Khutbah Jum'at: Mencari Rezeki Yang Halal
Oleh: Djumroni, MPd, Anggota LPHU PDM Sleman
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Shalat Jumat yang berbahagia
Mencari rezeki bagi setiap muslim yang mampu bekerja merupakan suatu kewajiban. Dengan bekerja dan berusaha secara halal, seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, menafkahi keluarga, membantu sesama, serta meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah Swt. Bahkan dengan rezeki yang halal seseorang dapat menunaikan berbagai ibadah yang membutuhkan kemampuan materi, seperti zakat, infak, sedekah, dan ibadah haji.
Islam mengajarkan bahwa harta yang diperoleh manusia pada hakikatnya adalah amanah dari Allah Swt. Karena itu, harta harus dicari, dikelola, dan dimanfaatkan sesuai dengan tuntunan syariat.
Allah Swt. berfirman:
آمِنُوا بِاللّٰهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِ ۖ فَالَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيْرٌ
"Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu sebagai penguasanya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan hartanya memperoleh pahala yang besar." (QS. Al-Hadid: 7)
Jamaah yang berbahagia,
Selain sebagai amanah, harta juga merupakan ujian dari Allah Swt. Allah berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيْمٌ
"Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah terdapat pahala yang besar." (QS. Al-Anfal: 28)
Kelak di akhirat manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas hartanya: dari mana ia memperolehnya dan ke mana ia membelanjakannya. Oleh sebab itu, seorang muslim harus memiliki sikap yang benar terhadap harta. Harta hanyalah sarana kehidupan dan bekal untuk beribadah kepada Allah Swt.
Jangan sampai seseorang memperoleh rezeki melalui jalan yang batil, sebab mencari rezeki yang halal merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam bekerja dan mencari rezeki, jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lalai mengingat Allah Swt. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Munafiqun: 9)
Karena itu, rezeki harus dicari melalui jalan yang diridhai Allah, di antaranya dengan menjauhi riba.
Allah Swt. berfirman:
وَأَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (QS. Al-Baqarah: 275)
Selain riba, Islam juga melarang perjudian dan segala bentuk usaha yang mengandung unsur spekulasi, penipuan, dan kemudaratan.
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah: 90)
Demikian pula Islam melarang segala bentuk kecurangan dalam perdagangan dan muamalah.
Allah Swt. berfirman:
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَ الَّذِيْنَ إِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَ وَإِذَا كَالُوْهُمْ أَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَ
"Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu mereka yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta dipenuhi, tetapi apabila menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi." (QS. Al-Muthaffifin: 1–3)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Banyak orang terjerumus dalam mencari rezeki yang haram karena lemahnya iman dan kuatnya dorongan hawa nafsu. Ada tiga faktor yang sering menyebabkan manusia melakukan penyimpangan.
Pertama, al-wahn, yaitu lemahnya jiwa dan keimanan sehingga mudah tergoda melakukan perbuatan yang dilarang Allah.
Kedua, ḥubbud-dunyā, yaitu cinta dunia secara berlebihan sehingga seluruh hidupnya hanya berorientasi pada kenikmatan dunia dan melupakan kehidupan akhirat.
Ketiga, karāhiyatul-maut, yaitu takut menghadapi kematian karena merasa terlalu nyaman dengan kehidupan dunia dan belum siap mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah Swt.
Semoga Allah menjaga kita dari sifat-sifat tersebut dan membimbing kita untuk selalu mencari rezeki yang halal dan penuh keberkahan.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah yang berbahagia,
Marilah kita jadikan keluarga kita sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah, wa raḥmah melalui rezeki yang halal, pendidikan yang baik, serta ibadah yang istiqamah.
Mudah-mudahan Allah Swt. senantiasa melimpahkan keberkahan dalam kehidupan kita, menjauhkan kita dari harta yang haram, dan mengaruniakan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا مُبَارَكًا فِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ رِزْقٍ حَرَامٍ وَمِنْ كُلِّ مَا يُبَاعِدُنَا عَنْ رِضَاكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Sumber: Majalah SM Edisi 12/2026

