Khutbah Jum'at: 4 Cara Menjaga Iman di Zaman Media Sosial
Penulis: Furqan Mawardi, Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju, Ketua LPCRPM PWM Sulawesi Barat
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، فَإِنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ وَقَاهُ، وَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ كَفَاهُ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita hidup di zaman yang sangat berbeda. Dahulu manusia diuji dengan kemiskinan, peperangan, dan keterbatasan informasi. Namun hari ini, manusia diuji dengan sesuatu yang setiap saat berada di genggaman tangannya, yaitu media sosial.
Dalam satu hari, mungkin kita lebih banyak melihat layar handphone daripada melihat wajah keluarga kita sendiri. Jari kita begitu aktif menggulir layar, tetapi hati kita sering kali lalai menggulir ayat-ayat Allah. Mata kita begitu sibuk melihat kehidupan orang lain, tetapi lupa melihat kekurangan diri sendiri.
Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Ia bisa menjadi jalan pahala, tetapi juga bisa menjadi pintu dosa. Ia bisa mendekatkan manusia kepada Allah, tetapi juga bisa menjauhkan manusia dari zikir dan ketenangan hati.
Karena itu pertanyaannya bukan lagi: “Apakah kita punya media sosial?” Akan Tetapi: “Apakah iman kita masih selamat di tengah media sosial?”
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Setidaknya ada empat cara menjaga iman di zaman media sosial hari ini.
Pertama: Menjaga Mata dan Hati dari Hal yang Merusak
Hari ini begitu banyak hal melintas di layar kita. Gambar, video, tontonan, dan konten yang sedikit demi sedikit bisa mengotori hati manusia.
Allah Subhānahu wa Ta‘ālā berfirman:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ
“Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)
Banyak orang menjaga rumahnya dari pencuri, tetapi tidak menjaga matanya dari hal-hal yang merusak iman. Padahal apa yang sering dilihat oleh mata perlahan akan masuk ke dalam hati.
Hati yang terlalu sering melihat kemaksiatan akan kehilangan kepekaan. Dosa akhirnya terasa biasa, yang haram dianggap hiburan, yang maksiat dianggap tren. Karena itu jangan biarkan media sosial merampas kebersihan hati kita.
Kedua: Menjaga Lisan dan Jari dari Dosa Digital
Hari ini manusia bukan hanya berbicara dengan lisan, tetapi juga dengan tulisan. Bahkan terkadang tulisan lebih tajam daripada ucapan. Betapa banyak permusuhan lahir dari komentar. Betapa banyak fitnah menyebar hanya karena tombol “share”. Dan betapa banyak manusia terjatuh dalam dosa hanya karena merasa semua yang ada di media sosial boleh dikomentari.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hari ini, “diam” juga berarti tidak perlu menulis semua yang ada di pikiran kita. Terkadang yang paling menunjukkan kedewasaan iman bukanlah cepatnya berkomentar, tetapi mampu menahan diri untuk tidak ikut memperkeruh keadaan.
Ketiga: Jangan Membandingkan Hidup dengan Orang Lain
Salah satu penyakit media sosial hari ini adalah manusia terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain sampai lupa mensyukuri hidupnya sendiri.
Melihat orang lain liburan, kita iri.
Melihat orang lain sukses, kita gelisah.
Melihat kebahagiaan orang lain, kita merasa hidup kita gagal.
Padahal media sosial seringnya hanya menampilkan bagian terbaik kehidupan seseorang, bukan seluruh kenyataannya.
Allah berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ
“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka.” (QS. Thaha: 131)
Iman akan lemah ketika hati dipenuhi iri dan tidak pandai bersyukur. Karena itu, berhentilah terlalu sering membandingkan hidup. Sebab ketenangan bukan lahir dari banyaknya yang kita miliki, tetapi dari pandainya hati bersyukur.
Keempat: Gunakan Media Sosial Sebagai Jalan Dakwah dan Kebaikan
Jika media sosial bisa menjadi jalan dosa, maka jadikan pula ia sebagai jalan pahala. Menyebarkan ilmu, Membagikan nasihat baik, dan menuliskan kalimat yang menenangkan hati orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَىٰ خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)
Mungkin kita tidak mampu berdakwah di mimbar. Tetapi hari ini, Allah memberi kita kesempatan berdakwah melalui tulisan, status, dan unggahan kita.
Jangan sampai media sosial kita lebih banyak berisi hiburan daripada kebaikan. Jangan sampai jari kita lebih sering menyebar dosa daripada pahala.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Iman di zaman media sosial memang sedang diuji. Karena itu jangan hanya menjaga kuota internet kita, tetapi jagalah juga kuota pahala kita.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita jadikan media sosial bukan tempat hilangnya iman, tetapi tempat bertumbuhnya kebaikan. Jangan biarkan hati kita rusak karena terlalu banyak melihat yang tidak perlu, terlalu banyak berkomentar yang tidak bermanfaat, dan terlalu sibuk membandingkan hidup dengan orang lain.
Ingatlah, apa yang kita tulis akan dicatat. Apa yang kita sebarkan akan dimintai pertanggungjawaban.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا وَأَبْصَارَنَا وَقُلُوبَنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ سَبَبًا لِهُدَانَا وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا لِضَلَالِنَا.
اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ غَيْرَ ضَالِّينَ وَلَا مُضِلِّينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

