Khutbah Idul Fitri: Perang dan Kemanusiaan dalam Ajaran Islam
Oleh: Dr. Drs. Immawan Wahyudi, MH., Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD)
الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ -فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:
وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا .
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 70 / Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id
Kaum muslimin rahimakumullah, marilah senantiasa kita perbaharui syahadah kita, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Saw adalah Nabi dan Utusan Allah, serta penutup dari para Nabi dan Rasul, yang telah membawa cahaya kebenaran Islam yang membebaskan manusia dari alam kegelapan menuju alam penuh cahaya keimanan. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw., beserta keluarganya, para sahabatnya dan para pengikut petunjuk dan sunnahnya hingga akhir zaman. Amien.
Seiring dengan berahirnya Syahrul Mubarok wa Syahrut Tarbiyyah, kita memasuki bulan syawwal yang semoga membawa semangat dan inspirasi peningkatan dalam segala aspek kehidupan. Bijak kiranya jika kita mau mawas diri, apa saja yang dapat kita teruskan sebagai ibadah dan amal kebaikan pada bulan yang penuh kemuliaan. Beberapa hal yang semestinya kita lestarikan ba’da shiyam Ramadhan antara lain sebagai berikut.
Pertama, meneruskan kemampuan kita dalam menahan diri dari segala pikiran, ucapan dan tindakan yang dilarang oleh Allah Swt dan oleh Nabi Muhammad Saw. Kedua, meneruskan kemampuan kita dalam memaksimalkan pemanfaatan waktu untuk memperbanyak amal shalih. Ketiga, meneruskan kemampuan kita memperbesar semangat peduli pada kepentingan dan rasa hormat pada martabat kemanusiaan. Keempat, meneruskan kesediaan kita untuk membantu dan menggembirakan saudara-saudara kita dari kenyataan kurangnya harta dan pangan. Kelima, meneruskan kemampuan dalam mendidik diri agar kita tidak merasa diri sebagai orang yang telah sempurna.
Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar. Laa ilaaha illa Allah. Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahi al-hamd.
Realita kehidupan manusia tidaklah berjalan sesuai firman Allah sebagaimana telah khatib ungkapkan dalam awal khutbah yakni surat al-Isra’: ayat 70 yang artinya: "Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra' 17: Ayat 70 / * Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id
Untuk menjaga kemuliaan martabat manusia, Allah memberikan berbagai macam cara dan sarana diantaranya adalah adanya akal, hati nurani, kearifan, ilmu pengetahuan, dan alam raya seisinya juga diciptakan oleh Allah untuk ummat menusia, sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Jathiyah ayat 13. Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Allah telah menundukkan (tas khir) langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya sebagai nikmat bagi manusia. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَسَخَّرَ لَـكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
"Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir." (QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 13/Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memberikan pedoman hukum antar ummat manusia untuk saling menjaga kehidupan bersama dalam firmanNya:
وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَا حِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِا لْحَـقِّ ۗ ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
…janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti." (QS. Al-An'am 6: Ayat 151 / Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id
Demikian pula Allah Swt menetapkan hukum bagi orang bertobat misalnya dalam kasus Wahsy ketika akan masuk Islam atas seruan dari Rasulullah Saw, antara lain dia mengatakan bagaimana mungkin saya masuk Islam sedangkan saya sudah menyembah Tuhan selain Allah, sudah membunuh dan sudah pula berzina. Terhadap pertanyaan Wahsy Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah dalam surat al-Furqan ayat 70, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِلَّا مَنْ تَا بَ وَاٰ مَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًـا فَاُ ولٰٓئِكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
…"kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." Dengan turunnya ayat ini maka status pendosa dari Wahsy diampuni oleh Allah Swt dan diganti statusnya menjasi orang baik. (QS. Al-Furqan 25: Ayat 70 / Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah pula berfirman:
فَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَ جَاهِدْهُمْ بِهٖ جِهَا دًا كَبِيْرًا
"Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (Al-Qur'an) dengan (semangat) perjuangan yang besar." (QS. Al-Furqan 25: Ayat 52/Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id)
Pakar al-Qur’an ar-Raghib al-Isfahani dalam kamus al-Qur’an menegaskan bahwa jihad dan mujahadah adalah mengerahkan segala tenaga untuk mengalahkan musuh. Jihad terdiri dari tiga macam yakni: 1) jihad dalam menghadapi musuh yang nyata, 2) dalam menghadapi setan, dan 3) dalam menghadapi nafsu. Dari ketiga jenis jihad itu menurut Al-Isfahani tercakup dalam firman Allah:
وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَا دِهٖ
"Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (M. Quraish Shihab, 1996: 508-509) - (QS. Al-Hajj 22: Ayat 78 /Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id
Islam dan Hak Asasi Manusia
Menuju cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur hendaknya kita terlebih dahulu membangun hal-hal prinsipal dalam kehidupan manusia karena manusia merupakan tema sentral dari al-Qur’an. Membangun manusia seutuhnya adalah sunnatullah yang tidak akan dapat kita elakkan. Alasan-alasan mendasar tentang kewajiban untuk terus membangun diri untuk memperoleh derajat muttaqien, telah ditegaskan dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Pertama, manusia secara utuh memiliki keluhuran yang dikaruniakan Allah sekaligus penghormatan Allah atas harkat dan martabat yang harus terus dipelihara dan diperjuangkan sebagaimana difirmankan Allah Swt. dalam Surat al-Isra’ ayat 70 yang artinya; “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Kedua, kehidupan manusia merupakan proses ikhtiar yang tiada akhir. Allah Swt berfirman
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya; “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang bersabar.” (Ali Imran : 142)
Ketiga, perjuangan manusia secara sungguh-sungguh dan berkelanjutan akan menempatkan posisi manusia sebagai mahluk Allah yang berderajat tinggi. Dalam surat at-Taubah ayat 20 – 21, Allah Swt berfirman :
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَّجَنّٰتٍ لَّهُمْ فِيْهَا نَعِيْمٌ مُّقِيْمٌۙ
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan dan syurga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.”
Hukum dan Kemuliaan Manusia
Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar wa lillaahiilhamd.
Jama’ah ‘Ied rahimakumullah, fenomena perang yang bermula dari tindakan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyerang Iran, saat ini menjadi pusat perhatian dunia. Secara hukum internasional maupun secara moral sesungguhnya AS dan Israel bersalah karena pada saat menyerang secara sepihak Iran telah bersedia bernegosiasi tentang persenjataan nuklir. Namun dalam hal politik seseorang dapat berpendapat berbeda dengan apa yang seharusnya kita pedomani dari al-Qur’an dan al-Hadits. Muncullah ungkapan yang mempersoalkan mengapa dalam bulan Ramadhan malah berperang demikian sengit?
Ini merupakan sebagian kecil dari pandangan kaum muslimin yang tidak faham tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi dengan penyerangan AS dan Israel terhadap Republik Islam Iran. AS dan Israel telah sangat banyak dikritik bahkan oleh pakar-pakar mereka sendiri karena telah banyak melakukan kezaliman dan kejahatan kemanusiaan terutama di Palestina, khususnya Gaza. Posisi Iran ternyata tidak sekuat yang mereka perhitungkan karena ternyata Iran jauh lebih hebat dan rinci perhitungan-perhitungannya dalam berperang melawan negara agresor AS dan Israel.
Secara singkat, mempersiapkan diri berjihad dalam menghadapi musuh adalah perintah dari Allah. Dalam hal ini ummat Islam harus tahu persis apa dan bagaimana kekuatan musuh dan tahu persis apa dan bagaimana kelemehan musuh. Al-Qur’an dan al-Hadits Nabi Saw juga memberikan petunjuk tentang cara menghadapi setan dan nafsu manusia, serta petunjuk mengenai batasan-batasan jihad dengan menggunakan senjata. (M. Quraish Shihab, 1996: 508)
Secara historis dan syar’i, terdapat beberapa fakta antara lain Rasulullah Saw sendiri memimpin beberapa pertempuran penting di bulan Ramadhan, dengan dua yang paling utama adalah Perang Badar (17 Ramadhan 2 H) dan pembebasan Kota Makkah atau Fathu Makkah (Ramadhan 8 H). Keduanya berakhir dengan kemenangan gemilang bagi kaum Muslimin, memperkokoh eksistensi Islam dan memperluas dakwah.
Pertama, Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 H / 624 M. Konteks: Perang pertama yang menentukan, dipimpin langsung Rasulullah. Pasukan Muslim berjumlah 313 orang melawan sekitar 1.000 pasukan Quraisy. Hasil: Kaum Muslimin meraih kemenangan besar. Sebanyak 70 tentara musuh tewas (termasuk pemimpin mereka, Utbah dan Syaibah) dan 70 lainnya ditawan, korban syahid dari pihak Muslim 14 orang.
Kedua, Fathu Makkah Ramadhan 8 H / 630 M yakni penaklukan kota Makkah tanpa perlawanan berarti. Rasulullah memimpin 10.000 pasukan setelah kafir Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah berhasil menguasai Makkah, membersihkan Ka'bah dari 360 berhala, dan memaafkan penduduk Makkah. Ini menandai kemenangan mutlak kaum Muslimin atas kesyirikan di Makkah.
Ketiga, Sariyyah (Ekspedisi) Ramadhan paa tahun pertama hijriyah yakni ekspedisi atau Sariyyah Sahil Al Bahr (Ramadhan 1 H): Ekspedisi pertama yang diutus Rasulullah (dipimpin Hamzah bin Abdul Muthalib) ke pesisir laut, meskipun tidak terjadi pertempuran besar. Demikian pula ekspedisi atau Sariyyah Umar bin 'Adiy al-Khathamiy pada Ramadhan tahun kedua hijriyah, Rasulullah Saw mengutus pasukan untuk menangani ancaman dari pihak yang menghasut pembunuhan terhadap Rasulullah.
Peristiwa-peristiwa ini menegaskan bahwa bulan Ramadhan bukanlah bulan untuk bermalas-malasan, melainkan waktu untuk berjuang secara maksimal. Jika eksistensi dan martabat Muslim dihinakan apalagi diserang maka bertahan dan membalas merupakan hal yang dibolehkan sebagaimana pernah terjadi pada masa Rasulullah Saw beserta para Shahabat. Perang dalam Islam adalah jalan terakhir jika dialog, negosiasi dan diplomasi tidak dapat menahan serangan dari lawan.
Perang dalam Islam juga bukan hanya untuk kepentingan sesaaat dari kaum Muslimin semata tetapi untuk menjaga kehidupan ummat manusia dimanapun berada yang dalam ancaman bahaya kedzaliman dari manusia lain. Perang dalam ajaran Islam salah satu jalan untuk memelihara kehormatan dan kemuliaan ummat manusia sebagaimana telah difirmankan Allah Swt dalam surat al-Isra ayat 70.
Allahu akbar – Allahu Akbar – walillaahil hamd
Jama’ah Ied rahimakumullah, marilah kita bermunajah kepada Allah dengan hati yang khusyu’ semoga kita semua diberi ampunan dan kehidupan yang lebih baik dalam menyelenggarakan kehidupan berkeluarga, berbangsa dan bernegara. Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمـُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمـُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ فيَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ اللّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ .
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِيعَ عِبَادَاتِنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسلِمِين وَاجْمَعْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَلَمِينَ
رَبَّنَا وَاٰ تِنَا مَا وَعَدْتَّنَا عَلٰى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ
رَبَّنَا وَا جْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَـكَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِنَاۤ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ ۖ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَا بَ النَّا رِ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ
.مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
