Ketika Negara Menanam Masa Depan di Subulussalam

Suara Muhammadiyah

14 August 2026

403
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Sekolah Nasional Terintegrasi, Pendidikan Berkemajuan, dan Harapan Baru Pembangunan SDM

Oleh: Wildan Sastra, Kepala Bagian Pemerintahan Setda Kota Subulussalam dan Alumni Pendidikan Muhammadiyah

Ada kalanya sebuah kebijakan pemerintah tidak cukup dibaca hanya sebagai sebuah program pembangunan. Di baliknya terdapat gagasan tentang bagaimana negara menyiapkan masa depan.

Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) menjadi menarik ketika hadir di Kota Subulussalam. Bagi sebuah kota yang relatif baru, dengan keterbatasan sumber daya manusia, fasilitas pendidikan unggulan dan akses pendidikan tinggi, kehadiran SNT bukan sekadar pembangunan sebuah sekolah. Ia dapat menjadi investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang akan menentukan masa depan daerah.

Sebagai seseorang yang pernah menempuh pendidikan di lingkungan Muhammadiyah, saya melihat bahwa gagasan pendidikan berkemajuan bukan sekadar konsep yang dibaca, tetapi juga bagian dari pengalaman pendidikan yang pernah dijalani. Karena itu, hadirnya kebijakan pendidikan nasional seperti SNT menarik untuk dilihat dari perspektif tersebut.

Pendidikan sebagai Jalan Perubahan

Dalam sejarahnya, Muhammadiyah memiliki pengalaman panjang menjadikan pendidikan sebagai jalan perubahan sosial.

Sejak KH Ahmad Dahlan merintis pendidikan Muhammadiyah, salah satu gagasan penting yang dikembangkan adalah keluar dari dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Pendidikan tidak cukup hanya membuat peserta didik menguasai pengetahuan, tetapi juga harus membentuk karakter, kemampuan berpikir, keterampilan dan kesiapan menghadapi persoalan kehidupan.

Gagasan tersebut terus berkembang dalam perjalanan pendidikan Muhammadiyah. Melalui Majelis Pendidikan Dasar, Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF), Muhammadiyah mendorong pengembangan sekolah yang unggul, modern, integratif dan berkemajuan.

Pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang nilai ujian. Ia tentang membangun manusia yang memiliki ilmu, karakter, kemampuan bekerja sama, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki kepercayaan diri untuk berkontribusi bagi masyarakat.

Dalam konteks inilah kebijakan pengembangan sekolah unggul dan penguatan talenta yang dilakukan pemerintah menjadi menarik untuk diperhatikan.

Irisan gagasan tersebut semakin menarik karena Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu'ti, merupakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Tentu, keberadaan kader Muhammadiyah dalam pemerintahan tidak berarti seluruh kebijakan pemerintah merupakan kebijakan Muhammadiyah. Negara memiliki sistem, regulasi, kepentingan nasional dan mekanisme kebijakannya sendiri.

Namun, pengalaman panjang gerakan pendidikan masyarakat dapat memberi perspektif yang memperkaya kebijakan pendidikan nasional.

Di sinilah SNT dapat dibaca sebagai bagian dari arus besar pembangunan manusia. Sekolah tidak hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tetapi sebagai lingkungan yang memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi akademik maupun nonakademik.

Ada titik temu yang menarik antara gagasan tersebut dengan semangat pendidikan berkemajuan: pendidikan harus membuka kesempatan bagi anak-anak untuk tumbuh menjadi manusia yang utuh dan unggul.

Mengapa Subulussalam Menjadi Penting?

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa investasi pendidikan semacam ini penting bagi Subulussalam.

Subulussalam merupakan daerah yang relatif baru dan masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam pembangunan sumber daya manusia. Indeks Pembangunan Manusia, ketersediaan fasilitas pendidikan unggulan dan akses terhadap pendidikan tinggi masih menjadi tantangan yang perlu terus diperkuat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia harus ditempatkan sebagai agenda strategis, bukan sekadar pelengkap pembangunan infrastruktur.

Sebuah daerah mungkin dapat mengejar ketertinggalan infrastruktur dalam beberapa tahun. Jalan dapat dibangun, gedung dapat didirikan dan kawasan ekonomi dapat dikembangkan. Tetapi membangun manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Di sisi lain, Subulussalam memiliki posisi geografis yang strategis. Kota ini menjadi salah satu kawasan penting di bagian barat daya Aceh dan memiliki hubungan mobilitas dengan berbagai wilayah di sekitarnya.

Posisi tersebut memberikan peluang bagi Subulussalam untuk berkembang sebagai salah satu simpul atau hub pelayanan, ekonomi, perdagangan dan pendidikan bagi kawasan yang lebih luas. Hubungan tersebut juga bersinggungan dengan wilayah kepulauan seperti Simeulue, Pulau Banyak dan Nias.

Karena itu, pembangunan sumber daya manusia di Subulussalam memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan sebuah kota.

Jika ekosistem pendidikan Subulussalam semakin kuat, kota ini tidak hanya dapat menyiapkan generasinya sendiri, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan pendidikan dan sumber daya manusia bagi kawasan di sekitarnya.

SNT dan Ekosistem Pendidikan

Dalam konteks tersebut, kehadiran SNT harus dilihat sebagai peluang untuk membangun ekosistem pendidikan baru.

Keberhasilan SNT tidak semestinya hanya diukur dari berdirinya gedung, lengkapnya fasilitas atau jumlah siswa yang diterima.

Ukuran yang lebih penting adalah dampaknya terhadap lingkungan pendidikan.

Guru berkembang. Talenta ditemukan. Prestasi tumbuh. Budaya belajar menguat. Sekolah di sekitarnya ikut terdorong. Pada akhirnya, kualitas sumber daya manusia daerah meningkat.

Jika rangkaian tersebut terjadi, maka SNT tidak lagi hanya menjadi sekolah unggulan. Ia dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan pendidikan di Subulussalam.

Di sinilah pengalaman Muhammadiyah dalam mengelola pendidikan dapat menjadi bahan dialog yang konstruktif.

Bagaimana membangun budaya sekolah yang unggul? Bagaimana menjadikan guru sebagai pembelajar? Bagaimana menemukan anak-anak berbakat dari daerah? Bagaimana menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, karakter dan nilai? Dan bagaimana sekolah unggulan tidak menjadi menara gading, tetapi ikut mengangkat mutu sekolah di sekitarnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena ukuran keberhasilan sekolah unggulan bukan hanya berapa banyak siswanya yang menjadi juara. Ukuran yang lebih besar adalah seberapa jauh keberadaan sekolah tersebut mampu mengubah ekosistem pendidikan di sekitarnya.

Program pemerintah pusat tidak akan otomatis berhasil hanya karena gedungnya berdiri.

Diperlukan kesiapan pemerintah daerah, sekolah, guru, orang tua, masyarakat dan seluruh ekosistem pendidikan.

Di sinilah kepemimpinan daerah menemukan perannya. Pemerintah daerah harus mampu membaca arah kebijakan nasional, membangun komunikasi dengan pemerintah pusat, memperjuangkan kepentingan daerah dan memastikan daerah siap ketika peluang pembangunan datang.

SNT di Subulussalam menjadi contoh bahwa pembangunan membutuhkan pertemuan antara kebijakan pusat dan kesiapan daerah.

Pemerintah pusat menghadirkan peluang. Pemerintah daerah menyiapkan ekosistem. Sekolah dan guru menghidupkan proses pendidikan. Masyarakat memastikan keberlanjutannya.

Jika semua unsur tersebut dapat bekerja bersama, sebuah program pusat dapat berubah menjadi energi pembangunan daerah.

Pada akhirnya, pembangunan pendidikan bukan pekerjaan yang hasilnya dapat langsung terlihat.

Anak yang hari ini duduk di bangku sekolah mungkin dua puluh tahun mendatang menjadi dokter, guru, insinyur, pengusaha, peneliti, teknolog, birokrat, ulama, atlet atau pemimpin masyarakat.

Karena itu, keputusan menghadirkan SNT di Subulussalam harus dilihat sebagai investasi jangka panjang.

Bagi Subulussalam, investasi tersebut memiliki arti ganda. Pertama, mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah yang masih menghadapi keterbatasan. Kedua, memperkuat posisi Subulussalam sebagai salah satu simpul pertumbuhan dan penghubung kawasan di bagian barat daya Aceh.

Muhammadiyah memiliki pengalaman panjang menjadikan pendidikan sebagai instrumen pembaruan masyarakat. Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya untuk memperluas kesempatan pendidikan berkualitas. Pertemuan keduanya seharusnya tidak dipahami sebagai persoalan siapa yang memiliki gagasan, tetapi bagaimana gagasan pendidikan yang baik dapat diwujudkan dan memberikan manfaat yang lebih luas. Subulussalam kini mendapatkan kesempatan itu.

SNT bukan akhir dari perjalanan. Ia adalah awal untuk membangun budaya belajar yang lebih kuat, menemukan dan menumbuhkan talenta, meningkatkan kualitas guru, memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas dan menghubungkan pembangunan manusia dengan masa depan ekonomi daerah.

Dua puluh tahun mendatang, mungkin kita baru akan melihat hasil dari apa yang ditanam hari ini.

Bisa jadi anak-anak Subulussalam bukan lagi hanya menjadi penerima manfaat pembangunan. Mereka justru menjadi orang-orang yang menggerakkan pembangunan di daerahnya, di Aceh, bahkan di Indonesia.

Sebab pembangunan Indonesia tidak boleh hanya menanam investasi di tempat-tempat yang sudah maju.

Negara juga harus berani menanam masa depan di daerah-daerah yang sedang tumbuh. Dan Subulussalam adalah salah satunya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

NGAJI YANG MENJADI AMAL: Pelajaran dari Kesederhanaan Muhammadiyah Oleh: Jabrohim Di sebuah ruang ....

Suara Muhammadiyah

4 May 2025

Wawasan

Belajar dari Bank: Mengapa Lembaga Zakat Perlu Berpikir Retail, Korporat, dan Investasi Sosial Oleh....

Suara Muhammadiyah

1 January 2026

Wawasan

Mencari Dunia Tanpa Harus Melupakan Akhirat Oleh: Suko Wahyudi,  PRM Timuran Yogyakarta  ....

Suara Muhammadiyah

25 January 2025

Wawasan

Kemudahan dan Kesempurnaan Agama Islam Oleh: Drs. Seneng Waluyo, M.H.I.,MM., Warga Muhammadiyah tin....

Suara Muhammadiyah

19 December 2024

Wawasan

Imam Masjid Muhammadiyah Seharusnya: Belajar dari Turki Oleh: Dr. Husamah, S.Pd, M.Pd, Dosen Pendi....

Suara Muhammadiyah

16 December 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah