sastra yang memuja kebesaran Tuhan dan terinspirasi dari nilai-nilai Al-Qur'an.

Dalam konteks global, Al-Qur'an juga memberikan pengaruh besar terhadap sastra dunia. Wajiran mencontohkan bahwa "Seribu Satu Malam" berpengaruh terhadap karya sastra di Eropa. Di Indonesia, pengaruh nilai-nilai Islam dapat dilihat dalam karya Habiburrahman El Shirazy, seperti "Ayat-Ayat Cinta", yang menggambarkan toleransi beragama dan tantangan seorang Muslim di negara sekuler.

Lebih lanjut, Wajiran membahas peran sastrawan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Beberapa sastrawan menentang Islam, seperti An-Nabighah Ad-Dhubyani dan Umayyah bin Abi Salt, yang tetap percaya pada tauhid tetapi menolak ajaran Islam. Sebaliknya, ada sastrawan yang mendukung dakwah Islam, seperti Hasan bin Tsabit yang mendapat penghormatan dari Rasulullah untuk membacakan syair di masjid sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan Islam.

Selain itu, Wajiran juga mengangkat isu rendahnya minat baca di Indonesia, terutama di kalangan mahasiswa sastra. Berdasarkan penelitiannya pada tahun 2022, hanya sekitar 10% mahasiswa sastra di DIY yang memiliki lebih dari 50 buku. Hal ini berbanding terbalik dengan negara-negara maju yang memiliki budaya membaca yang tinggi.

Sebagai penutup, Wajiran menekankan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat yang mengandung ilmu pengetahuan luas. Oleh karena itu, membaca dan memahami Al-Qur'an tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga memperkaya wawasan dan memperkuat budaya literasi di kalangan umat Islam. (Giti/BT)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Nadilla Audrey Aurellie Wibowo dan Zahira Nabila Suseno, siswa kelas I....

Suara Muhammadiyah

5 November 2024

Berita

PURBALINGGA, Suara Muhammadiyah - Meski tanpa rencana dan persiapan jangka panjang, takmir Musholla ....

Suara Muhammadiyah

24 March 2025

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah Deni....

Suara Muhammadiyah

5 February 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Workshop “Ketahanan Digital dalam Pendidikan Keluarga di Era ....

Suara Muhammadiyah

5 February 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY menggelar Rapat Kerja Pimpinan ....

Suara Muhammadiyah

16 December 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah