YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Aura kepemimpinannya karismatik. Kata-kata yang keluar memancarkan optimisme. Intonasi bicaranya lembut namun tegas. Ia adalah Mulyono, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan yang hadir membersamai peserta Baitul Arqam dan Capacity Building Pimpinan AUM se-Kabupaten Pekalongan di SM Tower Malioboro (24/1).
Dalam sambutannya, ia mengatakan, di Muhammadiyah, AUM bukan sekadar institusi tempat bekerja. Tapi juga sebagai media dakwah Persyarikatan dalam berbagai sektor kehidupan. Mulai dari pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu pimpinan AUM menurutnya bukan sekadar menejer administrasi, bukan juga pimpinan teknis, di samping leader untuk urusan teknis dan administrasi, ia juga sebagai pimpinan nilai.
“Jika Amal Usaha Muhammadiyah diibaratkan sebagai sebuah kapal, maka bapak ibu semua adalah nahkoda sekaligus kompasnya, yang sikapnya menjadi contoh, ucapannya menjadi rujukan, dan keputusan-keputusannya menjadi cerminan akhlak Islam yang berkemajuan,” tegasnya.
Menurutnya Baitul Arqam memiliki peran strategis sebagai wadah penguatan integritas, karakter, dan ruh Muhammadiyah yaitu keikhlasan. “Baitul Arqam bukan hanya untuk upgrade skill, namun juga upgrade kepribadian. Bukan hanya menajamkan kecerdasan, tapi juga menguatkan integritas kita,” ujarnya.
Kompetensi menurutnya dapat dipelajari, tapi karakter, integritas, dan kepribadian harus dibangun, dibina, dan selalu dirawat dengan sebaik-baiknya. “Kita harus sadar bahwa keruntuhan suatu unit sering kali bukan karena permasalahan dari luar, melainkan karena kurang kuatnya integritas dan karakter,” jelasnya.
Karakter yang dimaksud di antaranya karakter ideologis. Yang mana setiap pemimpin dan pengelola AUM harus paham dan bangga terhadap Muhammadiyah. Mulai dari sejarah berdirinya, manhaj, serta cita-citanya. Ia pun mengingatkan, jangan sampai pemimpin Amal Usaha Muhammadiyah memiliki cara pandang, berpikir dan bertindak yang jauh dari nilai Islam berkemajuan.
Kedua, karakter kepemimpinan yang profetik, yaitu karakter yang mengacu pada kepribadian Nabi Agung Muhammad Saw. Sehingga, segala nilai dan sikap harus meneladani Nabi Muhammad Saw. “Apa yang harus diteladani. Yang pertama adalah sikap shidiq, benar dalam tindakan dan jujur dalam ucapan. Kedua, amanah. Yaitu janji sunyi antara nurani dan tanggung jawab,” paparnya.
Ketiga, fatonah. Sikap tegas, adaptif, dan visioner menyikapi berbagai dinamika yang terjadi. Keempat, tabligh. Komunikatif dan tidak anti terhadap kritik. Diharapkan, melalui keempat sifat pokok ini pemimpin AUM akan selalu mengedepankan sikap tegas dalam berprinsip, lembut dalam pendekatan, dan kuat di dalam tanggung jawab. (diko)

