YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tidak mudah menjadi orang tua. Apalagi di zaman sekarang. Banyak hal harus ditunaikan, salah satunya mempersiapkan generasi untuk mengisi kepemimpinan Indonesia di masa depan. Upaya ini tidak dapat dilepaskan dari bagaimana dan sejauh apa orang tua mampu memaknai perannya sebagai sumber kesalehan, khususnya terkait kesalehan sosial di tengah masyarakat.
Pada acara kuliah kebangsaan yang dibalut dalam rentetan ibadah sholat tarawih di Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, Busyro Muqoddas mengatakan, dalam mempersiapkan generasi baru, kesalehan sosial menempati posisi sangat penting. Yakni untuk memastikan generasi yang akan datang tidak mengalami keterputusan dari akar ketauhidannya kepada Allah Sang Pencipta.
“Kesalehan ini memiliki relasi yang kuat dalam membentuk pemimpin masa depan yang bertauhid kepada Allah,” tegasnya pada Jum’at malam, 27 Februari 2026.
Yang menjadi pertanyaan, apakah bertauhid cukup dengan hanya berkeyakinan. Tentu tidak. Selain meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang Esa, seorang yang beriman juga memiliki kewajiban untuk memberikan manfaat bagi lingkungan dan kehidupan di sekitarnya. Ketua KPK periode 2010-2012 itu pun membuat sebuah permisalan dari seekor lintah yang memiliki manfaat dalam dunia medis.
“Lintah saja ada manfaatnya. Padahal lintah tidak disebutkan dalam Al-Qur'an yang memiliki manfaat yang luar biasa. Sedangkan manusia berkali-kali disebut dalam Al-Qur'an sebagai sebaik-baiknya penciptaan, namun dalam kenyataannya manusialah yang menciptakan kerusakan,” ujar Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Busyro pun menegaskan, bertauhid artinya bertuhan dengan penuh kesadaran. Sadar bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Dengan modal ini, ia yakin bahwa manusia akan dapat dengan mudah mencapai kehidupan sosial, politik bersama yang penuh berkah dan diridhoi Allah.
“Andai saja penduduk Indonesia memiliki kesadaran politik politik yang tinggi, tahu mana yang layak dan tidak untuk dipilih, tentu umat ini dapat terhindarkan dari predikat sebagai korban,” tandas Busyro.
Menurut Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi Dewan Pers periode 2025-2028, menjadi orang yang saleh tidak dapat dibatasi hanya pada kedudukan sosial, profesi, jabatan, dan lain sebagainya. Kebaikan bisa menjadi milik siapa saja yang berkomitmen kepadanya. Oleh karena itu, salah satu wujud menyiapkan masa depan adalah dengan memberi anak-anak pendidikan yang baik.
“Muhammadiyah pernah melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa yang saleh, salah satunya Panglima Besar Jendral Sudirman. Mari kita didik Sudirman-Sudirman baru, demi masa depan Indonesia yang lebih baik,” pesannya. (diko)

