Kepribadian Muhammadiyah di Balik Pandu Hizbul Wathan

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
64
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Kepribadian Muhammadiyah di Balik Pandu Hizbul Wathan

Penulis: Dr. Hasbullah, M. Pd., Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM Lampung dan Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Gerakan kepanduan di Indonesia memiliki ragam bentuk dan sejarah yang panjang. Di antara organisasi kepanduan yang eksis, Hizbul Wathan (HW) menempati posisi istimewa. Ia bukan sekadar unit kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan sekolah Muhammadiyah. Lebih dari itu, HW adalah cermin langsung dari kepribadian Persyarikatan Muhammadiyah itu sendiri.

Memahami HW berarti membuka lembaran tentang bagaimana Muhammadiyah memandang pembentukan karakter. Bukan hanya sebagai pelengkap dakwah, melainkan sebagai inti dari upaya melahirkan generasi yang tangguh, beriman, dan berilmu. Seragam cokelat yang khas bukanlah sekadar atribut, melainkan simbol kesederhanaan dan kedekatan dengan bumi.

Tulisan ini hendak mengupas bagaimana kepribadian Muhammadiyah yang moderat, dinamis, dan berorientasi pada tajdid (pembaruan) termanifestasi dalam setiap gerak dan napas Hizbul Wathan. Sebuah telaah semiakademis untuk menggali benang merah antara gerakan Pandu dan identitas keislaman yang mencerahkan.

Fondasi Historis dan Filosofis: HW sebagai Manifestasi Tajdid

Hizbul Wathan lahir pada tahun 1918 di Yogyakarta, hanya enam tahun setelah berdirinya Muhammadiyah (1912). Kelahiran ini bukanlah kebetulan. Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, melihat kebutuhan mendesak akan wadah pembinaan generasi muda yang terstruktur. Di era penjajahan, semangat nasionalisme dan perlawanan budaya harus dibalut dengan disiplin dan organisasi yang sehat.

Pada masa itu, kepanduan ala Belanda (Nederlandsche Padvinders Organisatie) sudah masuk ke Hindia Belanda. Namun, KH. Ahmad Dahlan tidak ingin pemuda pribumi meneladani nilai-nilai yang mungkin tidak sejalan dengan Islam dan nasionalisme. Maka, HW didirikan sebagai alternatif yang Islami, merdeka, dan berakar pada budaya lokal, sekaligus menyerap metode kepanduan modern yang baik.

Penamaan "Hizbul Wathan" (dari bahasa Arab: Hizb = partai/kelompok, Wathan = tanah air) secara eksplisit menunjukkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman. Ini menegaskan kepribadian Muhammadiyah yang tidak memisahkan agama dari urusan kebangsaan. Bukan nasionalisme sempit, melainkan patriotisme yang dilandasi nilai ilahiah.

Falsafah HW tersusun dalam trilogi: “Cinta tanah air adalah iman, tiap Muslim adalah saudara, dan tiap Muslim adalah pemimpin.” Ketiga pilar ini mencerminkan ajaran Islam yang universal. Kepribadian Muhammadiyah yang menekankan persaudaraan (ukhuwah) dan kepemimpinan (leadership) sejak dini menemukan wujud nyata dalam setiap kegiatan HW.

Salah satu ciri utama Muhammadiyah adalah tajdid, yaitu pemurnian dan pembaruan. HW mewujudkan tajdid dengan cara mengambil metode kepanduan internasional yang baik, lalu menyaringnya dengan nilai-nilai Al-Ma'un (surat ke-107). Artinya, kegiatan kepanduan bukan hanya untuk kesenangan, tetapi untuk mengasah kepekaan sosial. Ini adalah pembaruan atas praktik kepanduan yang sekuler.

Muhammadiyah dikenal dengan jalan wasathiyyah (moderat). Dalam Peraturan Dasar HW, tidak ada sikap ekstrem kanan (militeristik kaku) maupun ekstrem kiri (bebas tanpa batas). Aturannya tegas tetapi fleksibel. Misalnya, atribut seragam yang sederhana menunjukkan antikemewahan, tetapi tetap rapi sebagai cerminan disiplin.

Warna cokelat yang menjadi identik dengan HW sengaja dipilih. Cokelat melambangkan tanah, kesederhanaan, dan ketangguhan. Ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap gaya hidup feodal. Kepribadian Muhammadiyah yang merakyat dan anti-penindasan terejawantah dalam pilihan warna yang tidak mencolok tetapi berwibawa.

Sejak usia dini, anggota HW dilatih bergiliran menjadi pemimpin regu (qiyadah). Ini mengajarkan bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah amanah, bukan hak istimewa. Kepribadian Muhammadiyah yang menonjolkan musyawarah untuk kemaslahatan umat dibentuk di sini melalui metode belajar sambil memimpin.

Aktivitas HW seperti hiking, berkemah, dan pertolongan pertama selalu diselingi dengan ibadah ritual (shalat berjamaah, dzikir). Namun, yang lebih penting, HW mengajarkan bahwa bekerja dan membantu sesama adalah ibadah. Ini menyatu dengan paham al-ma’un yang menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah di bidang sosial.

HW sempat dibekukan pada masa Orde Baru karena kebijakan penyatuan organisasi kepanduan menjadi Pramuka. Namun, semangat HW tidak pernah mati. Setelah reformasi, HW bangkit kembali. Proses kebangkitan ini menunjukkan kepribadian Muhammadiyah yang ulet dan tidak mudah menyerah pada tekanan politik tetap istiqamah pada idealisme.

Praktik Kepanduan yang Mencerminkan Nilai-nilai Utama Muhammadiyah

HW mengadopsi sistem among (pamong = asuhan) yang mengedepankan keteladanan. Seorang Pembimbing HW (Pandu) tidak boleh kasar atau otoriter. Ini sejalan dengan ajaran Islam tentang uswatun hasanah (teladan yang baik). Kepribadian Muhammadiyah yang lembut dalam metode tetapi tegas dalam prinsip terlihat jelas di sini.

Berbeda dengan panduan biasa, HW mengajarkan keterampilan hidup seperti membuat api, mendirikan tenda, dan membaca kompas, tetapi semua itu dikaitkan dengan sunnah-sunnah Nabi. Misalnya, menjaga kebersihan lingkungan di kemah adalah bagian dari thaharah (bersuci) secara maknawi. Ini integrasi ilmu dan iman.

Upacara HW tidak bertele-tele. Mengikuti prinsip efisiensi dalam Muhammadiyah, upacara dilakukan secara ringkas tetapi sarat dengan pesan pembinaan karakter. Pengibaran bendera HW (berwarna hijau dengan bulan sabit dan bintang) selalu diiringi pengucapan janji yang menyebut nama Allah. Tidak ada ritual syirik, hanya pengokohan komitmen.

Salah satu kode kehormatan HW adalah “Pandu Hizbul Wathan wajib membantu sesama setiap saat.” Ini bukan sekadar slogan. Latihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (PPPK) menjadi kurikulum wajib. Kepribadian Muhammadiyah yang menekankan amal nyata, bukan omong kosong, tercermin dalam kesiapsiagaan ini.

Menggali, berkemah, dan menyusuri sungai dalam kegiatan HW bukan sekadar petualangan. Aktivitas itu diajarkan sebagai cara untuk merenungkan kebesaran Allah (tafakur). Kepribadian Muhammadiyah yang rasional tetapi spiritual menemukan keseimbangan dalam pencintaan alam yang bertanggung jawab, bukan eksploitatif.

Meskipun HW berasaskan Islam dan hanya untuk anggota Muslim, dalam praktik sosialnya, HW mengajarkan untuk bekerja sama dengan siapa pun dalam hal kebaikan. Misalnya, bantuan bencana diberikan tanpa melihat latar belakang. Ini adalah wujud dari QS. Al-Mumtahanah: 8 tentang berbuat baik kepada non-muslim yang tidak memusuhi.

Melalui kegiatan musyawarah regu (diskusi kecil), HW melatih keberanian berpendapat dan menghargai keputusan mayoritas. Ini adalah pendidikan politik dasar yang sehat. Berbeda dengan politik praktis yang sering korup, HW menanamkan bahwa keputusan terbaik adalah yang mengutamakan kemaslahatan banyak orang (mirip dengan prinsip maslahah mursalah dalam Muhammadiyah).

Seperti Pramuka memiliki Dasa Dharma, HW memiliki Kode Kehormatan yang disebut "Janji Setia Hizbul Wathan" dan "Moral Hizbul Wathan". Ada butir-butir menarik: "Pandu HW menepati janji dan setia." Ini mencerminkan bahwa dalam Muhammadiyah, komitmen organisasi adalah amal saleh yang diperhitungkan. Moral tanpa komitmen dianggap munafik.

HW memiliki divisi khusus untuk putri (Pandu Putri) dengan pembimbing yang juga perempuan. Ini menunjukkan modernitas Muhammadiyah dalam memberdayakan perempuan tanpa melanggar syariat. HW mengajarkan bahwa perempuan pandu adalah pejuang yang tangguh di bidangnya, bukan sekadar pendamping laki-laki.

Dalam setiap perkemahan, anggota HW dilatih untuk mengelola keuangan sendiri, bahkan kadang-kadang memasak dari bahan sederhana. Ini meneladani sikap Muhammadiyah yang mandiri secara finansial melalui koperasi dan usaha. HW tidak mengajarkan ketergantungan pada donor asing atau pemerintah.

Bunyikan peluit tepat pukul 05.00 untuk shalat subuh berjamaah, lalu langsung olahraga. HW sangat ketat soal waktu. Dalam pandangan Muhammadiyah, membuang waktu adalah bagian dari kemunduran umat. HW mendidik bahwa disiplin waktu adalah ciri orang beriman (QS. Al-Ashr). Ini berbeda dengan stereotip "waktu orang Indonesia" yang lamban.

Salah satu penyakit dalam organisasi kepanduan di berbagai belahan dunia adalah perploncoan. HW sejak awal melarang keras tindakan kekerasan atau perundungan dalam bentuk apa pun. Jika terjadi, pembimbing akan diberikan sanksi. Ini sejalan dengan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin yang dibawa Muhammadiyah.

Data menunjukkan bahwa remaja yang aktif dalam kegiatan kepanduan memiliki risiko lebih rendah untuk terlibat dalam narkoba atau tawuran. HW hadir sebagai "benteng moral" dengan mengisi waktu luang dengan aktivitas positif: tali-temali, sandi, olahraga, bakti sosial. Ini adalah strategi preventif yang khas Muhammadiyah: lebih baik mencegah daripada mengobati.

Seperti halnya Muhammadiyah memiliki kaderisasi dari tingkat ranting hingga pusat, HW memiliki sistem golongan: Siaga (balita), Penggalang (7-14 tahun), Penegak (14-17 tahun), Pandega (17-25 tahun), dan Pembimbing (dewasa). Setiap jenjang memiliki kurikulum yang berbeda sesuai psikologi usia. Ini menunjukkan sisi ilmiah dan terukur kepribadian Muhammadiyah.

Maka, Hizbul Wathan bukanlah sekadar “kegiatan nostalgia” bagi kader Muhammadiyah lama. Ia adalah mesin pembentuk kepribadian yang masih relevan di era digital. Tantangan zaman baru (adiksi gawai, individualisme, radikalisme) dapat diatasi jika HW kembali digalakkan secara masif di seluruh sekolah dan universitas Muhammadiyah. Kepribadian Muhammadiyah yang moderat, mandiri, dan beramal nyata perlu terus dirawat, dan HW adalah salah satu tamannya yang paling subur.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Budaya versus Agama Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Saya ingin....

Suara Muhammadiyah

9 August 2024

Wawasan

Antara "Al-Silm" dan "Al-Islam": Memahami Konsep Kedamaian dalam Al-Qur'an Oleh: Donny Syofyan....

Suara Muhammadiyah

14 April 2025

Wawasan

Modus Kriminalitas Zaman "Edan" Oleh : Dr. Amalia Irfani, M.Si., Dosen IAIN Pontianak/Sekretar....

Suara Muhammadiyah

24 February 2025

Wawasan

Oleh: Ika Sofia Rizqiani, S.Pd.I., M.S.I, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyah di Prodi Agribisnis UMMI....

Suara Muhammadiyah

21 September 2025

Wawasan

Mengenal Manajemen Risiko Lembaga Amil Zakat Penulis: Kumara Adji Kusuma, Dosen Universitas Muhamma....

Suara Muhammadiyah

19 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah