Khutbah Jum’at: Bulan Safar Bukan Bulan Sial

Suara Muhammadiyah

23 July 2026

166
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Khutbah Jum’at: Bulan Safar Bukan Bulan Sial

Oleh: Muhammad DN, S.Ag, MHI, Ketua PDM Hulu Sungai Tengah-Kalimantan Selatan

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمُنْعِمِ عَلَى مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّبَعَ رِضَاهُ،

 أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَخْشَ إِلَّا اللهَ،

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ وَاصْطَفَاهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

أمَّا بَعْدُ، فَيَاعِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ 

 أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ 

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ 

يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ

ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

 وَقَٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ كَآفَّةٗ كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ كَآفَّةٗۚ

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah!

Pada kesempatan yang mulia ini marilah kita berusaha meningkatkan  keimanan  dan ketakwaan  kepada Allah SWT. dengan cara menjalankan maksimal perintah-Nya dan mengupayakan menjauhi  larangan-Nya.

Shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad saw, beserta keluarga,  para sahabat hingga umatnya  sampai akhir zaman.

Hadirin yang dimuliakan oleh Allah swt!

Kita sudah  memasuki bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah. Di bulan ini,  tak jarang di tengah masyarakat kita masih beredar keyakinan dan mitos terkait bulan Safar. Ada anggapan bahwa bulan ini adalah bulan kesialan, bulan turunnya musibah, atau bahkan bulan yang perlu dihindari untuk melakukan hal-hal penting.

Keyakinan semacam ini sejatinya merupakan warisan dari tradisi Arab Jahiliah di masa lampau. Mereka menghubungkan berbagai kejadian buruk dengan bulan Safar, hingga menganggapnya sebagai bulan yang penuh kesialan. Namun, sebagai muslim, kita wajib meluruskan pandangan ini dengan berlandaskan pada ajaran Islam yang murni.

Islam tidak mengenal hari, bulan, atau tahun sial. Sebagaimana seluruh keberadaan di alam raya ini, waktu adalah makhluk Allah. Waktu tidak bisa berdiri sendiri. Ia berada dalam kekuasaan dan kendali penuh Rabb-nya. Setiap umat Islam wajib berkeyakinan bahwa pengaruh baik maupun buruk tidak ada tanpa seizin Allah. Seperti bulan-bulan lainnya, bulan Safar pun netral dari kesialan atau ketentuan nasib buruk. Jika pun ada kejadian buruk di dalamnya, maka itu semata-mata karena faktor lain, bukan karena bulan Safar itu sendiri.

Rasulullah Saw, junjungan kita,  dengan tegas membantah kepercayaan takhayul semacam itu. Beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya:

"Tidak ada penyakit menular, tidak ada kesialan, tidak ada pengaruh buruk dari burung hantu, dan tidak ada kesialan bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa dalam pandangan Islam, tidak ada bulan yang membawa kesialan, termasuk bulan Safar. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, baik kebaikan maupun musibah, semuanya adalah atas izin dan kehendak Allah SWT. Tidak ada satu pun makhluk atau waktu yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan kebaikan atau keburukan tanpa campur tangan Allah.

Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan Surat at-Taubah ayat 36—yang dibacakan khatib di awal khutbah tadi, yakni membicarakan tentang bilangan bulan dalam satu tahun--bahwa istilah nama shafar itu berkaitan dengan aktivitas masyarakat Arab terdahulu. Shafar berarti kosong. Penamaan ini karena di bulan tersebut masyarakat kala itu berbondong-bondong keluar mengosongkan daerahnya, baik untuk berperang ataupun menjadi musafir.

Rasulullah juga menampik anggapan negatif masyarakat jahiliah tentang bulan Safar dengan sejumlah praktik positif. Habib Abu Bakar al-‘Adni dalam Mandhûmah Syarh al-Atsar fî Mâ Warada ‘an Syahri Shafar memaparkan bahwa beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi terjadi pada bulan Safar. Diantaranya, pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah dan menikahkan putrinya Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib.  Ini artinya, Rasulullah membantah keyakinan masyarakat jahiliah bukan hanya dengan argumentasi tapi juga pembuktian bagi diri beliau sendiri. Dengan melaksanakan hal-hal sakral dan penting di bulan Safar, Nabi seolah berpesan bahwa bulan Safar tidak berbeda dari bulan-bulan lainnya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Karena itu, setiap pekerjaan sangat dianjurkan untuk direncanakan dengan matang dan diikhtiarkan dengan tawakal, karena hasil akhirnya ada di tangan Allah. Selebihnya adalah doa dan kepasrahan total kepada Allah. Misalnya, untuk terbebas dari penyakit, terdapat perintah untuk menjalankan pola hidup sehat. Agar selamat dari bangkrut, pedagang disarankan untuk membuat perhitungan yang teliti dan hati-hati. Agar lulus ujian, pelajar mesti melewati belajar secara serius.

Sebagai hamba, manusia didorong untuk berencana, berjuang, dan berdoa. Sementara ketentuan hasil dipasrahkan kepada Allah. Dengan demikian, saat menuai hasil, kita tetap bersyukur dan tatkala mengalami kegagalan, kita tidak lantas putus asa. Kemadharatan dan kesialan dapat menimpa kita kapan saja, tidak mesti pada bulan-bulan tertentu. Dari sinilah kita diharapkan untuk selalu menjaga diri, melakukan usaha-usaha pencegahan, termasuk dengan doa memohon perlindungan kepada Allah setiap hari.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah!

Keberuntungan sejati adalah ketika seorang hamba mengisi waktunya, kapan saja dan di mana saja, untuk sedapat mungkin menjalankan ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, kerugian terjadi adalah saat seseorang menyia-nyiakan waktunya, termasuk ketika di bulan-bulan mulia sekalipun.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memperkuat tawakal kita kepada Allah. Iman kita haruslah kokoh, termasuk dalam hal meyakini  bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya. Jangan biarkan keyakinan-keyakinan tak berdasar merusak akidah kita dan mengikis kepercayaan kita kepada takdir Allah.
Semoga kita semua menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa dikaruniai kekuatan untuk menghormati waktu yang Allah berikan kepada kita, agar dapat digunakan untuk perbuatan dan pikiran yang bermanfaat serta membawa maslahat, baik di dunia maupun di akhirat. Âmîn Yâ Rabbal ‘Âlamîn. Akhirnya marilah kita simak firman Allah swt sebagai berikut:

وَاِنْ يَمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَه اِلَّا هُوَ ۗوَاِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 "Dan jika Allah menimpakan suatu kemudaratkan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia sendiri. Dan jika Dia menimpakan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-An'am: 17)

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةٍ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ

وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ

إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


Khutbah Kedua

ٱلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

ٱللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

ٱللّٰهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ.

ٱللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلتُّقَىٰ وَٱلْعَفَافَ وَٱلْغِنَىٰ.

ٱللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا ٱلَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا ٱلَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا ٱلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

ٱللّٰهُمَّ ٱجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ ٱلصَّالِحِينَ، وَٱجْعَلْنَا مِنَ ٱلَّذِينَ يُحَافِظُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُفْسِدُونَ فِيهَا.

ٱللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا ٱلْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَٱحْفَظْ بِلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَبَلَاءٍ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Khutbah

Khutbah Jum'at: 4 Cara Menjaga Iman di Zaman Media Sosial Penulis: Furqan Mawardi, Dosen Unive....

Suara Muhammadiyah

5 May 2026

Khutbah

Oleh: Jindar Wahyudi أَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الْحَقُّ الْ....

Suara Muhammadiyah

23 November 2023

Khutbah

Oleh: Lulus Bektiyono, Kader Muhammadiyah PCM Bukit Duri  اَلْـحَمْدُ لِلَّه�....

Suara Muhammadiyah

3 July 2025

Khutbah

Oleh: Siti 'Aisyah, Ketua Pimpinan Pusat 'Aisyiyah الْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ �....

Suara Muhammadiyah

7 August 2025

Khutbah

Islam dan Peran Perempuan Oleh: Muhammad DN, S.Ag, MHI, Ketua PDM Hulu Sungai Tengah, Kalsel ....

Suara Muhammadiyah

23 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah