KULONPROGO, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kulonprogo menggelar pengajian yang menghadirkan Muhammad Ikhwan Ahada sebagai Ketua PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) DIY, Ahad (5/4) di Masjid Agung Kulonprogo.
Dalam tausiahnya, beliau menyampaikan sejumlah pesan penting seputar keberkahan dan tiga panggilan Allah bagi manusia.
Ia mengawali tausiahnya dengan menyampaikan apresiasi atas berbagai gerakan yang telah dijalankan PDM Kulonprogo, mulai dari literasi keilmuan, dakwah Islam amar ma'ruf nahi mungkar, gerakan sosial kemasyarakatan, hingga gerakan kemanusiaan global yang menjadi ciri khas Persyarikatan.
"Menjadi warga Muhammadiyah berarti menjadi pengikut Nabi Muhammad. Itu adalah tanggung jawab besar untuk senantiasa menjaga dan menumbuhkan nilai-nilai kebaikan," tegasnya.
Dalam tausiahnya, Ikhwan Ahada menjelaskan bahwa keberkahan atau barakah pada hakikatnya mengandung dua makna utama, yakni atanmiyah (berkembang/tumbuh) dan al-maslahah (membawa kebaikan dan manfaat). Keberkahan juga dimaknai sebagai wasilah agar manusia semakin dekat kepada Allah Swt.
"Karunia dan rahmat Allah jauh lebih baik daripada segala sesuatu yang kita kumpulkan di dunia ini," ujarnya, mengutip makna ayat tentang karunia Allah.
Pada pengajian Hari Syiar Muhammadiyah yang diselenggarakan di Masjid Agung Kulon Progo, Ikhwan Ahada menyampaikan nasehat yang sangat krusial bagi hamba yang beriman. Dalam kesempatan ini, Ia menguraikan tiga panggilan Allah selama manusia hidup.
Panggilan pertama adalah panggilan untuk salat. Ia menegaskan pentingnya mendahulukan salat di atas segala kesibukan duniawi. "Marwah dan harga diri umat Islam ada pada tegaknya salat. Tapi kenyataannya, pedagang repot, guru repot, pejabat repot. Semua repot, lalu salat ditunda," katanya.
Panggilan kedua adalah panggilan untuk ibadah haji. Ikhwan Ahada menyebut haji sebagai bentuk karunia dan rahmat Allah (fadlullah) yang berbeda dari panggilan salat yang bersifat rutin. "Kalau haji, persiapannya luar biasa. Pamit ke keluarga, ke tetangga, ke organisasi. Betapa besarnya panggilan itu," ungkapnya.
Adapun panggilan ketiga adalah panggilan kematian, yang ia sebut sebagai panggilan terakhir yang pasti dialami setiap manusia. Ia mengaitkannya dengan makna di balik ibadah haji itu sendiri. "Saat berhaji, kita diajarkan melepas semua keterikatan dunia. Pakaian ihram yang putih tanpa jahitan itu adalah simulasi. Persiapan kita untuk menyambut panggilan Allah yang terakhir dalam keadaan husnul khatimah," pungkasnya. (Naf)
