Keteladanan RA Kartini Mendobrak Kejumudan

Suara Muhammadiyah

22 April 2024

2923
Surat Kartini kepada Rosa Abendanon Foto Istimewa

Surat Kartini kepada Rosa Abendanon Foto Istimewa

Keteladanan RA Kartini Mendobrak Kejumudan

Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM Troketon

"Tuhan menciptakan manusia dengan hak dan kewajiban yang sama, baik perempuan maupun laki-laki."

Setiap tanggal 21 April, kita memperingati Hari Kartini, mengenang sosok perempuan bernama Raden Ajeng Kartini, putri Raden Mas (RM) Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Kartini juga merupakan keturunan Sultan Hamengku Buwono VI dari Kraton Jogjakarta.

RA Kartini tumbuh sebagai putri seorang bupati di Jepara, hidup dalam lingkungan yang berkecukupan. Meskipun demikian, Kartini dikenal sebagai sosok yang mandiri dan penuh ambisi untuk mencoba hal baru. Dia bercita-cita membebaskan kaum perempuan dari ketertinggalan, agar bisa setara dengan laki-laki. Untuk itu, Kartini rajin membaca buku dan berinteraksi dengan dunia luar.

Dia juga membangun jaringan dengan mengirim surat ke teman-temannya di Eropa, walaupun awalnya orang tuanya menolak. Namun, berkat dorongan dan dukungan dari saudara-saudaranya, Kardinah dan Roekmini, semangat Kartini semakin menyala. Filosofinya adalah "Ilmu adalah jendela dunia," dan dia mengutip ungkapan, "Minnal Dzulumatin Ilan Nur" (Dari kegelapan menuju cahaya yang menerangi).

Selain itu, RA Kartini juga seorang santri yang cerdas, belajar agama dengan KH Sholeh Darat. Dia bahkan meminta penjelasan tafsir dari salah satu surat dalam Al-Qur'an.

Namun, meskipun bersemangat untuk belajar dan membebaskan perempuan dari belenggu ketertinggalan, Kartini harus menerima keputusan orang tuanya, terutama sang ayah, untuk menikah dengan sosok laki-laki pilihan mereka. Dia menikah dengan KRM Adipati Aria Singgih Djoyo Adiningrat, Bupati Rembang, pada 12 November 1903. Meskipun demikian, semangatnya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan tetap menyala.

Keteladanan dari RA Kartini

Dari jejak RA Kartini, ada lima nilai yang bisa kita warisi semangat belajar yang tinggi: Kartini terus belajar dalam kondisi apa pun, termasuk setelah menjadi istri bupati. Dia juga belajar agama dari KH Sholeh Darat, seorang ulama terkenal di Semarang. Supel dalam pergaulan: Kartini tidak membeda-bedakan dalam bergaul, baik dengan kalangan ningrat maupun rakyat biasa.

Menghormati orang tua: Dia mengesampingkan egonya dengan mengikuti kehendak orang tuanya untuk menikah dengan sosok laki-laki pilihan mereka. Berani bermimpi: Kartini berani memimpikan kesetaraan bagi perempuan, melawan ketidakadilan, dan menghadapi tantangan. Berjiwa sosial: Dia gemar membantu orang lain, sebagaimana terlihat dari tindakan-tindakannya.

Sebagai generasi penerus, kita harus meneladani sifat-sifat yang Kartini tunjukkan selama hidupnya. Walaupun jasadnya sudah dikuburkan, nilai-nilai warisannya masih hidup.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Bayujati Prakoso Tim Penyusun Manifesto Gerakan Inklusif Berkemajuan Muktamar IMM ke-XX tela....

Suara Muhammadiyah

12 March 2024

Wawasan

Pendidikan Nonformal Muhammadiyah: Jalan Pencerahan, Pemberdayaan, dan Keberlanjutan Umat Oleh: M. ....

Suara Muhammadiyah

17 February 2026

Wawasan

Satu Frekuensi dalam Pengamalan Puasa Oleh: Mohammad Fakhrudin Dari segi hukum, ada dua macam puas....

Suara Muhammadiyah

30 June 2026

Wawasan

Guru yang Tak Dilindungi Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (U....

Suara Muhammadiyah

22 November 2024

Wawasan

Profesional-Kader dan Kader-Profesional: Membaca Ulang Warisan Pemikiran Djazman Al Kindi bagi Amal ....

Suara Muhammadiyah

11 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah