Kesalehan Ekologis, Jalan Merawat Bumi Berkeadilan

Suara Muhammadiyah

28 February 2026

545
Pengajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Sabtu (28/2/2026). Foto: Daffa

Pengajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Sabtu (28/2/2026). Foto: Daffa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Gerakan 'Aisyiyah Membangun Kesalehan Ekologis Berkeadilan, merupakan bentuk atensi 'Aisyiyah dalam merespons krisis lingkungan yang tengah menyeruak saat ini.

Di situlah titik tekannya yang diulas dalam Pengajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Sabtu (28/2) di Ruang Aula Kantor PP 'Aisyiyah Yogyakarta.

Ketua Umum PP 'Aisyiyah Salmah Orbayinah menuturkan, kata kesalehan terambil dari kata saleh. Maknanya manusia yang baik dan melakukan perbaikan di muka bumi.

"Dan mengikuti sebuah standar yang Tuhan tetapkan atas penciptaan manusia di muka bumi," katanya.

Secara universal, term kesalehan ekologis, meniscayakan manusia yang diberikan kepercayaan sebagai khalifatullah untuk mengelola dan menjaga bumi sebagai planet yang ditinggali.

"Kesalehan ekologis adalah kesalehan yang menyadari bahwa: alam adalah amanah, manusia adalah khalifah, dan keberlanjutan bumi adalah bagian dari ibadah," jelas Salmah.

Sementara, kata keadilan di sini, dimaksudkan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang benar sesuai dengan hakikat dan tatanan wujudnya. Karena itu, menjadi fundamental manusia mengetahui letak dan posisi dalam tatanan alam ini.

"Karena pemahaman kita menentukan benar tidaknya kita dalam bertindak," tegasnya, mencontohkan bencana banjir, longsor, kekeringan, deforestasi, dan lainnya, merupakan manifestasi kesalahan pemahaman manusia terhadap cara mengelola bumi secara arif.

Bagi Salmah, bencana ini bukan sekadar persoalan lingkungan. Ini adalah krisis moral, krisis spiritual, dan krisis keadilan.

Bumi tidak rusak dengan sendirinya. Ia rusak karena cara manusia memandang dan memperlakukannya.

"Ini adalah krisis moral, krisis spiritual, dan krisis keadilan. Bumi tidak rusak dengan sendirinya. Ia rusak karena cara manusia memandang dan memperlakukannya," tegas Salmah sekali lagi, seraya menukil Qs ar-Rum ayat 41.

Ayat ini, kata Salmah, bukan sekadar peringatan, tetapi panggilan tanggung jawab. Di sinilah relevansi kesalehan Ekologis, sebagai manifestasi Tauhid murni dalam Kehidupan Nyata.

"‘Aisyiyah memahami bahwa tauhid tidak berhenti pada ibadah ritual. Tauhid harus melahirkan tanggung jawab sosial dan ekologis," bebernya.

Seorang mukmin yang saleh, sambung Salmah, tidak mungkin mendestruksi lingkungan tempat kehidupan berlangsung.

"Ini merupakan bentuk nyata dari bagian penghambaan kepada Allah," tandasnya.

Melalui Pengajian Ramadan ini, PP ‘Aisyiyah menghadirkan ruang refleksi teologis, fikih, dan praksis untuk memperkuat pemahaman kesalehan ekologis berbasis nilai-nilai keadilan, yakni keberpihakan pada kehidupan manusia dan keberlanjutan lingkungan hidup. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bencana alam berupa tanah longsor dan banjir besar yang terjadi di ....

Suara Muhammadiyah

6 December 2025

Berita

KEDIRI, Suara Muhammadiyah – Syahdan, Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama kali di Gua Hir....

Suara Muhammadiyah

20 April 2026

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Residen Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Fakultas Kedokteran Gi....

Suara Muhammadiyah

16 January 2024

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM)....

Suara Muhammadiyah

9 October 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) Pimpinan Wil....

Suara Muhammadiyah

29 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah